Beberapa orang bilang tersesat saat perjalanan itu nikmat. Di NTT, saya baru tahu apa maksudnya.

‘Tersesat’ hingga ke Pantai Mbaing, Sumba Timur dan berjumpa keluarga artis

“Jangan takut bertanya kalau di sini,” begitu kata Bapak Leo Woukurry, tuan rumah saya di Bajawa ketika kami bertemu kembali di Kupang beberapa hari sebelum saya kembali ke Jakarta.

Ia bilang begitu mengomentari saya yang tidak pernah tersesat sekali pun selama di NTT. “Kalaupun tersesat, itu karena yang bawa kendaraan tidak mau tanya,” kata saya sambil tertawa.

Saya kemudian bercerita perjalanan menuju Pantai Kallala, Mbaing, Sumba Timur. Tukang ojek yang mengantar saya ke surf-camp Bapak David yang terkenal itu nampak enggan bertanya. Ia bilang pernah ke tempat itu sebelumnya. Nyatanya, kami sempat tersesat di kebun kelapa, melewati kubangan lumpur, hingga tiba di Kampung Sabu yang bahasanya tidak kami mengerti.

“Mestinya tinggal ikuti saja jalan raya, nanti di sebelah sekolah dasar ada papan nama-nya. Orang sini semua tahu kok, tanya saja,” kata Ibu Yohana, istri Bapak David.

“Tuh kan, jangan malu tanya,” saya mengamini.

Selebihnya, saya tidak pernah tersesat. Sayangnya, saya sering kali kecele. Entah bagaimana asal mulanya, orang NTT – apalagi di kampung-kampung – nampaknya tidak biasa dengan jarak dalam meter atau kilometer. Mereka lebih suka menunjuk arah dan pakai satuan menit atau jam. Padahal, keduanya bisa menipu.

”Kampungnya di balik bukit itu, tidak jauh, paling lima menit,” kata seorang pedagang jambu biji ketika saya tanya letak Kampung Cara, Manggarai. Tergoda udara sejuk dan janji lima menit itu, saya memutuskan jalan kaki. Tak kurang dari dua puluh menit saya menyusur jalan. Itupun dengan kecepatan berjalan lumayan tinggi.

Bukit yang dimaksud ternyata memanjang. Kampung Cara terletak di titik paling ujung bukit. Pantas saja. Saya tidak terbayang bagaimana bisa jalan kaki hanya lima menit. Padahal, ketika balik naik ojek pun butuh waktu lebih dari lima menit.

Lain lagi ketika di Pulau Pantar saya memutuskan pergi ke Pantai Tiga Warna. Tidak ada orang di sekitar Pelabuhan Baranusa yang bisa menjelaskan dimana letak pantai itu, bahkan ketika saya menggambar peta Pulau Pantar. Saya memutuskan mencari petunjuk di internet dan tidak berhasil juga. Satu-satunya informasi yang saya dapat dari seorang ibu penjual nasi adalah, “ikuti jalan ke timur, cuma ada satu jalan. Paling-paling dua jam naik motor. Tidak akan tersesat.”

Tukang ojek yang mengantar saya pun tidak tahu. Ia baru mengaku kalau ia baru tiga bulan di Baranusa, saat kami mencapai sepertiga jalan, ketika kami mulai masuk daerah berbukit dan berhutan. Waduh. Jadilah kami sibuk bertanya sana-sini, untuk menemui pantai misterius ini.

Ajaibnya, ibu penjual nasi di Baranusa ini benar. Selepas Desa Baranusa, jalan itu tidak bercabang. Hanya berbelok-belok, naik turun dengan jalan beraspal bopeng-bopeng bahkan kadang cuma berlapis batu. Kalau saya percaya saja, saya memang tidak akan tersesat, karena ujung jalan ke Pantar sebelah timur adalah Pantai Tiga Warna itu.

Ah, bodoh sekali, pikir saya. Karena setiap melewati warung dan kerumunan orang saya minta ojek saya bertanya untuk memastikan, kami tiba di Pantai Tiga Warna setelah menempuh waktu tiga jam!

Saya tidak selalu merutuki nasib ketika orang yang memberi informasi yang kurang jelas. Malah, kadang saya menikmati saat-saat berhenti di tengah jalan seperti ini.

Ketika hendak mencari sonaf Insana di Oelolok, Timor Tengah Utara, saya diberitahu untuk turun di perempatan Oelolok kemudian lanjut dengan angkot lain arahnya lurus saja. Kata lurus ini yang bikin saya mengartikan searah dengan jalan sebelumnya. Ternyata saya dibawa menjauh Oelolok hingga sampai ke Desa Letmafo, Insana Barat dimana saya bertemu dengan Bapak Piet Naikofi dan kemudian malah membantu merombak susunan tokonya dan menginap di rumahnya. Esok paginya saya diantar ke sonaf Insana yang cantik itu. Pulang dari Letmafo, saya dihadiahi tiga buah sarung yang salah satunya seumur dengan saya. Saya sempat tak percaya karena sarung itu harganya kurang lebih sama dengan tiket Jakarta – Kupang pp, naik Garuda Indonesia.

Di Nemberala, Rote, ketika pagi hari saya dan teman satu homestay – Dean – sedang mencari jalan ke pasar, saya kembali salah mengartikan petunjuk jalan yang diberikan. Alih-alih mengikuti jalan besar, saya malah masuk ke jalan lebih kecil, mengambil arah lurus saja seperti diinformasikan. Di percabangan jalan, saya bertanya arah pasar pada seorang ibu yang sedang bekerja di dapur. Ia memberi tahu arah pasar yang benar.

Tapi, kesibukannya di dapur malah bikin saya tak beranjak. Karena penasaran, akhirnya sorenya saya kembali ke rumahnya, bertemu dengan orang yang sama, Ibu Rita Lutu, dan suaminya Bapak Edi Lutu. Sore itu saya membantu mereka menyadap lontar, memasak nira hingga jadi gula air. Malamnya mereka mengundang saya menginap, menikmati gula air yang kami buat sore itu.

Ya, saya memang omong kosong (bohong) pada Pak Leo. Sebenarnya beberapa kali saya tersesat. Kemalasan saya lah penyebabnya. Malas untuk menanyakan lebih detil. Malas menyesuaikan diri dengan kebiasaan penduduk setempat. Dan malas segera mencari petunjuk arah yang benar dan malah akhirnya menikmati ketersesatan yang ujung-ujungnya berbuah pengalaman dan kenalan baru.