Jangan Jual Keramahan Kami

Travel

Trip ke NTT, 2010

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

“Jalan-jalan kok sampai ke sini?” tanya seorang bapak dalam angkutan kota yang penuh sesak menuju Cancar, Manggarai, Flores.

“Memang tidak ada orang yang jalan-jalan sampai ke sini?” saya balik bertanya sembari menghirup udara sejuk perbukitan Manggarai.

“Kalau ke sini, apalagi sampai ke Kampung Todo dan Wae Rebo, biasanya (untuk) penelitian,” jelasnya.

Bapak tua yang tak pernah lepas dari destar-nya ini kemudian menceritakan pengalamannya mengantar seorang peneliti dari Jerman menyusuri jalan dari Cancar hingga Kampung Todo, Narang, dan akhirnya tiba di Kampung Denge. Semua ada di Manggarai. Walau sepeda motornya harus masuk bengkel karena bocor terantuk jalan berbatu di pantai selatan Manggarai, ia tidak minta ganti rugi apalagi imbalan.

“Wah, berarti saya iseng ya, Pak?” seloroh saya setengah bertanya. “Anggap saja pengen ketemu saudara sebangsa setanah air.”

Jawaban sekenanya yang terlempar dari otak malas saya justru malah jadi jawaban ampuh bagi pertanyaan serupa dalam perjalanan tiga bulan ini. Semua orang yang saya temui menyuguhkan keramahan dan kepolosan khas NTT. Ini persis sama seperti yang saya rasakan ketika bertemu saudara sendiri. Di beberapa tempat, keramahan terasa layaknya pelayanan hotel berbintang lima berbalut kesederhanaan.

Pernah saya iseng mengetuk pintu sebuah ume kebubu di Amanuban Barat, di tepi jalan raya dari Kefamenanu, Timor Tengah Utara menuju Soe, Timor Tengah Selatan, dengan niat untuk mengambil foto. Setelah mengungkapkan tujuan, ibu pemilik ume malah mengajak saya masuk dan menyuguhi penhana, teh panas, dan jambu biji. Dari rencana cuma ambil foto, kami akhirnya asyik ngobrol sampai lebih dari setengah jam.

Keramahan kadang-kadang terasa berlebihan hingga saya merasa seperti tamu terhormat. Di Kampung Pasunga, Sumba Tengah, saya dilayani layaknya tamu adat. Makan dan istirahat di uma gudang dengan tetua klan Madieta, diambilkan air untuk mandi, hingga diantar berkeliling ke Kampung Gallubakul yang konon masih satu rumpun dengan Kampung Pasunga.

Di sebuah kampung di atas bukit kecil sebelum Pela, Manggarai, sambil basah kuyup menuntun motor sewaan yang mogok, saya mengetuk pintu sebuah rumah untuk minta izin berteduh di terasnya. Tak hanya tempat berteduh, segelas kopi panas dan sepiring singkong rebus pun terhidang untuk saya. Berteduh pun tidak di teras, melainkan di ruang tamu bersama seluruh anggota keluarga yang kemudian menemani saya berbincang mengusir dingin. Tambahan lagi, saya diantar oleh anak pemilik rumah dengan motornya sampai ke Pela, ditemani hingga bus yang saya tunggu tiba.

Walau tak ingin menolak keramahan ini, akhirnya saya penasaran juga. Ada apa di balik semua keramahan ini? Apakah hanya untuk tamu atau sudah menjadi budaya sehari-hari? Ketika akhirnya mendarat lagi di Larantuka, di ujung perjalanan, saya berbincang dengan Bapak Tens, tuan rumah saya.

“Orang sini (NTT) tidak suka kalau ada teman atau keluarga yang berkunjung malah tinggal di hotel. Makin banyak orang di rumah makin banyak berkat dan rejeki yang datang,” kata lelaki keturunan Rote ini.

Sayangnya, keramahan itu kadang-kadang disalahartikan oleh pengunjung seperti saya. Terlalu lama tinggal di kota, saya tak biasa menerima kebaikan tanpa memberi balasan. Misalnya, di Kampung Paranobaroro, Sumba Barat Daya, sekerumunan anak muda mengikuti saya ketika mengambil foto rumah tradisional mereka. Saat beristirahat, mereka “menodong” minta uang.

“Untuk beli rokok,” katanya. Saya tidak mengeluh. Tidak juga senang. Biasa saja. Anggap saja imbalan karena telah mengizinkan saya mengambil foto kampung mereka.

Di lain kesempatan, dalam perbincangan sore hari di Kampung Bena, Ngada, Bapak Philippus, salah seorang pengurus kampung, curhat ke saya. “Saya sedih lihat anak-anak (di Bena) sering minta ini-itu ke turis yang datang. Padahal, sudah sering saya bilang, boleh menyapa tapi jangan sampai minta-minta,” ujarnya lirih.

Saya memang mengalami sendiri. Buat saya, lagi-lagi, tak masalah. Namanya juga anak-anak. Apalagi yang diminta bukan uang atau barang berharga, tapi permen atau sekadar foto. Tapi tidak untuk Bapak Philippus. Ia tidak ingin tamu pulang dengan kesan yang salah.

“Orang Ngada mungkin keras. Kami mungkin miskin. Tapi, kami pantang minta-minta. Apalagi kepada tamu yang harusnya kami layani,” ujarnya pelan tapi tegas. “Saya sedih kalau keramahan orang Bena disalahartikan sebagai pelayanan yang harus diberi imbalan. Saya takut anak-anak kami kehilangan budaya yang sebenarnya,” lanjutnya.

Ia mengerti dan menghormati tamu yang datang, terpesona dengan keramahan warganya, dan ingin berbuat hal yang sama. Tapi, ia sedih jika pemberian pengunjung ke anak-anak malah jadi kebiasaan, bahkan tuntutan. Ia lebih senang jika tamu membalas keramahan itu dengan membeli kain yang ditenun oleh perempuan atau kopi yang ditanam oleh laki-laki Bena. Ia lebih senang warganya menerima uang atas pekerjaan yang diusahakan sendiri, bukan karena belas kasihan.

Saya tercekat. Sebagai pengunjung, ternyata saya masih menggunakan uang dan materi sebagai jalan singkat membalas keramahan tuan rumah saya. Padahal, seperti kata Bapak Philippus, justru jalan singkat itulah yang akan mengikis keramahan dan kebaikan orang NTT yang sesungguhnya.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.

Nasi Kuning Gereja Maranatha, Ambon
Travel
Dari Mata Turun ke Perut

… ada cerita panjang mengurai dibalik tiap cecap rasa dan tekstur serta meriahnya warna makanan selama traveling. Apalagi jika bisa melihat langsung bagaimana makanan itu dibuat di tengah kepulan asap menguar. Lebih seru lagi jika bisa ikut masak, bercanda dengan ibu-ibu di dapur mereka.