Nasi Kuning Gereja Maranatha, Ambon
Travel
6
Enter a caption

Berbeda dengan hari sebelumnya, dapur kedai Cik Maimoon di deretan ruko di Kota Kuching, Serawak, Malaysia pagi itu berisik dan semrawut. Biangnya siapa lagi kalau bukan saya yang setengah memohon diajari bikin Laksa Serawak yang sempat bikin saya nambah.

Negara tetangga kita ini sebenarnya nggak punya banyak makanan khas. Tapi, Fahnem, teman baru saya, terus berpromosi kalau Laksa Serawak itu beda dibanding laksa di tempat lain, bahkan di kampung halamnya, Penang. Dia pula yang rela merayu Cik Maimoon agar saya bisa menyusup ke dapurnya. “Kenape tak makan saja?” Cik Maimoon heran.

Menurut Fahnem, melihat bagaimana laksa dibuat sering bikin dia trenyuh. Laksa – yang ia tahu dari neneknya – menyatukan udang di laut dan kelapa di darat di dalam satu mangkuk. Kalau sendiri, mereka tak banyak artinya. Bersama, mereka jadi kekuatan kuliner luar biasa. “Mestinya seperti itulah kita sebagai saudara serumpun, ya?” usul Fahnem.

Tuturan Fahnem seolah hendak mengamini: ada cerita panjang mengurai dibalik tiap cecap rasa dan tekstur serta meriahnya warna makanan selama traveling. Apalagi jika bisa melihat langsung bagaimana makanan itu dibuat di tengah kepulan asap menguar. Lebih seru lagi jika bisa ikut masak, bercanda dengan ibu-ibu di dapur mereka.

Saya bukan penilai makanan. Dalam kamus kuliner saya, cuma ada dua jenis makanan: yang bisa dimakan dan enak dimakan. Di luar keduanya, ada makanan yang ingin saya makan dan lihat langsung – kalau perlu ikut – pembuatannya. Biasanya, makanan ini punya cerita dan sejarah panjang – lebih panjang dari resepnya – atau bahkan cara makan yang unik.

Kadang, saya merasakan sendiri makanan asli suatu daerah langsung di tempat asalnya. Di Desa Tatui, Yapen, Papua, saya tidak diberikan sendok atau garpu ketika makan papeda, melainkan dua pasang gata-gata, sumpit terbuat dari urat batang daun sagu yang ditekuk dua. Makan papeda dengan gata-gata malah bikin makan jadi lebih menantang. “Supaya tidak terburu-buru,” kata Kak Boi, pemandu saya.

Di kesempatan lain, kegiatan makan atau masak bersama jadi kesempatan belajar filosofi hidup penduduk setempat. Di suatu pagi di Desa Ai Toun, Belu, Nusa Tenggara Timur, perut keroncongan saya dibangunkan oleh gemerincing suara peralatan dapur. Padahal, ibunda tuan rumah saya, Bapak Don Bosco, sang kepala desa, sedang sakit.

Ternyata, seorang tetangga ‘ditugaskan’ untuk memasak santap pagi. Segera saya membantu menyiangi daun pucuk labu, salah satu menu favorit saya selama di NTT. Anehnya, ibu tetangga ini tidak mengiris atau mengulek bumbu – bawang merah, bawang putih dan cabai – melainkan mencemplungkannya begitu saja. “Begini biasa kami masak,” jawabnya.

Saya pun mencontohkan bagaimana orang di Jawa atau Sumatra meng-geprek bawang agar aromanya keluar dan makanan jadi lebih harum tanpa harus bikin kuah jadi keruh.

“Benar, rasanya beda,” kata si ibu tetangga. “Pantas masakan di warung-warung Jawa lebih enak ya?”

Esoknya, saya diberi tahu Bapak Kepala Desa kalau kemampuan memasak orang Timor berkembang pesat ketika bersentuhan dengan pendatang. Aslinya, masakan Timor itu sederhana, baik dari bumbu maupun cara memasaknya. Saya sendiri menyebut makan makanan Timor hari itu – sayur pucuk labu, nasi kacang dan ikan kering – sebagai makanan yang ‘jujur’.

Ya, bumbu-bumbu yang ditambahkan seadanya justru tidak menghilangkan tekstur, rasa dan bau dari daun labu, kacang dan ikan kering (ikan asin).

Semua jujur, apa adanya. Hal itu pula yang bikin saya makin mengerti bagaimana saudara-saudara kita di ujung tenggara Indonesia ini mengartikan dan mengaplikasikan kesederhanaan dan kejujuran yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, kadang kesederhanaan makanan mereka tidak diimbangi dengan kesederhanaan menjamu tamu. Ketika menginap di Sumba Barat, opor ayam terhidang di meja makan malam pertama kami. Walau bumbunya kurang pas dengan lidah saya, tak urung saya kaget dengan kemewahan berlebihan ini.

Karena tak enak hati, saya dan teman saya, Dewi, memutuskan ‘mengganti’ pengeluaran tuan rumah kami karena kemewahan yang tidak semestinya kami terima. Bukan, bukan untuk membeli keramahan mereka, tapi setidaknya agar mereka tidak harus terbebani demi untuk bikin kami betah.

Di banyak kesempatan, saya juga bersyukur ketika dalam perjalanan dapat kesempatan menyaksikan, ikut membuat atau makan bersama dengan penduduk setempat. Selain kenal lebih budaya dan tradisi mereka, uang saya yang tidak seberapa banyak, kadang jadi sangat berarti ketika mampu membeli beras atau minyak untuk keperluan mereka sehari-hari.


Tulisan ini disalin dari tulisan yang sama dengan penulis yang sama dari kolom Responsible Traveler di Majalah Liburan.

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.