Ingin lihat betapa kuatnya pengaruh alam pada jam kantor dan aktifitas warga kota? Lihat saja di Maumere, Ende dan kota lainnya di NTT.

Mama-mama di Rote sedang mengisi siesta dengan produktif

Siang itu matahari di langit Maumere sudah mulai condong ke barat. Setahu saya, saraf-saraf di bagian perut tidak punya sensor cahaya, tapi ketika saya keluar kamar, tiba-tiba perut ini berontak. Ia mengingatkan saya kalau sedari pagi belum diisi.

Celakanya, saya sempat panik ketika melihat warung-warung makan tutup. Toko-toko yang menjual makanan kecil ala kadarnya pun banyak tidak buka. Dengan perut kosong dan badan limbung, saya beli beberapa potong roti di sebuah warung rokok. Kelihatannya roti itu sudah dekat tanggal kadaluwarsa, bahkan mungkin sudah kadaluwarsa. Perut yang lapar bikin saya tidak peduli.

Berbekal sedikit energi dari potongan roti itu, saya melangkah menuju warung makan yang kemarin saya kunjungi, tidak jauh dari penginapan. Pintunya tutup. Di belakang rumah lamat-lamat terdengar suara TV. Seorang perempuan berkerudung melongok dari dalam pintu.

“Maaf, mas. Warungnya tutup. Nanti sore buka lagi,” jawabnya.

Langkah yang gontai mengantarkan saya ke warung makan Padang yang tadi terlihat masih buka. Saya agak malas sebenarnya karena masih ingin menikmati nasi ubi di warung tadi.

“Di sini, jam satu siang sampai jam empat sore warung-warung dan toko-toko tutup,” kata seorang tukang ojek. Kami berbagi kopi yang saya pesan di warung makan Padang tadi. “Semua orang istirahat. Saya juga sedang istirahat,” lanjutnya.

Saya masih belum bisa mencerna istirahat tiga jam di waktu produktif. Setiap hari pula. Kejadian serupa terjadi di Kota Ende. Untunglah saya sudah menyiapkan diri: makan jam dua belas siang tepat dan menyiapkan makanan kecil dalam tas.

Di beberapa tempat lain, kegiatan di siang hari memang melambat. Walau tidak sehebat di Maumere, terlihat di sana-sini orang-orang memilih untuk berdiam diri di dalam rumah atau tempat teduh.

Setelah makan siang di kediaman tuan rumah saya di Waihura, Wanukaka, Sumba Barat, saya dan sahabat saya, Mbak Dewi, memutuskan berkeliling desa. Suasana sepi, lebih sepi dari pagi atau sore hari. Kami bertemu dengan seorang perempuan yang sedang asyik menenun di bawah pohon.

Di belakangnya, seorang perempuan tua berbaring di bale-bale bambu, asyik mengamati helai-helai benang yang mulai terbentuk menjadi kain sambil mengunyah sirih pinangnya. Di seberangnya, empat orang laki-laki tua muda “kongkow-kongkow” di atas dipan bambu di bawah naungan atap. Dengan semilir angin, kicauan burung, rokok dan tembakau di tangan, dan obrolan ringan, lengkap sudah suasana siesta di siang hari itu.

Untunglah warung-warung masih buka. Hanya saja di depan tiap warung, terlihat penjaganya sedang tertidur atau ngobrol-ngobrol. Dengan suasana se-santai ini, saya dan Mbak Dewi pun terbawa ngantuk. Cocok dengan udara panas siang itu.

Beberapa kali orang heran melihat saya masih “berlarian” kesana kemari di siang hari. “Kalau siang begini, kami duduk-duduk seperti ini,” ujar seorang penjual warung kelontong di Desa Nemberala.

Ia masih sangsi dengan niat saya ke Desa Boni, salah satu desa tua di Rote, yang jaraknya dua jam naik motor di bawah terik matahari jam satu siang. Saya tidak terlalu khawatir dengan udara panas. Tapi yang saya khawatirkan akhirnya memang terjadi.

Sesampainya di Desa Boni, hampir seluruh penduduknya sedang istirahat. Bapak David Ello Oelain, tetua Desa Boni, pun sedang istirahat di rumahnya di pinggir kampung. Akhirnya, siang itu saya hanya berkeliling desa, foto sana-sini. Kadang-kadang dengan perasaaan tidak enak saya membangunkan mama-mama tua yang sedang istirahat untuk bisa melihat rumahnya. Niat saya ingin ngobrol terpaksa saya batalkan, karena saat itu sedang jam kritis untuk beraktifitas termasuk ngobrol serius. Semua orang sedang nyaman-nyamannya terbuai dalam tidur mereka.

Untunglah menjelang pulang, Bapak David muncul dan kami bisa ngobrol lagi. Sambil berteduh di bawah atap rumah daun lontar khas Rote, tentunya.

Udara panas memang alasan utama siang hari jadi terasa lebih lambat di NTT. Bukan hal baru sebenarnya. Di kampung ibu saya di Gunung Kidul, Yogyakarta pun, siang hari banyak dipakai orang-orang desa untuk istirahat santai dengan alasan yang sama.

Yang bikin saya masih heran, orang-orang kota pun ikut istirahat siang. Bahkan mereka yang bekerja di dalam bangunan yang nyaman pun ikut istirahat siang. Mereka akan balik lagi ke kegiatannya sekitar pukul empat hingga pukul tujuh malam. Untunglah bank dan kantor pemerintahan tidak ikut-ikutan.

“Kalau pembelinya sepi, kami istirahat,” kata penjual pulsa di dekat pasar Maumere.

Bapak Tens, tuan rumah saya di Larantuka, menceritakan pengalaman serupa. Ketika bertugas di Alor, ia menghindari waktu berkunjung ke rumah-rumah penduduk setelah makan siang. “Sebisa mungkin semua urusan di luar kantor sudah beres sebelum jam dua belas siang,” begitu katanya.

Bagaimana dengan pelancong yang ingin memaksimalkan waktu kunjungan mereka? Berkunjung ke kampung tradisional biasanya saya lakukan pagi atau sore hari ketika panas sudah mulai mereda dan semua orang dalam mood yang menyenangkan untuk menerima tamu. Kalaupun siang, sebisa mungkin saya mandiri, mencari-cari obyek yang bisa saya foto sendiri. Sebenarnya ibu-ibu, apalagi yang tidak pergi ke sawah atau kebun, dan orang-orang tua dengan senang hati diajak ngobrol. Tapi lagi-lagi, cuaca yang panas memang lebih asyik untuk terlelap.

Di awal perjalanan ke NTT, kadang saya gelisah sendiri jika lebih dari satu jam tidak ada kegiatan yang jelas. Di desa Diroen, Belu, hampir seharian saya tinggal di rumah Bapak Kepala Desa. Pagi dan sore hari hujan deras, siang panas terik. Siang hari, ketika saya berniat keliling desa, Bapak Kepala Desa mencegah.

“Istirahat saja. Atau duduk-duduk di belakang rumah. Katanya ingin lihat kehidupan di desa, ya seperti ini,” ujarnya menyentil.