Banyak penelitian menyoroti Nusa Tenggara Timur. Ketertutupan provinsi ini malah menambah keingintahuan banyak orang untuk mengenal, menggali dan mendokumentasikannya. Sayangnya, banyak orang NTT yang tak tahu bagaimana ‘rumah’ mereka diteliti dan didokumentasikan. Lebih parah lagi, sedikit saja yang dapat keuntungan dari dokumentasi dan publikasi ini.

Kisah Sipi dan Adole membunuh ibunya, asal muasal padi, di Museum Blikon Blewut, LedaLero, Kab Sikka

Angin malam yang dingin dari Pegunungan Lakaan, Belu sungguh cocok dihangatkan dengan sepiring pisang goreng dan segelas kopi hasil kebun sendiri. Dari teras rumahnya, Bapak Ernestus Cyrilus Koli, Kepala Desa Diroen, mengajak saya membangkitkan kenangan masa kecilnya besar di tempat yang sama yang menurutnya tak terlalu banyak berubah bahkan setelah puluhan tahun.

Walau teronggok di tengah-tengah pegunungan yang sulit dijangkau, Desa Diroen dan beberapa desa di Kecamatan Lamaknen ini ternyata pernah kerap dikunjungi peneliti-peneliti dari luar negeri. Tanpa transportasi memadai, mereka menembus keterisolasian tempat ini, berlomba menjadi yang pertama untuk meneliti Bahasa Buna, salah satu bahasa paling sulit dipelajari di Nusa Tenggara Timur.

Bapak Tody – panggilan Bapak Kepala Desa – menunjukkan dua buah buku hasil penelitian yang ia maksud. Sayangnya, kedua buku usang tadi ditulis dalam bahasa ibu masing-masing peneliti, Swedia dan Jepang.

Nggak ada satu orang pun di (desa) sini yang ngerti buku ini,” keluhnya. “Lebih parah lagi, (sekarang) tidak ada yang ngerti penelitian ini tentang apa atau untuk apa,” lanjutnya.

Kejadian serupa saya alami langsung ketika berkunjung ke Kampung Bena di selatan Kota Bajawa, Kabupaten Ngada. Di sore berkabut yang sejuk dan sepi itu saya dan Bapak Philippus, tokoh adat Kampung Bena, sedang ngobrol santai di teras rumah bambunya. Di tengah pembicaraan, serombongan mahasiswa dari sebuah universitas terkenal di Bali datang bersama dengan pemandu mereka.

Pemandu yang nampaknya juga perantara ini ngobrol sebentar dengan Bapak Philippus. Saya sudah sedari tadi menyingkir, memandangi kesibukan dan keriuhan yang seketika menyelimuti kampung di kaki Gunung Inerie ini. Dari pojok teras rumah, saya sempat mendengar percakapan sekitar sepuluh mahasiswa S1 dari jurusan arsitektur itu dengan Bapak Philippus.

“Bapak, kami perlu listrik untuk pasang alat ini,” kata salah seorangnya. Ia memegang sebuah alat yang terlihat seperti barang dari masa depan di tempat seperti Kampung Bena ini. Menurutnya, alat itu akan mengukur suhu di dalam rumah tradisional Bena.

“Genset baru kami nyalakan jam enam sore,” kata Bapak Philippus.

“Bisa dinyalakan sekarang?” tanya mahasiswa itu sopan tapi serius.

Pemandu mereka menghampiri Bapak Philippus dan membisikkan sesuatu, nampaknya minta ijin. “Silakan. Bapak Philippus bilang tidak apa-apa,” katanya.

Suara genset di tengah hari yang masih terang nampaknya tidak biasa buat warga Bena. Ketika genset dinyalakan, beberapa orang penduduk menghampiri. Anak-anak menghentikan permainan mereka, mendekat ingin tahu ada apa.

“Bapak dan keluarga nanti tinggal di dalam rumah seperti biasa saja ya,” kata mahasiswa yang lain dengan suara lebih ramah. Terlihat kebingungan, Bapak Philippus mengangguk.

Tak lebih dari tiga jam kemudian, rombongan itu bergegas pulang. Sebuah amplop menyelisip di antara jabat tangan sang pemandu dengan Bapak Philippus. Saya tergelitik dengan pemandangan yang terekam otak sedari tadi. Pupus sudah niat melanjutkan permainan congklak bersama beberapa perempuan tua yang setengah memaksa saya mengunyah sirih karena kalah. Saya kembali mendekati pria ini.

“Penelitian seperti barusan sering, Pak?” tanya saya.

