Hitam, Putih dan Abu-Abu

Life
Messer Marco Polo, salah satu buku yang berhasil memberi warna dalam perjalan Silk Route ke Cina, dan memberi inspirasi untuk menceritakan kembali perjalanan ini dengan kaca mata saya sendiri.

Warna hitam dipersepsi mata ketika tak satu pun komponen warna lain dipantulkan ke mata. Sebaliknya, warna putih terjadi ketika seluruh komponen warna memantul ke mata. Abu-abu – jika bisa disebut warna – muncul di persepsi visual ketika seluruh komponen warna dipantulkan dengan komposisi seimbang. Jadi, bayangkan ketika kita melihat – sengaja atau tidak – hidup dengan kacamata hitam, putih atau abu-abu?

Biru, hijau, merah dan kuning semua menjadi abu-abu. Yang besar terlihat kecil. Yang kecil jadi tak terlihat. Yang menarik jadi tidak menarik. Yang berpotensi menarik keburu dianalisis sebagai tidak menarik. Yang “tidak” menarik apalagi, sudah mental – baik jadi hitam atau pun putih – sebelum sempat dianalisa pikiran.

Seperti itu kah hari kita? ‘Terlihat’ biasa bahkan tidak menarik? ‘Terlihat’ hitam, putih dan abu-abu? Tak banyak yang bisa bahkan perlu diceritakan?

Seorang teman bilang saya bisa menceritakan sekeping biskuit susu dengan deskripsi lebih dari sekedar sekeping biskuit susu. Tak cuma bentuk, warna, rasa dan kandungan gizinya, saya bisa berandai-andai jika biskuit itu dihancurkan, diberi coklat, digulingkan di atas gula halus dan dimakan bersama secangkir coklat panas di sore hari yang tengah hujan bersama teman yang sedang #galau. Panjang? Iya.

Sebab, semua orang sebenarnya hidup dengan jatah yang kurang lebih sama. Sama-sama punya duapuluh empat jam sehari. Sama-sama tidur lima-delapan jam sehari. Sama-sama makan nasi (setidaknya di Indonesia). Dan seterusnya.

Ada orang yang menghidupi duapuluh empat jamnya sebagai satu paket yang dia sebut hari. Jadi ketika ditanya bagaimana harimu, ia cenderung menjawab dengan kesimpulan saja, “Baik”. Kalau yang bertanya sekedar basa-basi, niscaya obrolan terhenti di situ.

Tapi, ada juga orang yang menghidupi duapuluh empat jamnya sebagai 1,440 menit bahkan sebagai 86,400 detik sehingga ketika ditanya yang sama, kadang butuh waktu sama bahkan lebih untuk menjelaskan kejadian sepanjang harinya. Belum lagi ketika ia berusaha mengaitkan dengan hari sebelumnya atau keinginan di hari berikutnya. Sama seperti ketika menjelaskan biskuit susu sebagai saksi curhat dua orang sahabat yang sedang #galau tadi.

Kenapa cerita bisa jadi lebih panjang dan – seringnya – lebih menarik? Ketika melihat biskuit susu, tak cuma mata yang dilatih melihat bentuk, warna dan ukurannya. Tapi juga hidung, tangan, telinga hingga akhirnya lidah. Yang bikin lebih kaya (baca: kompleks) adalah ketika setiap indra tadi menghantarkan persepsi, otak mulai mengasosiasi. Belum lagi ketika tangan dan lidah menyentuh dan mengecap bersamaan, asosiasi lain pun timbul. Dan seterusnya. Bayangkan, itu baru sekeping biskuit susu. Bagaimana selama kita terjaga, mata melihat ratusan bahkan ribuan orang lalu-lalang, berbagai macam bau-bauan, dan seterusnya. Itu pun yang tidak disengaja.

Bagaimana ketika kita bertemu, berbincang, bersentuhan dengan orang yang kita kenal, sayang atau sedang kita gebet? Berapa banyak hal-hal diluar persepsi panca indra yang bisa diceritakan. Jadi, selama tidak sedang mati rasa, tidak sakit gigi, tidak sedang bete, rasanya aneh kalau menjawab pertanyaan “Apa kabar hari mu?” hanya dengan “Baik.”

Pernah nonton film “Buried”? Selama hampir dua jam, film itu tidak pernah berpindah setting selain dalam peti mati berukuran 80x60x200cm dengan cahaya minim bahkan hampir gelap total. Apa yang bikin penulis cerita bisa menghasilkan film sepanjang itu? Imajinasi. Asosiasi. Kegairahan mengutak-atik persepsi panca indra dengan apapun yang bisa menghasilkan perasaaan, kesimpulan bahkan pertanyaan lain.

Kalau di dunia yang bebas penuh warna saja kita sudah mengajarkan otak untuk malas berpikir, bukankan kita sama saja dengan mereka yang terbujur kaku di dalam peti mati?

Ayo ah, live your life to the fullest. Appreciate every hour, every minute and every second. Because they count. Jadi, kalau saya tanya “Bagaimana harimu?” bikin saya kewalahan mendengar ceritamu ya. Kalau sedang tak punya waktu, tulis 🙂

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
I found you

I never thought I would have them all again, even in dreams. Now I do.

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Life
How could devotion turn bad?

Personally, I yearned to be devoted to a person. I fould it beautiful to have all worries and tiredness lifted up knowing I would return home to meet someone I devoted my life to. But I couldn’t lie.