“Clouds that move across the sky are changing forms before our very eyes,” Jose Marichan

Ngobrol dengan beberapa hotelier yang baru saja dirumahkan gegara pandemi, kami terbawa ke topik kehilangan.

“Kehilangan berarti kita sudah nggak punya apa yang selama ini kita miliki,” kata satu orang.

“Yang ada jadi nggak ada,” kata yang lain.

Berbagai definisi terus mengalir. Padahal yang saya tanyakan ke mereka, “Apa rasanya saat kehilangan pekerjaan?”

Saat menyeruput kopi di Ippolito, saya bertemu seorang kenalan baru, warga Jakarta yang sudah lima tahun jadi manajer sebuah hotel di Bali. Setelah profeasi saya, ia minta saya ngobrol dengan beberapa pekerjanya yang baru saja dirumahkan. Bukan tugas mudah buat saya, apalagi buat ketujuh pekerjanya.

Saking beratnya, para pekerja ini terlihat enggan bahkan malu menyampaikan perasaan mereka; bersembunyi di balik berbagai definisi.

“Siapa yang ngejamin pekerjaan sebagai Room Service, Front Office bahkan bekerja di hotel ini akan terus ada?” tanya saya.

Ketujuh orang di depan saya menggeleng lemah, sembari menoleh ke satu sama lain. Setelah tiga puluh menit penuh curhatan, mereka akhirnya tahu apa yang akan dilakukan dengan uang pesangon dari perusahaan.

Buka usaha di kampung. Menyelesaikan sekolah. Ada juga yang memutuskan menunggu pandemi berlalu.

Kenalan saya menyampaikan apresiasinya ke saya yang telah sukarela memimpin dialog topik sulit ini dengan pekerjanya. Saya pun senang nggak perlu berbusa-busa menjelaskan apa peran fasilitator.

“Kamu sendiri kapan bakal kehilangan pekerjaan yang sekarang?” tanya saya. Ia kaget, tapi cepat kembali ke pembawaan tenangnya.

“Sejak pandemi satu tahun lalu, saya makin sadar kalau pekerjaan saya adalah yang saya lakukan saat ini, hari ini,” jawabnya.

Sejak itu juga ia mulai mengantisipasi pekerjaannya hilang bulan depan. Ia mulai berhemat, menekuni kembali hobinya di akhir pekan dan, yang paling penting, membuka silaturahmi dengan teman-temannya yang sudah duluan jadi pengusaha.

“Mungkin terdengar sombong kalau saya bilang ‘saya menantikan dirumahkan.’ Tapi menang begitu kenyataannya. Sejak setahun lalu, saya udah menantikan saat naik kelas,” lanjutnya.

Bulan depan hotel tempat ia bekerja akan berhenti beroperasi, setelah satu tahun sibuk efisiensi sana-sini. Berbeda dengan teman-temannya yang masih belum terima kehilangn pekerjaan, dengarlah jawaban kenalan baru saya ini.

“Kehilangan itu cara semesta mengajari kita betapa berharganya waktu.”

“Seperti mas bilang tadi, nggak ada yang menjanjikan pekerjaan hari ini akan ada selamanya. Jadi, alih-alih merutuki nasib, lebih baik menyeimbangkan keluhan dengan kerja lebih giat, berusaha menghidupi aja bahkan saat menghadapi pekerja yang bandel,” jelasnya.

Mungkin gggak banyak yang akan terima kalimat klisenya, paling-paling cibiran yang ia terima. Tapi, cara ia merespon dunianya adalah haknya. Buat saya, bertemu kenalan baru seperti dia yang saya tidak yakin akan ketemu lagi setelah ini, adalah pengingat bahwa obrolan ini lah yang bikin saya terus traveling.

“Lebih baik klise daripada ngomel-ngomel, mas” ia cengengesan, sebelum kami berpisah.