Kurikulum Kehidupan

Life
Pace, Lot, Daniel dan teman-teman nelayan dari Pulau Ndao, Nusa Tenggara Timur

Entah kenapa, sejak lulus SMA, ada saja sosok-sosok baru yang muncul di hampir setiap hari ulang tahun saya. Walau singkat, beberapa bahkan tidak sempat saya kenal namanya, mereka punya satu kesamaan: memaksa saya ‘kembali mempertanyakan diri sendiri.’

Hari ini, siapa sangka saya akan bertemu Bapak Ir. R.E.J. Soesiarto, 71 tahun, seorang veteran insinyur mesin yang kini aktif di pendidikan. Bersamanya, saya dipaksa menghitung kembali usia saya yang sebenarnya. Tigapuluh enam? Bisa jadi kurang dari itu.

“Jangan hitung (usia) hidup dari umur, tapi dari kebaikan yang kamu berikan dan tinggalkan ke orang lain,” adalah kalimatnya yang paling dalam menonjok sel-sel otak saya.

Seorang Katolik, ia mengaku memaksa dirinya berpikir di luar kotak bernama agama untuk menemukan arti kebenaran hakiki. Ia tidak percaya akan kebenaran relatif. Tapi ia juga percaya bahwa kebenaran hakiki tidak datang di depan mata tanpa usaha. Untuk itulah ia nyantri di pesantren, berguru dengan seorang biksu hingga bermeditasi di Pulau Dewata. Tanpa meninggalkan ‘label’ agamanya, Pak Soes merasa ia menemukan kebenaran hakiki adalah kebenaran Tuhan dan manusia perlu ‘melintas batas kenyamanan’ mereka untuk menemukannya.

“Berapa lama, Pak?” tanya saya tentang perjalanan spiritualnya.

“Sejak anak pertama saya tidak lulus sekolah. Kata gurunya nilainya tidak cukup seperti ketentuan kurikulum,” jawabnya. Dahinya berkerut makin tebal. Otaknya bekerja keras. “Entahlah, Mas. Sudah lama,” jawabnya pasrah. “Ndak usah dihitung berapa lama. Sabar saja. Lah wong, kalo nggak salah di agama Islam pun diajarkan kalau ‘Tuhan saja tidak tergesa-gesa’, iya toh?”

Duer.

Walau anaknya akhirnya lulus sekolah, sejak itu ia justru gelisah dan mempertanyakan apa itu ‘kurikulum’? Untuk apa manusia belajar? Kenapa mesti ada pendidikan?

Perbincangan njelimet di hari Jumat ini mungkin jadi lebih asyik karena kami ‘nongkrong’ di kantin perpustakaan Universitas Indonesia. Atau, bisa jadi karena siang ini saya memang sedang rindu sosok-sosok yang senantiasa mengemplang saya seperti di hari-hari ulangtahun sebelumnya.

“Mas, akhirnya saya simpulkan. Orang ke sekolah itu untuk belajar meniru sifat-sifat Tuhan. Situ mestinya bersyukur lho diajarkan Asmaul Husna. Lah wong, itu Asmaul Husna saya pakai dalam kehidupan sehari-hari. Sewaktu mengevaluasi kerja tim saya saja saya pakai Al-Awal dan Al-Aqhir: bahwa pekerjaan itu ada awalnya dan akhirnya. Bahwa, tim saya mesti punya inisiatif dan niat untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik,” ujarnya panjang lebar.

Aduh Pak, jangan bikin saya makin malu hati dong di hari jadi saya sendiri, saya membatin.

Seingat saya, kalimat terakhirnya sebelum kami berpisah adalah, “Mas, saya pikir usia saya nggak akan lebih dari enampuluh tujuh tahun. Tapi kok ya sampai juga ke tujuhpuluh satu. Mungkin Tuhan mau ngasih kesempatan supaya umur saya setimpal dengan kebaikan yang bisa saya tinggalkan.”

Dan ia menjabat tangan saya. Jabatan tangan pertama berisi ucapan selamat ulang tahun yang ternyata datang justru dari orang yang saya tidak kenal sebelumnya.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
1
I found you

I never thought I would have them all again, even in dreams. Now I do.

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Life
How could devotion turn bad?

Personally, I yearned to be devoted to a person. I fould it beautiful to have all worries and tiredness lifted up knowing I would return home to meet someone I devoted my life to. But I couldn’t lie.