Travel
2

Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.

ArtiSeribuPerak
Travel

Arti Seribu Perak

Saya percaya, sebagai pengunjung, kita bukan ingin mendapat harga terendah, tapi harga terbaik, baik untuk pedagang dan kita sebagai pembeli. Sayangnya, kita lebih sering tidak tahu hingga secara tak sadar, harga terendah adalah harga terbaik.

Di Kampung Boti
Thoughts
50

Negeri ini Punya Siapa?

Tapi, seperti sering saya membatin, kenapa di tempat-tempat seperti ini saya malah merasa seperti tamu – bahkan tamu tak diundang – di negeri sendiri?

Travel
6

Jalan-Jalan Sepelemparan Batu

Apa sih yang kita cari ketika traveling? Pengalaman baru? Teman baru? Atau tempat baru? Saya bilang, kalau bisa dapat ketiganya pasti seru. Seperti apa yang saya dapat ketika menyusuri Kota Tua Jakarta.

Travel
1

Have fun. Be responsible.

Matahari belum nampak di timur langit pantai Ciantir. Dengan mata terpicing, saya berjuang menangkap sosok-sosok berbadan tegap yang tengah memasang mesin kapal motor dengan kamera saya. Sialnya, alih-alih siluet nelayan-nelayan itu, setumpuk sampah, tak jauh dari tenda, yang malah tertangkap fokus lensa. Menggosok mata, saya tak percaya: benarkah ini Sawarna, surga tropis di selatan Banten yang katanya masih perawan itu?

Travel
4

Mari Mudik, Mari Traveling

Mungkin sebaiknya mudik dikembalikan pada esensinya. Bukan cuma perekat tali kekeluargaan, tapi juga sebagai sebuah perjalanan. Dan seperti Bapak Richard Demu bilang, perjalanan adalah kesempatan agar kita bisa lebih menghargai.

Travel
14

Travelling makes you a better communicator? Negotiator? Or simply a better you?

Seorang teman menanyakan tips agar dapat sambutan yang hangat ketika bertemu, ngobrol dan berinteraksi langsung dengan penduduk. Saya butuh satu hari untuk menjawab. Faktanya, saya tidak punya tips yang ia maksud, apalagi kalau maksudnya sampai bisa menginap di rumah penduduk.

Setelah mengulang rekaman memori perjalanan saya selama di NTT, akhirnya saya bisa menyimpulkan sebuah jawaban untuk pertanyaan teman baru saya itu.

Senyum. Sapa. Sopan. Mungkin itu jawabannya. Terbukti, selama di NTT, saya lebih kuatir naik kendaraan apa dibandingkan menginap di mana, bermodal tiga kata tadi.

Itulah sebabnya, setiap kali bertemu orang baru, saya percaya, orang ini adalah teman yang bisa jadi menoreh kebaikan dalam lembar perjalanan saya. Dan untuk setiap orang yang baik, senyuman tulus, sapaan hangat dan tingkah laku sopan rasanya tidak pernah terlalu mahal untuk diberikan.