Terlalu lama berada di satu tempat memang bahaya. Bisa jadi otak menganggap seluruh tempat di dunia sama. Inilah sumber malapetaka.

Bermain congklak di Kampung Bena, Ngada

Hari-hari pertama di Larantuka adalah salah satu saat paling menggembirakan selama perjalanan di NTT. Tempat baru. Teman baru. Kegiatan baru. Pengalaman baru. Saya bahkan sempat lupa keluarga dan teman-teman di Jakarta. Layaknya spons, saya menyerap apa saja yang saya lihat, dengar dan rasa. Semua orang terlihat menarik. Semua tempat terlihat unik. Semua kegiatan terlihat mengundang. Walau ini bukan pertama kalinya, saya sedang eforia berpetualang.

Pagi pertama, saya dan beberapa teman dari Atmajaya Photography Club (APC) yang datang lebih dulu menghabiskan pagi di sekitar Katedral Larantuka. Pagi itu, seluruh kota nampak sibuk menyiapkan peringatan Paskah 2010 yang mencapai puncaknya malam nanti.

“Kenapa pasang lilin pakai pagar kayu, Pak?” saya tanya ke seorang pria. Pagar tempat ia memasang lilin itu lebih mirip barikade jalan berbentuk segitiga.

“Sudah tradisi,” jawabnya santai.

Jawaban pria ini kemudian sering sekali terdengar selama perjalanan saya di NTT. Biasanya saya malah makin ingin tahu. Tak jarang akhirnya memang harus puas dengan jawaban seperti itu saja.

Bergeser sedikit, saya ngobrol dengan seorang bapak yang hampir seluruh rambutnya seputih perak. “Mas, daun untuk tali pengikat lilin itu kuat sekali, sudah tahu?” tanpa diminta ia memulai obrolan.

Saya menggeleng. “Di Bajawa, daun itu bisa untuk gantung anjing sampai mati,” ia tertawa terkekeh. Saya tak mendapati kalimatnya lucu. Tapi saya malah ingin tahu.

Bapak Richard Demu. Pria enampuluhan tahun ini mantan pengurus sebuah sekolah dasar di pinggir Kota Bajawa, Ngada. Ia mengaku tidak pernah melewatkan Paskah di Larantuka. Di sini, ia biasa tinggal bersama anak perempuannya yang menikah dengan pria Larantuka. Tahun ini, ia bisa memilih tinggal di rumah anak laki-lakinya yang baru saja bekerja di sebuah bank pemerintah.

Walau tidak segesit laki-laki lain, ia masih semangat memasang lilin ke pagar bambu. Memang ia memilih untuk tidak memasang pagar.

“Sudah nggak kuat, Mas” katanya. Dengan alasan yang sama pula ia mengeluh sudah jarang bisa bepergian jauh lagi, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya.

Buat Bapak Richard, pergi ke Larantuka dan beberapa kota lain di Pulau Flores adalah kenikmatan perjalanan yang belum lama ia nikmati, tepatnya setelah pensiun lima tahun lalu. Sebelumnya ia cukup sering dikirim ke beberapa tempat di Flores bahkan hingga Kupang. Tapi itu lebih karena keperluan pekerjaan atau keluarga.

Ia menyebut Kelimutu, Riung, Todo, Aimere, Bena, Gunung Egon, Tanjung Bunga, hingga Komodo sebagai tempat yang pernah ia kunjungi. Ia pun tidak lupa menyebut beberapa tempat di Ngada, asalnya. Beberapa tempat terdengar asing di telinga saya.

Bagian paling menarik dari pesiar itu adalah ketika melihat pemandangan alam dan bertemu orang-orang yang tinggal di sekitarnya, akunya. Untuk orang setua dirinya, ia perlu melihat tempat-tempat yang bisa menenangkan indra dan pikirannya. Padahal, ia sendiri tinggal di Bajawa, kota yang cukup bersih, rapi dan tenang. Keingintahuan lah yang nampaknya bikin ia akhirnya tiba di tempat-tempat yang ia sebut tadi.

Ia juga senang dapat kenalan baru. Semenjak tidak bekerja, kesibukannya di gereja meningkat. Ia rajin memberikan pelayanan di sekitar Flores. Walau sangat Katolik, Flores masih menyimpan tradisi yang terkadang kurang sesuai dengan gereja. Bapak Richard ingin sekali bertemu dengan saudara-saudaranya dan berbagi kisah di alkitab agar mereka sadar mana yang benar.

“Ternyata tidak semudah itu,” ujarnya.

Dalam bis dari Larantuka menuju Maumere, ia cerita ke saya tentang cara barunya melakukan pelayanan. “Saya sudah tidak pernah bilang akan pelayanan kalau mau pergi. Saya cuma bilang ‘mau jalan-jalan’,” katanya.

Maksudnya?

Jalan-jalan, menurutnya, bikin ia lepas dari beban harus menyampaikan ini dan itu. Jalan-jalan malah bikin ia diterima lebih hangat sebagai saudara, bukan utusan dari gereja. “Memang tidak pernah ada yang menolak saya waktu sebelumnya saya pelayanan,” katanya, “tapi rasanya beda.”

Ketika ia menyampaikan niatnya ingin mencari suasana baru di desa-desa karena sudah pensiun, orang-orang desa malah menunjukkan, mengajak dan memberi ini dan itu. Sebenarnya, tidak semuanya baru, karena ia pun tinggal di Ngada, tempat yang tradisinya masih sangat kuat.

Dengan berjalan-jalan, ia akhirnya tahu masalah sebenarnya saudara-saudaranya. Ia sudah terbiasa mendengar keluh kesah orang-orang yang ia temui selama perjalanan. Dari perjalanannya itulah ia merasa lebih mengerti latar belakang orang yang ia temui.

“Saya sering sedih dengar cerita mereka. Tapi lebih sedih lagi karena nggak bisa apa-apa” katanya. “Dari situ lah saya biasanya menyampaikan apa yang menurut saya baik.”

Kami terdiam sesaat. Di Boru, bis kami berhenti untuk istirahat makan siang. Saya tidak ke luar bis. Merenungkan apa yang diucap Bapak Richard. Laki-laki ini tidak berpendidikan tinggi. Kalimat-kalimatnya pun tidak dirangkai puitis layaknya sastrawan. Tapi di balik kesederhanaan kalimatnya – sikap hidupnya – itulah saya akhirnya menemukan sebuah kebijaksanaan.

Dengarlah kalimat Bapak Richard Demu berikutnya. “Buat saya, perjalanan itu untuk menghargai orang lain. Menghargai kalau mereka berbeda. Asal-usul berbeda. Kebiasaaan berbeda. Pemikiran berbeda.”

Sejak detik itu, kalimat sederhana Bapak Richard Demu jadi pegangan saya selama perjalanan ini.