Budaya milik siapa? Menjaganya tugas siapa? Pertanyaan ini terus berputar dalam pikiran saya selama perjalanan ke Nusa Tenggara Timur. Di angkutan umum, menjelang tidur hingga saat membonceng ojek. Puncaknya adalah ketika melihat atap rumah-rumah tradisional yang umumnya tak asli lagi.

Gereja St. Maria Imaculata, Sikka

Ada pemandangan yang bikin jengah ketika kaki melangkah masuk ke Kampung Pasunga di Sumba Tengah. Beberapa batu kubur di kampung ini termasuk yang paling unik di seluruh daratan Sumba. Selain karena besar dan berukir kompleks, di sekitarnya terdapat monumen-monumen vertikal dengan ukiran tidak biasa dan tidak ditemukan di tempat lain di Sumba. Sayangnya pemandangan luar biasa itu terusik oleh kilau atap rumah tradisional yang tidak lagi orisinal. 

Perbincangan tak sengaja dengan seorang bapak di bis Trans Sumba bikin saya melupakan tujuan semula, Lamboya, dan akhirnya malah berada di antara kerumunan lelaki Sumba dan kuda mereka di halaman depan Kampung Pasunga. Walau lokasinya strategis, di tepi jalan raya antara Sumba Barat dan Sumba Timur, kampung ini sering terlewati. Bagaimana tidak, setelah terlena dengan banyaknya rumah tradisional beratap alang-alang yang memenuhi Sumba Barat dan Sumba Timur, kampung dengan rumah-rumah beratap seng ini jadi terlihat kurang menarik. Karena ujung-ujung atap rumah mereka yang pertama kali terlihat saat melintas, calon pengunjung kadang keburu ogah mampir.

“Saat mengganti atap alang-alang, timbul pertentangan di antara para tetua,” jelas seorang tetua adat kampung Pasunga.

Sebagian tetua ingin mempertahankan keunikan kampung. Sebagian lagi memikirkan biaya perawatan. Yang kedua dinilai lebih mendesak dan lebih penting. Akhirnya Pasunga jadi seperti sekarang, identitasnya sebagai kampung tradisional Sumba sering dipertanyakan oleh wisatawan. Walau begitu, masih ada saja turis yang datang mengunjungi kampung ini. Tapi, bisa ditebak, mereka berhenti sampai di batu-batu kubur di halaman depan kampung saja.

Setelah perjalanan di Nusa Tenggara Timur, saya berani menyimpulkan: mencari rumah penduduk beratap alang-alang lebih sulit dibandingkan rumah beratap seng. Padahal, pertama kali tidur di sao beratap alang-alang di Kampung Bena, Ngada, saya merasakan sensasi yang beda. Di kampung yang sejuk siang hari dan dingin di malam hari ini, atap alang-alang – dan dinding serta lantai bambu – bikin udara di dalam rumah lebih hangat.

Ketika tidur di dalam mbaru gendang di Kampung Wae Rebo, Manggarai, pun saya merasakan kehangatan yang sama. Tanpa lampu pun tidur terasa nyaman dan hangat walau cuma bercelana pendek dan selimut tipis.

Pun di udara panas. Ketika menginap di rumah Bapak Edi Lutu di Nemberala yang beratap seng, saya bolak-balik ke luar rumahnya karena kepanasan. Bisa jadi karena malam itu angin Australia sedang malas bertiup. Tapi ketika saya pindah ke dapur mereka yang beratap daun lontar, udara sejuk langsung menerpa. Sayangnya, karena satu-satunya makhluk hidup yang menemani saya di dapur adalah tikus, saya terpaksa tidur kembali di kamar yang panas.

Alang-alang, daun kelapa, daun lontar dan daun gewang telah dipakai sebagai atap rumah tradisional di hampir seluruh tempat di NTT. Material yang dipakai biasanya disesuaikan dengan tanaman yang tumbuh di tiap tempat.

