Group Process Facilitation

“Saya berhenti mencari orang yang passionate; saya sekarang mencari orang yang berperilaku going to extra miles.”

Di training tentang pengembangan project teamwork kemarin, saya ditanya tentang kenapa sulit mencari orang yang passionately consistent dengan pekerjaannya. Saya bilang, passion itu emosional dan superficial. Dia hadir meletup-letup tapi kemudian cepat mati. Saya bilang, carilah orang yang terbiasa ‘going extra miles.’

Contohnya: ketika diminta untuk membuat presentasi tentang diagnosa kinerja organisasi, orang yang ‘going extra miles’ tak cukup membaca laporan tahunan dan web site organisasi; dia akan tergerak memikirkan bagaimana organisasi tersebut dinilai oleh dunia luar, bahkan, memprediksi masa depan industri di mana organisasi tersebut beroperasi. Orang tersebut berani ‘keluar dari deskripsi pekerjaan’ dan masuk ke area ‘dampak dari pekerjaaan,” dia keluar dari ‘kewajiban bekerja’ menjadi ‘kesempatan membuat perubahan.’

Sayangnya, hingga hari ini sedikit sekali saya bertemu pekerja seperti ini. Pekerja yang tergolong generasi milenial yang saya temui pun – yang menurut penelitian terdorong dengan pekerjaan berbasis dampak pun – jarang menunjukkan perilaku going extra miles. Saya belum bertemu orang yang tepat? Mungkin.

Setelah curhat, Fajar Anugerah berbaik hati menuliskan pandangannya dan alat yang bisa dipakai untuk menemukan orang-orang seperti ini. Menurutnya, kata kuncinya adalah ‘motivasi.’ Saya tambah dikit, bukan perkara termotivasi atau belum termotivasi, perilaku going extra miles nampaknya, menurut pengalaman saya, perlu menghadirkan motivasi yang tepat. Kalau motivasinya ‘sekedar survival’ ya … begitulah 😁

Pertanyaan berikut dari tim saya yang merasa tersentil kemarin, “Going extra miles itu perfeksionis?”

Saya jawab, “justru berlawanan.” Kok bisa? Ngobrol yuk!

Kepribadian vs Kompetensi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Society
Not A Charity, But An Opportunity

Opportunity. That is what persons with disabilities wanted. Unfortunately, due to lack of common understanding, they received more symphaty then what they need.

Society
Ulurkan Tanganmu, Bukan (Hanya) Dompetmu

Kesempatan. Itulah yang dituntut oleh teman-teman penyandang disabilitas. Sayangnya, karena kekurangpahaman, rasa kasihan lah yang malah sering menghampiri mereka.

People
The Seven Wonders of Participatory Workshop

Working with lots of type of participants in participatory workshops is almost always enjoyable. Well, if you can control their behavior. Fact is: you can’t.