Yang mengharukan adalah sepanjang perjalanan saya bertemu orang-orang yang baru saya temui – berbagi meja di kafe, teman satu kendaraan, atau di aplikasi online – dan obrolan serta pengalaman kami bisa sangat mendalam.

Kami bisa lega mengungkap hasrat paling sensual, mimpi terburuk hingga sumpah serapah yang selama ini terpendam di pojok hati paling dalam.

Pengalaman ini. Di sini. Saat ini.

Kami asyik masak bersama, nongkrong menunggu matahari terbenam, hingga mengikuti nafsu manusiawi dengan sepenuh hati.

Mungkin karena sesama pejalan, kami punya perasaan yang sama: saat ini pun akan berlalu. Jadi, saat ini adalah waktu terbaik dan satu-satu nya untuk mengenal orang di depan saya.

“This, too, shall pass.”

Apa yang kita alami dengan keluarga, pasangan dan teman di rumah? Jarang? Hampir tidak pernah? Ya mungkin itulah kenapa banyak hubungan membawa bahkan berakhir kekecewaan.

Bukan karena apa yang sudah kita alami bersama, tapi apa yang belum sempat dialami bersama karena terlalu sibuk menjaga rasa.

Bukan karena seberapa lama kita telah melewatinya, tapi apakah kita selalu bisa menjadi diri sendiri di depan mereka.

Bukan seberapa banyak cita-cita dan rencana tapi bagaimana kita mengingat bahwa waktu terlalu berkuasa untuk bersit-bersit pikiran, “nanti saja.”

Untuk semua keluarga, pasangan dan teman-teman saya, kalau waktu kita tidak mencukupi untuk bertemu kembali, jangan menyesali yang belum kita alami bersama.

Mungkin ini cara semesta mengajari kita betapa berharganya waktu.

Dan hadiah terbaik kita untuk orang-orang yang kita sayangi adalah waktu, hadir dengan penuh dan menjadi diri sendiri saat bersama mereka.

Semoga saya sempat memberi hadiah di atas untuk kamu yang membaca tulisan ini.