Alang-alang digunakan di seluruh Flores, Adonara, Pantar, Alor dan Sumba. Daun kelapa dipakai di sebagian kecil Rote dan Timor. Daun lontar dipakai di sebagian kecil Timor dan sebagian besar Rote (dan Sabu). Daun gewang dipakai di Timor. Di Rote dan Timor, daun lontar dan batangnya bahkan digunakan untuk pagar dan dinding.

Setiap kali melihat rumah tradisional yang atapnya berganti seng, saya langsung trenyuh. Sebagian besar memang beralasan karena pemeliharaan alang-alang tidak murah.

Alang-alang dibeli dalam gulungan. Dalam satu gulung ada sekitar dua puluh ikat. Di Waikabubak, satu gulung harganya sekitar duapuluh ribu. Untuk menutup satu rumah berukuran sedang minimal diperlukan dua ratus gulung. Itu belum termasuk akar sulur yang hanya ditemukan di hutan untuk mengikat alang ke usuk bambu. Helaian rotan pun masih diperlukan untuk “menjahit” tiap ikatan alang satu sama lain.

Walhasil, jika ada satu bagian atap alang-alang rusak, diperlukan minimal satu gulung untuk menggantinya. Jika sudah muncul lumut di atasnya atau bocor, pertanda seluruh atau sebagian besar atap perlu diganti. Sayangnya, selain mahal, alang-alang kini makin sulit ditemukan.

Di kampung BondoMarotto di pinggir kota Waikabubak, Sumba Barat, seorang warga bercerita pernah mencari alang-alang hingga ke Anakalang, Sumba Tengah bahkan Lewa, Sumba Timur. Memang tidak perlu bayar, cukup minta ijin ke ketua adat setempat, tapi membawanya pun tidak murah. Berita buruknya, di kedua daerah yang juga sumber padi Sumba itu pun alang-alang makin sulit ditemukan sekarang.

Pemerintah tidak tinggal diam. Sejak 2008, Dinas Pariwisata dan Budaya, Kabupaten Sumba Barat menetapkan dua belas kampung tradisional di berbagai penjuru kabupaten sebagai situs wisata. Syarat utama situs wisata adalah bangunannya masih berdesain asli, termasuk atapnya yang mesti dari alang-alang.

Dinas ParBud Sumba Barat membantu setiap situs wisata dengan sejumlah uang setiap tahunnya. Konon untuk pemeliharaan bangunan dan rumah-rumah tradisional.

“Tidak cukup memang, tapi setidaknya ada perhatian pemerintah,” begitu kata Rambu Lydia, juga warga Kampung BondoMarotto. “Kalau sudah jadi situs, barang peninggalan adat tidak boleh dijual. Atap rumah tidak boleh diganti seng. Rumah di depan sana itu,” ia menunjuk ke rumah paling luar, “tidak termasuk situs budaya karena atapnya sudah ganti seng. Kalau ada turis mau foto, kita minta mereka tidak foto rumah itu.”

Dua juta rupiah: mahal kah untuk membuat atap alang-alang ini?

Rambu Lydia bercerita lagi. “Bukan alang saja yang bikin mahal. Biaya lain-lain yang bikin kami tidak sanggup menanggungnya.”

Ia melanjutkan, orang Sumba Barat menganggap rumah seperti tubuh sendiri. Tiap bagian rumah melambangkan bagian tubuh yang harus dijaga. Untuk “kelahiran” rumah baru, banyak prosesi yang mengikutinya.

Untuk menentukan lokasi rumah, warga biasanya memotong babi hingga sepuluh ekor. Untuk pasang tiang rumah, tak kurang enam ekor babi dikorbankan. Belum lagi untuk pasang rangka atap, lantai, dinding hingga penutup atap. Semua menuntut upcara yang tentunya perlu biaya tidak sedikit. Jika rumah sudah selesai, ada lagi upacara yang harus dilalui sebelum bisa ditempati. Makin besar dan penting rumah, makin besar pula upacaranya.

