Jika ada yang pernah bilang duka dan suka seperti dua sisi roda, cobalah datang ke Larantuka yang suasana duka dan suka seperti menggenggam mata uang dengan dua sisi berbeda.

Suka cita di Larantuka, Flores Timur

Setelah perjalanan delapan belas jam dari Jakarta, saya akhirnya tiba di Larantuka menjelang tengah malam. Anehnya, bukan suasana sepi dan gelap yang saya temui, seperti saya duga sebelumnya.

Kota ini memang tidak seramai Kupang apalagi Jakarta. Tapi orang-orang yang ditemui berkerumun di seluruh penjuru kota bikin kota jadi lebih hidup. Bahkan, di salah satu kapela tempat seorang penumpang berhenti, kerumunan ramai orang-orang tampak seperti pasar kepagian, bikin langit yang gelap jadi satu-satunya penanda kalau saat itu tengah malam.

Memang bukan percakapan seru yang terdengar, tapi lebih banyak suara-suara pelan, tertahan bahkan bisikan menggema di sana-sini. Diselingi suara angin laut yang berdesir, malam terdengar sangat magis. Kota ini seolah sedang menunggu kelahiran seorang warga terhormat yang sudah ditunggu lama.

Seluruh penduduk Larantuka memang sedang menanti kedatangan puncak perayaan minggu Paskah atau sering disebut Semana Sancta. Dan walau sudah mulai dari beberapa hari sebelumnya, saya beruntung sempat mengikuti hari terpenting dari perayaaan ini yaitu Jumat Agung yang tahun ini jatuh pada tanggal 2 April.

Esoknya, walau prosesi acara baru akan dimulai tengah hari, tapi penduduk kota – entah panitia atau bukan – terlihat sibuk sedari pagi. Orang-orang hilir mudik berjalan dari satu rumah ke rumah lain, ngobrol dengan tetangga dan menggotong barang-barang. Memang terlihat seperti kegiatan sehari-hari, tapi aura ketergesa-gesaan sangat kental terasa, apalagi di kota yang lengang sehari-harinya ini.

Beberapa mobil menurunkan anggota keluarga yang datang dari luar kota untuk ikut serta perayaan Semana Sancta. Mereka datang tak hanya dari kota tetangga seperti Maumere dan Ende, tapi juga tempat-tempat sejauh Surabaya dan Semarang. Sehari sebelumnya bahkan saya menumpang bus rombongan sebuah gereja dari Jakarta.

Hari itu, konon puluhan ribu orang akan menyaksikan dan mengikuti prosesi Semana Sancta yang paling akbar yang pernah digelar. “Tahun ini upacara paling besar karena yang ke-limaratus,” kata Ibu Adel, tuan rumah saya di Larantuka.

Paskah di Larantuka nampaknya memang untuk semua orang. Saya tidak merayakan Paskah dan tidak mengerti cerita dan arti di baliknya. Tapi hari itu saya dapat merasakan dan bahkan terbawa mood-nya.

Suara rintihan lembut o vos omnes dari Katedral kota sayup mengisi setiap relung langit Larantuka. Peziarah yang turut menggumamkan o vos omnes pun akhirnya terdengar setengah meraung ketika mereka mengenang penderitaan Yesus disalib. Nun jauh di luar sana, patung Tuan Ma dan Tuan Ana sedang diarak menuju Katedral dari kapela-nya masing-masing.

Tak hanya di Katedral, mereka yang menunggu kedatangan Tuan Ma dan Tuan Ana di pinggir jalan pun ikut serta menyanyikan lagu-lagu sesembahan yang lebih terdengar seperti tangisan pilu. Wajah-wajah peziarah terlihat sedih, sendu dan pasrah dihiasi dengan bulir-bulir air mata. Ketika akhirnya mereka melihat Tuan Ma dan Tuan Ana melintas di depan mata, nyanyian pilu mereka berubah menjadi lolongan sedih dengan derai air mata semakin deras. Beberapa bahkan berlutut di tanah karena tak kuat menahan emosi. Kesedihan jadi milik seluruh manusia di Larantuka minggu ini. Saya pun tak kuasa terhanyut di dalamnya.

Minggu malamnya, patung Tuan Ma – Bunda Maria – dibawa pulang ke kapela-nya. Kembali terdengar nyanyian sedih mengiringi patung menyusuri jalan-jalan Larantuka yang masih ramai walau tidak sepadat di hari Jumat. Banyak orang yang sudah pulang ke kota asalnya. Tapi, masih cukup banyak yang mengikuti acara terakhir rangkaian Semana Sancta ini. Kali ini, mereka ikut serta dan masuk ke dalam rombongan.

Di dalam kapela Tuan Ma, saya berdiri di samping seorang perempuan muda yang sejak tadi tidak pindah dari posisinya berdoa. Ia berdiri di atas kedua lututnya. Kedua tangan tertangkup di depan wajah, memegang seuntai rosario. Matanya lurus menatap kaki patung Tuan Ma.

Sesekali ia merunduk dan mencium kaki Tuan Ma. Saat itu pula ia menangis, meratap bahkan meraung dengan bibir tak henti memanjatkan doa. Ketika orang lain datang dan pergi, ia masih saja di tempatnya semula. Sampai akhirnya ia menyentuhkan rosario di tangannya ke kaki Tuan Ma, kembali menangis dan mencium rosario tersebut.

Seorang suster mendekatinya, mengusap punggungnya dan membisikkan pelan ke telinganya. “Mari kita bersuka cita, karena Bunda Maria tahu kita telah persembahkan hidup kita,” bisiknya.

Ya, prosesi Paskah sudah selesai. Masa bersedih sudah berlalu. Semua orang sekarang bisa merayakan keberhasilan menyelenggarakan paskah dengan baik.

Di luar kapela, sebuah meja panjang telah terpasang rapi. Satu persatu makanan, minumam, buah, arak, rokok dan cemilan tersaji di atasnya. Sebagian umat membantu menyajikan. Yang lain menunggu dengan sabar.

Di banyak rumah, perayaan dilanjutkan dengan mengundang tetangga dan saudara untuk menyantap makanan dan minuman. Bapak Decky bahkan mengundang sanak saudara dari Kupang untuk merayakan di rumahnya.

Saya sempat heran menyaksikan sumringah dan riang wajah-wajah yang larut dalam pesta ini begitu berbeda dengan satu-dua hari sebelumnya. Betapa mereka menikmati pesta ini sementara saya masih dalam proses menelan dan mencerna kesedihan yang berkepanjangan tanpa tahu apa artinya.

Walau sudah usai dan kesedihan tak lagi terlihat, Bapak Richard Demu, laki-laki asal Bajawa yang saya temui beberapa hari sebelumnya ketika sedang memasang turo di depan rumah Bupati, mengingatkan dengan kalimatnya yang khas.

“Duka dan suka seperti dua sisi mata uang logam. Kita tidak bisa pakai salah satunya saja. Ada saat untuk masing-masing sisi. Semana Sancta waktu yang tepat untuk (menghayati) dua-duanya.”