Alam semesta senantiasa mengirim sinyal – kadang sebegitu sumirnya – berisi petunjuk.

Perpisahan. Sakit. Kehilangan. Dll.

Seminggu terakhir, saya belajar untuk membaca sinyal-sinyal itu. Ternyata, menurut pengalaman saya setidaknya, sinyal-sinyal itu datang tidak dalam satu paket besar yang mudah dibaca, melainkan dalam beberapa paket di waktu dan bentuk berbeda.

Makanan enak yang mulai terasa hambar. Kesakitan di tengah malam. Seorang asing dengan celotehan terlampau jujur. Bahkan pujian klien yang justru mendorong pertanyaan, “Apa lagi setelah ini?”

Kesemuanya menjadi sinyal yang menyiratkan, relevan dengan yang ibu Marco pernah sampaikan, hidup kita selesai ketika kita merasa dan berperilaku selesai.

Tapi, apakah hidup saya (akan) selesai seperti yang semesta inginkan?

Dan hadirlah konsep rehat. Bukan sekedar pergi menyepi seminggu di tepi pantai atau traveling sebulan di destinasi tak populer. Tapi rehat dari diri sendiri.

Berpuluh tahun menjadi seperti hari ini, pertanyaan yang menggelitik, “Apakah saya yang saat ini adalah hasil dari respon atas kondisi lingkungan atau saya yang keputusannya dipercayakan oleh semesta ke saya?”

Sulit memilih ketika masih berada di salah satu pilihan. Dan dari situlah lahir konsep sangat awal – v 1.0.0 – dari “rehat sejenak sebelum rehat selamanya.”

Kematian adalah rehat selamanya

Entah apa yang terjadi setelah kematian, yang saya tahu, kuasa manusia atas hidup – dan menghidupinya – ya hanya saat ia hidup. Sebelum mati. Sebelum rehat selamanya.

Sebelum waktu untuk rehat selamanya, saya ingin rehat sejenak melihat diri sendiri dan, manakala masih ada waktu, mengembalikan jalan sang hidup ke seperti yang semesta inginkan. Bukan berarti lebih mulia, lebih berharga bahkan lebih baik; cukup seperti yang semesta inginkan.