Kemiskinan bisa bikin orang yang melihatnya iba. Padahal, jika melihat kemiskinan sebagai potensi, niscaya iba berubah jadi lebih positif. Apalagi jika yang dianggap miskin sebenarnya tidak merasa miskin, tapi belum maju.

Pasangan Ibu Dina Oetemussu-Nahak dan Bapak Emanuel Nahak, suami istri pengusaha tenun dari desa Teun Baun, Amarasi, Kabupaten Kupang yang menginspirasi penenun lain

Matahari tidak kuasa menembus lebatnya pepohonan yang melingkupi kampung Takpala, Alor Barat Laut. Saking lebatnya pepohonan, yang terlihat dari muka kampung adalah Pantai Mali dan Pulau Sika yang indah di kejauhan. Selain pakaian yang dikenakan penduduknya, tak sedikitpun terlihat benda-benda modern di sekitar kampung ini.

Di salah satu rumah, saya menghabiskan siang saya bersama Bapak Martinus, salah seorang tokoh Kampung Takpala.

“Kalau ke sini, tidak usah cari siapa-siapa,” kata Pak Martinus Kafelkai. “Semua penduduk di sini senang kedatangan tamu dan diajak ngobrol.”

Ia mengomentari saya yang ketika datang mencari orang yang direkomendasikan oleh seorang teman.

“Termasuk bercerita tentang kampung ini?” tanya saya.

Bapak Martinus mengangguk. Walau tidak semua mengerti, tapi menurutnya orang yang paling pas diajak ngobrol adalah penduduk kampung.

“Orang lain cuma cerita budaya dan masa lalu saja. Kami juga ingin dengar dan belajar dari tamu yang datang,” lanjutnya.

Beberapa orang bilang Alor-Pantar mungkin termasuk jajaran pulau terakhir di NTT yang bersentuhan dengan dunia modern. Di kedua pulau ini saya masih melihat banyak aspek kehidupan masyarakat yang nampak ganjil – konon tetap sama dengan ratusan tahun lalu.

Tapi, walau dengan kemasan yang sangat sederhana, mereka sangat semangat agar bisa duduk sejajar dengan tamu seperti saya yang mereka anggap orang lebih modern dan beradab.

Pulau Alor sedikit lebih besar daripada Bali. Bentuknya cenderung memanjang. Daerah paling dekat dengan pembangunan ada di bagian barat, dengan Kalabahi – kota kabupaten – yang terletak jauh di dalam Teluk Kalabahi sebagai pusatnya.

Seorang teman pernah bilang, pergi ke Alor tidak cukup dua hari. Alor Barat mungkin bisa dikelilingi dalam dua hari, tapi Alor Timur sungguh menantang untuk dijelajahi dalam waktu sesempit itu. Ia juga bilang, Alor Timur jauh lebih “asli” dibandingkan bagian barat.

Saya memang tidak punya banyak waktu dan biaya ketika pergi ke Alor. Pergi pun hanya ke tempat yang direkomendasikan oleh beberapa website perjalanan. Berkunjung ke Kampung Takpala, Bang Palola dan Alor Kecil – tiga dari banyak desa tradisional yang direkomendasikan seorang kawan yang bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Alor – ternyata sudah sangat mengesankan dan membawa pelajaran hidup yang sangat dalam.

“Banyak orang bilang supaya berhati-hati pergi ke Alor. Katanya masih banyak suanggi (praktek perdukunan),” kata Bapak Martinus sambil senyum-senyum.

Memang, selama di NTT apalagi dalam ferry dari Kupang menuju Alor, saya sering mendengar cerita pulau ini, bersama dengan tetangganya, Pantar, sebagai salah satu pulau angker. Ah, kalau niatnya baik, masa sih mesti kawatir, pikir saya. Lagipula, jika memang bisa melihat bola api terbang di langit pasti bakal jadi pengalaman unik. “Kalau lihat bola api di atas kepala, itu orang yang sedang pergi,” kata seorang kakek misterius di atas ferry.

“Lupakan saja cerita-cerita itu. Kalaupun ada, sudah jarang. Kalaupun ada, tidak akan mengganggu tamu,” Bapak Martinus meyakinkan.

Ia malah bercerita tentang gempa yang sempat mengguncang Alor dan bikin beberapa rumah di Kampung Takpala roboh. Saya lihat sendiri, dari sekitar duapuluh rumah tradisional, tinggal beberapa saja yang masih berdiri dan berfungsi baik.

“Saya tidak mau menggantungkan diri dengan bantuan dari pemerintah saja,” kata Bapak Martinus. Ia menceritakan bantuan yang pernah diberikan tapi tidak cukup untuk membangun kembali rumah yang roboh.

Pernah juga ada turis dari Belanda yang memberikan bantuan uang. Uang itu tidak cukup untuk memperbaiki rumah yang roboh. Anehnya, ia malah membangun sebuah pondok kecil di ujung kanan kampung. Karena lama tidak dikunjungi akhirnya malah merusak penampilan kampung.

Ia mengeluhkan bantuan-bantuan yang banyak mereka terima hanya sementara. Ia tidak menolak, tapi menurutnya bikin saudara-saudaranya penduduk Kampung Takpala jadi tergantung dengan bantuan. Kadang bantuan itu malah dipergunakan untuk keperluan konsumtif.

Ketika ia minta bantuan untuk menghijaukan kembali Bukit Takpala yang menaungi kampungnya, permohonannya berbuah olok-olok. “Orang Alor dari dulunya memang merambah hutan,” ia mengucapkan kembali komentar yang ia terima. “Padahal, Mas, bukit di atas itu kalau longsor, yang celaka ya kami juga,” keluhnya.

Dalam obrolan singkat kami, saya sempat menceritakan pengelolaan desa wisata di Kampung Wae Rebo. Pria beranak empat ini sangat tertarik dan menurutnya konsep itu bisa dijalankan di Takpala. Sebelum saya pulang, ia sendiri yang berjanji untuk membincangkan kemungkinan yang sama, termasuk untuk mendanai penghijauan Bukit Takpala.

“Dengan atau tanpa bantuan pemerintah saya akan tetap berusaha menghijaukan bukit di atas kampung Takpala,” janji Bapak Martinus menutup pembicaraan kami sore itu. Matanya berbinar-binar. Senyumnya mengembang lebar. Erat ia menjabat tangan saya. Semangatnya menjalar melalu jabat tangan kami.

Berjalan menyusuri anak tangga batu keluar dari kampung Takpala, saya sempat merinding. Saya malu karena secara tidak langsung “disentil” oleh semangat Bapak Martinus di tengah segala keterbatasannya.

Belum sampai anak tangga terakhir, Bapak Martinus memanggil. “Mas, tidak ingin menginap dan makan bersama kami? Biar besok pagi kita bisa ke atas bukit,” katanya setengah berteriak.

Saya terhenyak. Bukan karena ajakan itu. Tapi karena betapa polos, terbuka dan bersemangat pria ini. Di belakangnya, istri, anak-anak dan saudara-saudaranya warga Kampung Takpala memandang ke saya dengan sejuta senyuman. Nampak mengharap. Berat hati saya untuk menolak.

“Saya janji akan datang lagi Bapak. Tapi lain kali saya datang saya tidak akan mencari siapa-siapa. Saya akan langsung pulang ke rumah,” jawab saya.