Mahal atau murahnya biaya sebuah perjalanan tergantung dari ukuran dan cara mengukurnya. Ternyata, sebaik-baik alat ukur, gunakan buatan setempat.

Mama penjual jagung titi di Pasar Inpres, Larantuka, Flores Timur

Sebelum berangkat ke Nusa Tenggara Timur, seorang teman yang berminat untuk ikut berpetualang menanyakan berapa kira-kira biaya yang akan dihabiskan. Dengan santainya saya menyebut angka yang kurang lebih sama dengan biaya hidup satu bulan di Jakarta dikali tiga.

“Hah, kok mahal?”

“Entah ya, saya cuma kira-kira saja. Toh, saya tidak ingin jadi turis. Saya mau hidup seperti biasa. Cuma kali ini, di tempat yang berbeda dengan orang yang berbeda,”

Saya tak yakin teman saya itu mengerti jawaban saya. Entah bagaimana saya bisa ngarang jawaban itu.

Perkiraan saya ternyata meleset jauh. Biaya perjalanan saya tidak sama dengan “bercandaan” itu. Bukan karena menghemat. Bukan pula karena saya menurunkan standar hidup. Tapi lebih karena saya banyak dibantu oleh penduduk setempat, tuan rumah saya. Mereka membukakan pintu rumah, menyediakan kamar untuk tidur, makan bahkan hadiah hingga mengajak jalan-jalan gratis. Tanpa saya minta. Karena mereka baik saja.

Padahal, biaya hidup di NTT relatif lebih mahal dibanding di pulau Jawa. Tidak percaya? Ketika sebotol air mineral merek terkenal berukuran satu setengah liter di Jakarta dijual tidak lebih dari lima ribu rupiah, di sebagian NTT sulit mencarinya dengan seharga lima ribu itu.

Di pelabuhan ferry Larantuka, saya terpaksa menjatuhkan pilihan ke air mineral merek lokal. Dua ribu rupiah yang saya hemat jadi sangat berharga mengingat saat itu saya sedang kesulitan uang.

Di Kupang, saat harus membayar bon belanja buku dan alat tulis, saya sempat dibuat malu karena uang tidak cukup. Setelah saya perhatikan, harga-harga buku dan alat tulis ini jauh lebih mahal dibanding di Jakarta. Sebagai contoh, satu lusin buku tulis tipis yang di Jakarta akhirnya saya dapat seharga lima belas hingga dua puluh ribu ribu, di Kupang harganya tidak kurang dari dua puluh lima ribu.

Yang paling menonjok biasanya harga makanan. Di Waikabubak, ayam bakar rasa kecap dengan nasi dan kuah kaldu dihargai dua puluh lima ribu, padahal minim rasa. Saya langsung rindu ayam bakar di depan tempat kost saya yang lama di Jakarta seharga lima belas ribu dengan rasa yang jauh lebih kaya.

Di tempat lain di NTT pun, harga makanan cenderung lebih mahal. Apalagi makanan Jawa atau Padang. Di sebuah warung makan Padang di Bajawa, saya sempet menelan ludah ketika disodori bon ayam goreng dan perkedel seharga lima puluh lima ribu. Padahal warung makan itu bukan yang paling mewah dan bersih di Bajawa.

Uniknya, orang NTT seperti sudah biasa dengan harga-harga yang kadang mencengangkan ini.

Di Pasar Baru Larantuka, sembari menemani ibu Adel berbelanja, saya iseng menanyakan harga lombok hari itu. Saya sampai iseng menelepon ibu saya di Jakarta untuk menanyakan harga cabai. Hampir dua kali lipatnya.

Ketika saya tanya kenapa mahal, ibu penjual cabai malah bertanya balik. “Baru ya di Larantuka?”

Ah, walaupun tidak menjawab pertanyaan saya, ibu penjual itu seolah ingin menegaskan bahwa harga barang-barang memang cenderung lebih mahal. Dan mereka terbiasa (baca: terpaksa) dengannya. Padahal, tadinya saya sempat mendengar NTT pernah jadi provinsi termiskin kedua di Indonesia. Dengan harga-harga seperti ini dan penghasilan tidak lebih besar daripada orang-orang di tempat lain, semua jadi masuk akal sekaligus tidak masuk akal.

Di dalam ferry dari Sape, Sumbawa menuju Waikelo, Sumba Barat Daya, saya terkaget-kaget ketika tengah malam dibangunkan suara berisik dari geladak bawah. Melongok dari tangga, saya lihat penumpang dan awak ferry nampak berkerumun di satu sisi ferry.

Beberapa galon air mineral merek terkenal tadi jatuh bergelindingan ke satu sisi kapal karena pintu truk kurang kuat terpasang.

“Dibawa dari Sape (Sumbawa) untuk dijual lagi,” kata pengemudi truk. Jawaban itu bikin saya tertarik untuk mengetahui asal-usul beberapa barang dagangan yang ada di NTT.

Air mineral yang terkenal itu dibawa dari pabriknya di Mataram, Lombok. Mobil dan motor biasanya dibawa dari Surabaya. Benang dan pewarna diimpor dari Surabaya, Solo atau Pekalongan. Buku dan kertas dibawa dari pabriknya di Jawa Timur. Bahkan, kecap manis dan mi instan pun diboyong dari Pulau Jawa.

Bisa dibilang, hampir seluruh barang pabrikan yang ada di NTT diimpor dari luar provinsi ini. Pantas saja jika harganya jadi lebih mahal dibanding dengan di Jawa. Untunglah beberapa barang sudah mulai dibuat di NTT. Air mineral itu salah satunya. Saya sempat mengunjungi salah satu pabriknya di daerah Baumata, Kupang. Dari tempat sejuk itu, air minum kemasan dibawa hingga ke pelosok. Saya sempat menemukannya hingga nun jauh di sebuah warung di Kampung Todo, Manggarai bersanding dengan air mineral merek nasional yang beda harganya mencapai tiga ribu rupiah.

Setelah melihat sendiri proses pembuatannya, saya makin yakin untuk minum air kemasan merek lokal tadi. Padahal, masuk ke pabrik air minum kemasan merek nasional saja belum pernah. Saya termakan iklan dan promosi, nampaknya.

Sebagai oleh-oleh saya bawa pulang satu botol air minum kemasan merek lokal itu. Ketika teman yang tadi menanyakan biaya perjalanan ke NTT menanyakan kabar, tak lupa saya menjawab pertanyaannya.

“Benar. Biaya hidup (di NTT) lebih mahal dibanding Jawa, bahkan Jakarta. Tapi itu karena saya pakai gaya hidup Jakarta: air minum mineral, minuman kaleng, makanan Jawa dan Padang, dan lain-lain. Semua itu diimpor dari luar (NTT). Coba nginep di rumah penduduk, makan di rumah mereka, minum air dimasak sendiri dan masak tidak pakai bumbu sebanyak di Jawa, biaya hidup jauh lebih ekonomis.”