Travel

Kopi Toraja di Kedai Keiko, Palu

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Di luar alasan kesehatan – dan selama nggak dianggap tamu kurang ajar – saya pilih kopi dan teh ketika ditawari minum. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.

Saya tak punya kopi favorit. Saya juga bukan pemuja Arabika dan pembenci Robusta. Ada kopi yang cocok untuk tiap-tiap waktu dalam sehari atau untuk tiap suasana. Pagi hari saya pilih kopi beraroma kuat seperti Toraja dan Flores untuk menyatukan jiwa dengan raga. Siang hari – jika memang ingin ngopi – saya pilih intensitas sedang seperti Aceh, Bali, Wamena atau Lampung. Sore atau malam hari, saya pilih kopi Jampit atau Mandailing, apalagi kalau tujuannya agar mata tetap terjaga minimal duabelas jam setelahnya.

Kala traveling, kopi lebih bercerita tentang kebiasaan setempat. Itulah sebabnya menyeruput kopi luwak Manggarai sembari nongkrong di atas teras batu niang (rumah tradisional) Wae Rebo ampuh mengusir dinginnya udara gunung. Ngopi pagi (jam sembilan masih pagi kan?) di Banda Aceh pun nikmat walau ditemani obrolan nggak penting dengan teman-teman PNS setempat. Me-lelet (menggambar dengan ampas kopi) bisa jadi kegiatan alternatif ketika siang hari sudah mati gaya di Kota Lasem.

Mengusir hawa panas Ambon lebih nikmat kala ditemani kopi Rarobang-nya Kedai Sibu-Sibu. Dan jangan lupa, tutup malam dengan ngobrol ngalor ngidul di warung kopi sepanjang jalan Gajah Mada, Kota Pontianak sembari mengunyah pisang serikaya atau menyeruput garang-nya kopi jos ditemani gorengan di angkringan seantero kota Jogja. Kalau lagi pulang kampung ke Pekalongan, saya nggak akan lupa nyeruput Kopi Tahlil sembari nyemil jadah ketan.

Berbeda dengan kopi, teh selalu membawa memori sedih-senang dengan almarhum ayah saya. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, beberapa kali kami bepergian bersama. Paling sering tentu saja pulang kampung ke Pekalongan. Kebetulan rumah keluarga ‘dikepung’ oleh beberapa pabrik teh khas Kota Batik ini. Sebut saja, Teh Gopek, Teh Dandang dan Teh Nutu. Kebetulan yang terakhir ini merek favorit ayah saya. Pernah ia berucap suatu saat ingin menyempatkan mampir ke pabrik teh kesukaannya. Waktu tak berpihak pada ayah saya, akhirnya anaknya lah yang dapat kesempatan di akhir Juli 2011 lalu.

Teh Klasik Nutu, Pekalongan
Teh Klasik Nutu, Pekalongan

Mbak Yuliani membagi rahasia wangi Teh Nutu yang khas. Beda dengan teh lain, selain dicampur kuntum melati (Jasminum Grandiflorum), merek satu ini juga mencampurkan daun teh (Camellia Sinensis) dengan putik bunga gambir (Uncaria Gambir). Aroma yang keluar dari putik bunga gambir dari pegunungan sekitar Pekalongan ini sedemikian kuat sehingga pencampuran dibuat terpisah. Untuk satu campuran, daun teh segar dibagi dua. Bagian pertama dicampur kuntum melati. Bagian lainnya dicampur putik bunga gambir. Masing-masing bagian dimasak terpisah. Setelah matang dan disiangi, keduanya kembali dicampur kembali.

“Mencampur dan memasak daun teh dan putik bunga gambir perlu keahlian. Karena ukurannya, putik bunga Gambir sering lolos dari saringan,” jelas Mbak Yuliana yang hampir sepuluh tahun bekerja di pabrik Teh Nutu. Demi menjaga mutu, saya diminta tidak menjelaskan lebih lanjut proses pencampurannya.

Sebagai hadiah kebawelan saya, perempuan asli Pemalang ini menghadiahkan saya satu karton Teh Nutu klasik berisi duaratus kantong. “Ini kan kesukaan ayah kamu?” ucapnya.

Andai almarhum ayah saya masih ada, ia pasti bakal senang luar biasa. Apalagi ngobrol-ngobrol kami siang itu ditutup segelas teh klasik Nutu dalam poci gerabah lengkap dengan bongkah kristal gula batu.

Apa cerita dibalik teh dan kopi dari perjalanan Anda?

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Nasi Kuning Gereja Maranatha, Ambon
Travel
Dari Mata Turun ke Perut

… ada cerita panjang mengurai dibalik tiap cecap rasa dan tekstur serta meriahnya warna makanan selama traveling. Apalagi jika bisa melihat langsung bagaimana makanan itu dibuat di tengah kepulan asap menguar. Lebih seru lagi jika bisa ikut masak, bercanda dengan ibu-ibu di dapur mereka.