Bulan lalu saya dapat kabar dari seorang kenalan. Di usianya yang sudah tidak muda, ia memutuskan kembali bekerja di kantor.

Beberapa orang yang saya kenal bercita-cita ingin melihat lebih banyak dunia saat masuk usia senja
Beberapa orang yang saya kenal bercita-cita ingin melihat lebih banyak dunia saat masuk usia senja

Saya mengapresiasi semangatnya untuk tetap produktif, bahkan ketika semua anaknya sudah masuk usia mandiri. Tapi dengarlah alasannya.

“Saya sudah terlanjur banyak tanggungan di komunitas keagamaan,” ujarnya setengah berbisik.

Ia lanjut menyebutkan sejumlah anak binaan rumah ibadah, keluarga pra-sejahtera, hingga warga senior yang terlanjur jadi bagian dari tanggungan dan pengeluaran rutinnya.

Kalau ia ikhlas mengerjakan semuanya, kenapa curhat ke saya?

Selamat datang (lagi) di topik nice dan kind

Beberapa kali ia menyampaikan berbuat baik itu hukumnya wajib. Lalu kenapa ada keterpaksaan dalam suaranya?

“Saya mau menikmati masa tua. Tapi, kebutuhan bukan semakin berkurang, malah bertambah,” jelasnya.

“Siapa yang memilih menanggung biaya semua orang di luar diri dan pasangan kamu?” tanya saya.

Ia menunjuk dirinya dengan enggan. “Tapi?” saya bantu ia mengeluarkan perasaannya.

“Kayaknya ini bukan pilihan. Tapi kewajiban,” ia terdengar makin tidak percaya dengan ucapannya sendiri.

Jangan datang ke saya untuk cari pembenaran

Di tengah berjamurnya toxic positivity, saya justru tidak dikenal sebagai orang yang bilang, “Semua akan baik-baik saja.”

Saya memilih melihat realitas, bahkan ketika sangat kelam. Saya mendorong kesadaran dan tanggung jawab pada pilihan dan konsekuensi atas pilihan.

Saya masih ada di dunia, salah satunya, untuk mengingatkan orang akan pesan alm. bapak saya: “Bertanggung jawab pada diri sendiri, sebelum berbuat baik ke orang lain.”

Untuk membantu orang lain mencari kebenaran mereka, bukan memberikan pembenaran.

Tapi, itulah nampaknya kenapa ada saja orang yang datang ke saya. Termasuk kenalan satu ini.

Pada akhirnya, semua adalah pilihan

“Saya tidak percaya agama menuntut umatnya sengsara demi orang lain,” saya berargumen. “Tapi saya percaya, one can be a hero to many and an enemy to oneself.”

Kok bisa? Karena nafsu berbuat baik, nafsu mendapat pahala, dan nafsu masuk surga tetaplah nafsu. Semua nafsu seperti noda. Ditempelkan ke benda paling suci pun akan menodai.

“Jadi, tanyakan ke dirimu sendiri. Jika pertanggung jawaban atas diri sendiri tidak lebih penting dibanding menjadi pahlawan – atau seperti orang bilang, berbuat baik – ke orang lain, kamu perlu sadar kalau memenuhi apalagi memuaskan orang lain itu pekerjaan yang nggak ada batasnya,” argumen saya.

Saya tidak terkejut ketika kenalan ini, seperti beberapa orang yang datang sebelumnya, memilih terus berbuat baik ke orang lain.

Pilihannya bukanlah masalahnya. Tapi keengganan menerima dan menyiapkan diri menghadapi konsekuensi atas pilihan yang diambil, itulah masalah sebenarnya.

Bukan pembiaran, tapi pendewasaan

Sebelum terlanjur berargumen lebih jauh, sebuah suara familiar membisik, “Endro, jangan bernafsu jadi pahlawan buat orang di depanmu!”

Saya kembali tersadar, saya perlu berasumsi kalau orang di depan saya adalah manusia dewasa yang mampu membuat, mengambil dan bertanggung jawab atas pilihannya. 

Demi menghindari jebakan menjadi pahlawan bagi kenalan ini, saya mengakhiri obrolan dengan apresiasi, “Semoga kamu bisa terus istiqomah dengan pilihan yang sudah kamu ambil dengan sadar.”