Menjadi Keran

Life
Memfasilitasi ibu-ibu calon tenaga enumerator survey sanitasi lingkungan di Pariaman, Sumatra Barat

Saya kenal arti investasi jauh sebelum saya fasih apalagi terbiasa mengucapkannnya. Tak begitu jelas kapan saya mulai menghayati kata ini. Bisa jadi ketika saya diminta presentasi ‘mempertanggungjawabkan masa depan’ di depan orangtua saya, selang beberapa hari setelah diwisuda Oktober 1999.

Berbekal coretan di selembar kertas A4, kemudian dilanjut dengan slide sederhana, dengan agak ragu, mulut saya menjawab “Menjadi ‘keran’ bagi seribu orang” ketika ditanya cita-cita hidup.

Ibu yang sempat ‘mengancam’ saya harus mencari uang kuliah sendiri jika tidak lulus empat tahun tidak terima begitu saja dengan cita-cita mulia yang menurutnya “cita-cita semua orang” itu.

Sungguh, presentasi ini jauh lebih menegangkan dibandingkan sidang tugas akhir saya yang tak lebih dari satu jam. Apalagi, kedua ‘dosen penguji’ yang ini akan terus memonitor janji yang saya patri hari itu.

“Apapun pekerjaannya, harus jadi ‘keran’ rejeki buat orang lain atau membantu orang lain menemukan ‘keran’ mereka.” Saya tak bisa berjanji lebih banyak dari itu.

Selama beberapa tahun setelah ‘presentasi’ tadi, saya bekerja layaknya Metromini dikejar setoran. Bukan uang, apalagi benda. Tapi semua kesempatan di depan mata yang saya coba. Ngemsi hingga bikin usaha pakaian. Penyiar radio hingga konselor ODHA. Itupun di luar pekerjaan saya di bidang Information System yang sudah ‘melenceng’ dari ilmu Teknik Sipil semasa kuliah. Puncaknya adalah ketika di ujung tahun 2003, saya harus bekerja di tiga tempat dalam satu hari. Pagi-pagi sekali di konsultan dekorasi. Siang  hari di konsultan engineering. Sore hingga malam mengelola sebuah wedding gallery.

Capek pastinya. Tak jelas pula apa tujuannya. Saya cuma tak ingin melewatkan kesempatan. Itu saja. Jawaban akhirnya saya dapat dari seorang teman yang mengajak saya berbisnis lansekap dan taman. “Investasi terbaik adalah investasi pengalaman. Kalaupun gagal, kamu bisa bangkit lagi dan tidak perlu mengulangi kegagalan ketika dipercaya memimpin puluhan bahkan ratusan orang yang menggantungkan hidupnya ke dirimu.”

Tak semua pekerjaan yang saya lakukan berlanjut hingga kini. Bahkan, pekerjaan yang saya lakukan sekarang pun hampir tak terlihat benang merahnya dengan pekerjaan-pekerjaan tadi. Satu hal yang tidak saya sesali: semua pekerjaan tadi, semua pengalaman mulai dari nol bahkan harus terjerembab di nol lagi, semua orang yang ditemui, semua tanggungjawab yang dipikul, semua waktu dan uang untuk ‘membayar’ pengalaman tadi, sedikit banyak membantu membentuk seorang manusia yang jadi lebih sensitif dan terbuka dengan kesempatan. Yang lebih penting, apapun kesempatannya, apapun pekerjaannya, janji yang saya patri kembali beberapa hari sebelum ayah saya berpulang mudah-mudahan tetap menjiwai semua yang saya kerjakan selanjutnya.

Saya bisa. Kamu bisa. Kita bisa.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Life
How could devotion turn bad?

Personally, I yearned to be devoted to a person. I fould it beautiful to have all worries and tiredness lifted up knowing I would return home to meet someone I devoted my life to. But I couldn’t lie.

Life
Are you really sharing or judging?

Recently, I promised myself to hold my judgments when talking to others at least until I have to or they ask me to. I decided that active listening is paraphrasing not summarizing, it’s mirroring, not leading, and it’s clarifying, not judging. That promise was put on test yesterday.