Entah sejak kapan saya mempertanyakan konsep surga dan neraka. Mempertanyakan, bukan mengingkari atau mempercayai.

Sayangnya, dalam pencarian, saya terus melihat “ke atas”. Ke deskripsi di kitab suci, ke masa depan, bahkan ke langit. Surga dan neraka jadi tempat yang jauh, tak kasat mata dan sulit dicerna logika.

Hingga lima tahun lalu.

Saya mulai lelah mencari. Dan itu mungkin terlihat di muka saya saat bertemu ibu Marco.

“Mas rasa apa sekarang?” tanyanya.

“Nggak tenang, bu” jawab saya cepat.

Dia kemudian membimbing saya mendeskripsikan, seperti apa suasana hati kebalikannya: tenang.

“Kadang kita terlalu sibuk mencari surga sampai lupa dengan dunia,” ujarnya.

Sebagai seorang beragama, ia sadar ucapannya mungkin tidak populer. Tapi itulah yang ia lihat bahkan alami sendiri.

Saat obrolan makan bersama orang-orang terdekat seputar topik yang tidak familiar dan akhirnya berujung pada debat atas dasar imajinasi.

Saat kesenyapan membungkus waktu berjam-jam membaca buku bersama orang terdekat ditemani suara ritmis rintik hujan.

Saat komentar tajam netizen dibiarkan masuk ke dalam perasaan paling mendalam dan mewarnai mood berhari-hari ke depan.

Atau saat orang terkasih membersihkan lelehan es krim di pipi lengkap dengan senyum tulusnya.

Ternyata, neraka dan surga itu dekat. Nyata. Tapi, yang menakutkan, kita sendiri yang buat.

“Surga dan neraka itu nyata, tapi jadi asing buat mereka yang lupa menghidupi hidup,” begitu kira-kira ibu Marco menutup obrolan malam kami.

Hari ini, saya diingatkan lagi.

Jangan dicari, tapi dibuat. Jangan dibuat, tapi dimaknai. Jangan dimaknai, tapi dialami. Jangan dialami sendiri, tapi dialami bersama.

Mungkin itu surga.