Pasar tak hanya untuk jual beli, tapi berinteraksi. Dari kebiasaan hingga ketidakbiasaan dapat muncul di tempat ini.

Mama penjual jagung titi di Pasar Inpres, Larantuka, Flores Timur

Bangun jam tujuh pagi di Pantai Nemberala tampak seperti sebuah dosa besar. Tempat ini sangat tidak cocok dengan bangun pagi, bekerja, tergesa-gesa dan seterusnya. Tapi, toh pagi itu saya tidak merasa terpaksa bangkit dari tempat tidur ketika Dean – surfer asal New Zealand – mengetuk pintu kamar saya. Kami sudah janjian akan pergi ke pasar mingguan di Nemberala. Sedari sore kami sudah bersemangat membicarakannya.

Dalam setiap perjalanan saya, tempat yang ada di urutan pertama untuk dikunjungi biasanya adalah pasar tradisional. Di dalam atau di luar negeri. Di daratan maupun pulau-pulau terpencil. Sebisa mungkin sekali saja saya berada di tengah-tengah keriuhan dan kemeriahan pasar tradisional setempat.

Di pasar banyak benda-benda khas setempat. Selain itu, saya bebas berinteraksi langsung dengan penjual dan pembeli, ngobrol ngalor-ngidul walau tak ada hubungan dengan kegiatan jual-beli, melihat denyut kehidupan penduduk setempat yang sebenarnya.

Seorang sahabat baik saya, Enung, yang kini tinggal jauh di Itali pun punya keasyikan yang sama. Kini ia hanya bisa iri ketika saya bercerita sedang di pasar tradisional ini atau pasar basah itu dalam perjalanan saya. Di negara tempat ia tinggal sekarang, pasar cenderung lebih “bersih” dan kurang “manusiawi”. Ia rindu dengan pasar tradisional Indonesia yang “jorok”.

Dari seluruh kota dan kabupaten yang saya kunjungi di Nusa Tenggara Timur, hanya di Labuan Bajo, Manggarai Barat saja saya tidak mengunjungi pasarnya. Di tempat itu, saya hanya “melongok” pasar tradisional dari pagar di tepi pantai karena sudah keburu dijemput kapal yang hendak membawa saya pergi menyelam.

Ada ciri khas tersendiri di tiap pasar tradisional yang saya kunjungi. Tidak semua barang yang dijual menarik. Umumnya dari satu tempat ke tempat lain sama saja. Yang lebih menarik justru orang-orang dan tingkah laku mereka selama di pasar. Beberapa hal unik dan personal pun terjadi dan terungkap di pasar.

Walau penduduk pendatang tidak sedikit di Kota Larantuka, hingga hari ke-tiga saya belum sempat berinteraksi langsung dengan mereka. Di Pasar Inpres (kadang disebut Pasar Baru) saya bertemu dengan Bapak Agus Sunarko dan adiknya. Mereka berdua dari Demak, Jawa Tengah dan sudah duapuluh tahun berjualan cendol di pasar tersebut.

“Di sini nggak bisa jualan mahal-mahal, mas. Nggak laku!” ujarnya menanggapi komentar saya akan harga cendolnya yang “cuma” seribu perak.

Ia tidak melulu berjualan cendol. Pernah ia berprofesi jadi pedagang alat rumah tangga. Dengan sepeda onthel yang kini di-upgrade jadi sepeda motor butut, ia berkeliling kampung. “Kalau jualan keliling mesti siap-siap di-utangin,” ujarnya sambil tertawa.

Karena lebih sering tidak balik modal, ia kembali lagi jualan cendol. Kali ini, ia kurangi jumlah cendol dan gulanya, dan dijual dengan harga jauh lebih murah. Bahkan lebih murah dibanding di Semarang, akunya.

“Kalau seribu perak masih ngebon ya keterlaluan,” ia tertawa. Sebagai bonus percakapan kami, ia memberikan saya satu bungkus cendol, gratis.

Pukul lima pagi, Pasar Ende sudah riuh. Saya sempat nyelonong ke pasar di tepi pelabuhan itu dan kembali lagi karena terlalu sesak, apalagi di pintu masuk pasar yang sempit. Pukul tujuh, saya balik lagi. Pasar sudah agak “nyaman” untuk dijelajahi. Sempat berkeliling pasar, saya akhirnya nongkrong di dingklik penjual nasi ubi (singkong yang direbus, ditumbuk kemudian dihidangkan dengan ikan berbumbu).

Karena tahu saya sedang “terdampar” di kota ini, ibu penjual nasi ubi menyarankan saya ke Pulau Ende, tempat ia dan keluarganya berasal. “Pulaunya gagah (bagus),” obralnya.