“Bantuan pemerintah sampai ke upacara adat?” tanya saya.

Rambu Lydia menggeleng. Bantuan itu, menurutnya, hanya cukup untuk membeli sebagian material saja. “Padahal biaya upacara adat jauh lebih mahal daripada biaya rumahnya,” keluhnya.

Di Desa Teun Baun, Amarasi Barat, Bapak Raja Robert Koroh mengajak saya ke salah satu bangunan milik kerajaan Amarasi. Sonaf Amarasi yang biasa ditunjukkan ke turis yang datang terlihat masih bagus dan terawat. Sedangkan sonaf yang ditunjukkan ke saya ini tersembunyi di balik pohon tinggi dan rumput yang rimbun. Kondisinya memprihatinkan.

Sonaf Timor agak berbeda dengan istana raja di tempat lain di NTT. Jika di tempat lain biasanya menggunakan kayu, Belanda membangun sonaf di Timor dengan bata dan atap sirap kayu. Ukuran sonaf Timor relatif lebih besar, layaknya rumah-rumah orang kaya jaman sekarang.

“Sirap-sirap itu dibawa kabur (tentara) Jepang dan diganti dengan seng,” kata Bapak Raja Koroh.

Beberapa potong atap masih tertutup sirap dengan susunan berantakan. Dinding, lantai dan tiang-tiang lainnya pun tidak kalah memprihatinkan. Sayang memang, Padahal, dari jauh keanggunan bangunan ini masih terlihat. Di dalamnya pun saya masih bisa merasakan megahnya sonaf ini.

Di Kampung Wae Rebo, Manggarai, alang-alang tidak lebih mudah dicari. Dengan diameter niang mencapai tigapuluh meter dan tinggi hingga lima belas meter, bisa dibayangkan banyaknya alang-alang yang dibutuhkan. Di hutan di sekitar Wae Rebo sudah sulit ditemukan alang-alang, walau memang tidak pernah terlalu banyak juga sebelumnya.

Lembaga internasional seperti UNESCO dan beberapa donatur nasional nampaknya lebih “melek” dengan kondisi rumah-rumah tradisional yang mengkhawatirkan ini. Lewat bantuan mereka, satu persatu niang berbentuk kerucut ini terbangun kembali. Kini wajah Wae Rebo nampak selangkah lebih dekat dengan aslinya.

Di Desa Diroen, Belu, ketika saya menceritakan cerita sukses renovasi rumah tradisional di kampung Wae Rebo, Kepala Desa, Bapak Cyrillus Ernesto Koli yang biasa dipanggil Bapak Tody, tergerak untuk melakukan hal yang sama.

“Warga desa sudah lama berencana bangun satu lagi rumah tradisional melengkapi lima rumah yang ada,” katanya. “Materialnya sudah ada, tapi untuk bangun rumah, biaya upacaranya mahal sekali,” lanjutnya.

Ia kemudian mengajak saya membantu mendapatkan dana dari lembaga yang sama. Saya tidak langsung mengiyakan.

“Apa tidak sebaiknya dipikirkan cara lain selain minta bantuan, Bapak?”

“Misalnya?”

Kami kemudian berdiskusi untuk belajar dari desa wisata seperti Kampung Wae Rebo dan membangun yang serupa di Diroen. Desa ini lumayan lengkap. Wisata alam, budaya, petualangan, semua ada di sini. Tinggal dipromosikan saja.

Bapak Tody tertarik. Sisa hari itu kami gunakan untuk bertemu dengan pengurus desa yang lain dan membicarakan mimpi ini. Sayangnya saya harus melanjutkan perjalanan saya. Walau begitu, saya janji ke Bapak Tody akan terus mempromosikan Desa Diroen, dan desa-desa lain di NTT, agar cita-cita mempertahankan tradisi rumah adat – dengan atap alang-alang tentunya – dapat terwujud.