Kalau ada pemilihan warga negara paling tidak ngeh politik, mungkin saya salah satu kandidat pemenangnya. Tidak bangga memang, tapi politik sungguh jauh berseberangan dengan selera saya. Layaknya perjalanan, banyak hal-hal tidak terduga terjadi, termasuk yang bersinggungan dengan politik. Walau saya mengaku tidak selera bahkan cenderung benci politik, saya dipaksa menikmatinya dalam versi yang lebih menarik.

Nona-nona penggembira di kampanye pilkada di Desa Langa, Kabupaten Ngada

Perjalanan saya di NTT bertepatan dengan musim Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) di setidaknya enam kabupaten di NTT: Flores Timur, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Sumba Barat dan Sumba Timur. Alhasil, di tiap tempat tersebut sedikit banyak saya bersentuhan dengan hiruk pikuk pesta demokrasi rakyat yang satu ini.

Buat penduduk di beberapa kabupaten, Pilkada kali ini jadi terasa lebih seru karena diselenggarakan untuk pertama kalinya. Pilkada sama dengan hiburan rakyat, entah karena memang ada hiburan penyanyi atau mereka yang berpolitik jadi lucu-lucuan seperti hiburan.

Uniknya, untuk sebuah pesta politik yang baru-baru saja dikenal, masyarakat NTT menaruh begitu besar perhatian mereka. Layaknya pesta adat, Pemilu Kada terkadang melibatkan biaya yang sangat besar, terlalu besar bahkan jika dibandingkan dengan jumlah MCK yang bisa didirikan atau ruas jalan berbatu yang bisa ditingkatkan kualitasnya.

Tiba di Desa Langa, Bajawa, saya dikejutkan dengan keriuhan di kediaman tuan rumah saya, Bapak Leo Woukurry. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi babi dan sapi yang baru saja dipotong belum lagi dimasak. Selesai makan malam sekitar pukul sepuluh, para pria masih melanjutkan dengan ngobrol-ngobrol tentang rencana sosialisasi salah satu paket Pilkada di Desa Langa keesokan harinya.

Awalnya banyak istilah yang diobrolkan yang saya tidak mengerti hingga saya cepat bosan dan mengantuk. Tapi, melihat keseriusan orang-orang ini, dari membuat jadwal acara hingga menentukan siapa yang akan bicara apa, di tengah malam dengan perut kenyang dan udara dingin sungguh menakjubkan. Pelan-pelan saya pun terbawa suasana.

“Kalau di Jakarta, Mas pilih (partai) apa?” tanya seorang laki-laki.

Saya sempat ragu menjawab. “Terakhir saya tidak ikut Pak, sebab sedang di luar negeri,” saya bohong.

“Yang menang paket dari partai apa?” tanya dia lagi.

Saya berpikir keras mengingat nama partai yang diwakili gubernur DKI Jakarta tahun 2010. Gagal. “Saya tidak ingat,” jawab saya pasrah.

“Lho? Tidak pernah ikut kampanye ya?” laki-laki ini makin penasaran.

Saya menggeleng. Semua orang melengos dan pelan-pelan menghempas badan mereka ke kursi.

Saya terdengar begitu bodoh dalam hal politik dibanding teman-teman di Ngada ini. Tak ingin terulang, esoknya, pukul tujuh pagi saat kami kembali berkumpul di tempat yang sama untuk ngobrol tentang rencana kampanye hari itu, saya pura-pura sibuk mencari sinyal.

Di tanah Pasola, saya memang tidak sempat menyaksikan kampanye Pilkada. Tapi, semangatnya terembus dimana-mana. Para penenun sibuk membicarakan kostum yang dikenakan para paket dalam materi promosi mereka.

“Kain yang dipakai paket itu, buatan saya,” tegas Rambu May sembari menunjuk foto sepasang pria yang memakai jas dari kain Kaliuda bermotif raja.

Sebelumnya, beberapa ketua kelompok penenun pun tak kalah nimbrung dengan bilang seperti, “Ya, saya pun bisa bikin kain seperti itu.” Bahkan ada yang meyakinkan kalau kain motif raja itu bakal bikin pasangan kandidat itu menang karena sudah direstui leluhur.

Dalam Pilkada, semua orang ingin ambil bagian. Jika tidak bisa di panitia pemilihan, KPU, mereka akan menyibukkan diri di tim pemenangan salah satu paket. Tuan rumah saya di Pau, Sumba Timur, Rambu Naomi Njamur, bersikeras harus pulang ke Sumba sehari sebelum tanggal Pilkada. Padahal, kami sedang asyik-asyiknya mengikuti workshop menenun. Tapi begitulah, semangat Rambu Naomi ternyata ada penjelasannya. “Malu saya kalau tidak contreng, saya kan anggota tim sukses-nya,” ujarnya sembari menyebut paket ber-jas kain Kaliuda tadi.

Kalau kejadian-kejadian tadi malah seringnya bikin saya tersenyum bahkan tertawa, kejadian di kampung Bena, Ngada, Flores malah bikin saya kesal. Dari bukit terakhir sebelum tiba di kampung ini, saya sudah bisa melihat puncak atap rumah alang-alang menyembul. Sayangnya, tiba di kampung saya terpaksa menelan kekesalan melihat sebuah baliho super besar teronggok di muka kampung.

“Merusak pemandangan kampung, nih…” teriak saya. Bapak Philippus yang saat itu belum saya kenal mohon maaf karena ada instruksi untuk memasang baliho tersebut. Parahnya, tidak cuma baliho besar itu saja. Beberapa baliho berukuran lebih kecil terpajang di sebelah kiri-kanan pintu masuk. Dari sudut manapun saya mengambil foto, seluruh baliho Pemilu Kada itu terlihat jelas di kamera.

Sayangnya, tak semua Pilkada jadi mengasyikkan. Ketika akhirnya menjejakkan kaki kembali di Larantuka, saya mengharapkan akan menjumpai pesta rakyat akbar karena Pemilu Kada telah selesai. Apa daya, keribetan proses Pilkada bikin hari pencontrengan tertunda hingga entah kapan. Konon, urusan dana Pemilu yang berlarut-larut bikin hari yang ditunggu-tunggu tak juga diketok palu oleh KPU setempat.

Seorang laki-laki warga Larantuka yang sebelumnya saya temui di ferry dari Adonara mengungkapkan kekecewaannya atas Pilkada yang tertunda. “Padahal saya yakin paket jagoan saya itu menang. Kapan lagi kita bisa pesta-pesta satu kota kalau bukan saat Pilkada?” ujarnya sengit.

Seingat saya, teman dan kenalan di Jakarta yang kurang antusias dengan segala hal berbau politik tak sedikit. Terbukti, angka golput di pemilu terakhir di Jakarta masih lumayan tinggi. Tapi untuk warga NTT, demokrasi tak sekedar menggunakan hak pilih, tapi juga merayakan hak pilih termasuk kewajiban ikut aktif dalam pesta rakyat dan meresapi suasana pesta.

Dan layaknya pesta, selalu ada alasan untuk makan-makan dan minum-minum enak. Ah, itu sudah jadi alasan yang cukup untuk mulai menyukai politik. Setidaknya di NTT.