Saya termakan dengan dagangan ibu itu. Setelah berkemas singkat, akhirnya setengah hari itu saya habiskan pesiar ke pulau yang berpenduduk seratus persen Muslim itu. Perjalanan yang menyenangkan. Pulaunya gersang, tapi snorkeling di sekeliling pulau sungguh menyenangkan. Pulang dari pulau, saya kembali menemui ibu pedagang nasi ubi untuk mengucapkan terimakasih. “Kalau tidak dikasih tahu, saya nggak akan tahu kalau ada Pulau Ende. Saya pikir cuma ada Kota Ende,” ujar saya.

Setelahnya, saya masih sempat nongkrong di pasar dan berburu baju Ende di sebuah toko. Saking konsentrasi belanja, saya tidak sadar beberapa ibu tertawa geli di depan toko. Mereka geli melihat saya memilih baju yang memang untuk ibu-ibu tua itu. “Saya beli untuk ibu saya,” saya teriak dari jauh setengah kesal.

Lain lagi di Bajawa. Orang Ngada memang masih kental tradisi-nya. Bahkan, ayam jantan untuk ritual adat pun harus berbulu putih. Selain itu, tuan rumah saya, Bapak Leo Woukurry, masih harus mengucap doa-doa untuk mengetahui ayam mana yang akan ia beli. Yang paling saya tunggu adalah proses tawar menawar yang sempat berjalan alot. Sayangnya, tawar menawar tiba-tiba berhenti. Bapak Leo diam dan langsung setuju.

“Leluhur ingin saya membeli ayam ini,” katanya singkat dan langsung menyerahkan sejumlah uang yang diminta pedagang. Penjual ayam tidak berekspresi apapun. Wajahnya seolah mengatakan kejadian barusan sudah biasa. Padahal, buat saya lima puluh ribu untuk seekor ayam jantan ukuran kecil tidak murah. Saya meninggalkan pedagang ayam dengan kebingungan.

Di Pulau Lembata, karena terlambat tiba di Wairiang, saya terpaksa nongkrong di pasar itu sembari menunggu trek jalan. Kesempatan itu juga saya gunakan untuk mencari tambahan penumpang trek. Semua orang tersenyum geli melihat saya teriak-teriak layaknya konjak tapi dengan bahasa Indonesia dan aksen kota.

Lelah, saya memutuskan untuk nggelosor di depan kantor PNPM sembari membuka-buka handphone berlayar “lega”. Handphone itu pula lah yang menarik perhatian beberapa orang-orang di dalam kantor PNPM sehingga mereka mengajak ngobrol dan akhirnya saya sudah ada di depan laptop milik mereka. Sekali lagi, seperti di Baranusa, Pantar, saya mengutak-atik proposal proyek PNPM mereka tahun ini. Sebagai hadiahnya, mereka membelikan saya dua bungkus jagung titi. Lumayan.

Di Maubessy, saya yang sedang gembira karena baru dapat hadiah kain-kain cantik, iseng masuk ke pasar mencari kain lain. Ingin jadi pedagang seperti Bapak Piet Naikofi, begitu pikir saya. Dengan gembolan ransel besar di punggung, tampilan saya memang sudah terlihat beda.

“Jual apa, mas?” teriak seorang ibu dari jauh. Refleks saya menoleh. Ia menunjuk ke arah ransel saya. Saya menggeleng. Terlambat, ibu yang lain di sebelah saya terlanjur mendengar.

“Ada baju, mas?” tanyanya.

“Ada Bu, baju saya. Mau?” jawab saya sambil tertawa.

“Bagus?” tanyanya lagi. Ternyata ia serius hingga menghentikan tawar menawarnya. “Sudah lama tidak ada penjual baju dari Jawa. Saya ingin beli untuk anak saya,” katanya lagi. Ia kemudian cerita kalau pedagang dari Jawa mau dibayar nyicil, beda dengan pedagang lain.

Orang-orang yang saya temui di pasar selama di NTT dengan santainya bertanya, menawarkan bantuan, minta bantuan hingga memberi bingkisan ke saya. Mereka seakan begitu nyaman dan santai berinteraksi dengan siapapun. Walau kadang terdengar suara-suara keras bersahutan – apalagi ketika mampir ke Pasar Wailebe, Adonara dan Pasar Kota Ende – saya tahu, itu karena volume suara mereka memang tinggi.

Buat saya, pasar bikin saya jadi diri sendiri. Buat orang NTT, tak hanya di pasar mereka jadi diri sendiri: mereka memang jujur pada diri sendiri di manapun mereka berada.