“Ya. Kadang sendiri, kadang rombongan,” jawab pria limapuluhtahunan ini. Ia tak merinci seberapa sering. Kesigapannya ‘melayani’ rombongan peneliti tadi mungkin menggambarkan betapa sering kampungnya dijadikan obyek penelitian.

“Tadi itu untuk apa penelitiannya?” tanya saya lagi.

Bapak Philippus mengangkat bahu. “Mereka ingin ukur suhu di dalam rumah saya. Itu saja yang saya tahu,” jawabnya.

“Mereka tidak bilang tujuannya apa, manfaatnya untuk Kampung Bena apa?” selidik saya.

Bapak Philippus menggeleng. Mukanya terlihat sedikit panik, tangannya mencari pegangan di tiang rumah. Selintas kemudian ia kembali tenang. “Bukan cuma yang tadi. (Peneliti) yang lain juga sama. Paling-paling mereka bilang untuk bikin buku,” katanya.

Setelah urusan kelar, tak banyak peneliti atau jurnalis yang melanjutkan komunikasi. Kalaupun ada, bisanya tak se-intens saat mereka berkunjung. Bapak Philippus memang tak pernah menuntut hasil dari kunjungan mereka. “Paling saya diberi foto,” katanya. “Ada juga buku tapi saya tidak ngerti, pakai bahasa Inggris.”

Seketika terbersit perasaan bersalah dalam hati. Setengah yakin saya bertanya, “Bapak sudah tahu kan tujuan saya ke sini?”

Bapak Philippus terlihat kaget. Walau tetap bertatap, matanya terlihat mencari-cari jawaban di muka saya. “Tadi Mas bilang ingin ngobrol-ngobrol dan kenal Kampung Bena, bukan?” tanyanya.

Deg. Ah, jangan-jangan saya tak beda jauh dengan rombongan peneliti tadi. “Benar. Tapi Bapak tidak ingin tahu nanti saya akan bikin apa?” tanya saya menyelidik.

“Oh, memang mau bikin apa?” ia mengulangi pertanyaan saya.

Saya terdiam. Sesungguhnya saya juga tak siap ditanya hal ini karena saya bukan jurnalis, fotografer atau peneliti. Saya hanya ingin datang, bertemu dan mengalami sendiri Kampung Bena. Itulah kenapa saya tak lebih dari ngobrol dengan hanya sedikit catatan yang saya simpan di buku dan handphone.

“Belum ada rencana bikin apa-apa Bapak. Saya hanya ingin bertemu dengan Bapak dan teman-teman di kampung Bena. Lagian saya kuatir kalau saya bilang ingin bikin ini itu, Bapak kasih tunjuk ini dan itu. Padahal saya cuma ingin lihat kehidupan sehari-hari Bapak dan teman-teman di sini,” jelas saya.

Di tempat lain, keadaan lebih baik. Bapak Raja Koroh di Desa Teun Baun, Kabupaten Kupang tahu benar apa yang ia dan warga desanya kerjakan dalam sebuah penelitian tentang kain dan motif tradisional dengan sebuah universitas dan galeri seni besar di Kota Darwin, Australia.

Ia menjelaskan dengan terstruktur tujuan penelitian itu. “Saya simpan kertas-kertas material alam hasil penelitian ini, termasuk buku kerja dan dokumentasinya. Saya juga minta beberapa buku publikasi penelitian ini untuk saya bagikan ke orang yang tepat,” katanya sambil menunjukkan ke saya sebuah buku bersampul cantik tentang kerajinan Amarasi dalam dua bahasa.

Sayangnya memang walau tujuannya jelas tersampaikan dan logis, keuntungan untuk warga Amarasi masih diperdebatkan. “Pastinya kami jadi lebih familiar dengan motif tradisional Amarasi,” kata Bapak Raja Koroh. Ia tiba-tiba terlihat agak ragu dengan jawabannya sendiri.

Saya mengerti dan tidak ingin memperpanjang obrolan kami. Mumpung masih hari pertama di Teun Baun, saya menjelaskan lagi tujuan saya datang. Nampaknya Bapak Raja Koroh mengerti.

Tidak ada keuntungan langsung yang mungkin dirasakan warga desa dari kedatangan saya ke Teun Baun, itu benar. Tapi saya berjanji untuk menceritakan dengan benar tentang apapun yang saya lihat, dengar dan alami di sana ke seluruh orang yang tertarik. Apapun bentuknya – tulisan, rekaman suara, foto – dan dalam format cetak atau dijital saya akan usahakan agar Bapak Raja – dan seluruh orang di NTT yang saya temui – jadi yang pertama menerimanya.