ArtiSeribuPerak
Travel

Oleh Endro Catur Nugroho

Menawar terlalu rendah, dianggap kejam. Tidak gigih menawar, akhirnya tertipu. Jadi?

ArtiSeribuPerakPeluh menganaksungai dari pangkal kening saya. Udara panas Sumba membuat saya ingin segera menuntaskan urusan jual-beli dengan Mama Ita, pembuat dan pedagang kain tenun ikat dari Kampung Bondo Kodi, Sumba Barat Daya. Namun perbedaan sepuluh ribu rupiah membuat sepotong hinggi (kain laki-laki) bermotif mamuli tak juga berpindah tangan. Padahal, sebelumnya saya berbisik kepada teman seperjalanan saya, “Tak perlu ditawar pun, ini murah sekali.”

Tetap saja, saya ngotot ketika Mama Ita tak mau menurunkan penawarannya. Sampai akhirnya ia menyerah dan bilang, “Boleh deh, buat langganan. Untuk beli buku sekolah anak saya,” sembari menciumi beberapa lembar uang duapuluh ribuan dari saya.

Saya terhenyak. Ingin rasanya saya minta maaf karena menawar gila-gilaan. Tapi, di saat yang sama, gengsi telah menyelimuti diri. Rasa bersalah pun akhirnya ‘memaksa’ saya untuk membeli selembar selendang lagi, tanpa ditawar sedikit pun.

Bertransaksi dengan pedagang selama perjalanan, terutama saat membeli suvenir dan oleh-oleh, membuat saya sering dihadapkan pada ketidaktahuan yang berbuah pada kecurigaan hingga tak jarang berujung pada penyesalan.

Saya tidak tahu apakah harga yang ditawarkan masuk akal. Saya tidak tahu apakah harga itu telah menutup modal. Ketidaktahuan itu juga yang sering berujung pada kecurigaan. Curiga kalau-kalau harga yang ditawarkan terlalu tinggi, apalagi karena mereka tahu saya turis yang menurut mereka lebih banyak uangnya. Curiga ada persengkokolan dengan pedagang lain sehingga harga yang tinggi itu seolah harga yang wajar. Hingga akhirnya – dari pengalaman juga – saya pernah menyesal karena sebenarnya harga yang ditawarkan memang terlalu tinggi. Dan itu yang membentuk mindset saya tentang harga.

Namun, yang paling disesali adalah situasi seperti yang saya alami dengan Mama Ita tadi: menawar terlalu rendah hingga saya menihilkan tenaga dan waktu yang dihabiskan perempuan ini untuk selembar kain yang saya beli.

Di Pulau Karimun Jawa, Jawa Tengah, saya berjingkrak girang karena menghemat seribu rupiah untuk seplastik penganan dari seorang perempuan tua. Celakanya, telinga ini tak sengaja mendengar suara perempuan itu bergumam dalam bahasa Jawa, “Hari ini tidak bisa beli ati rempelo ayam untuk cucu saya.”. Saya tersentak dan tak berani menoleh.

Seribu perak yang saya hemat, seribu perak yang berhasil memuaskan ego, ternyata sama dengan hilangnya kesempatan membelikan lauk untuk seorang cucu tercinta, yang mungkin jauh lebih membutuhkannya. Saya malu. Terlanjur menggeneralisir bahwa semua dagangan – selama tidak ada label harga – bisa ditawar serendah mungkin.

Kalau mau mencari pembelaan diri, mungkin ini akibat trauma ketika saya ‘ditipu’ habis-habisan di Mumbai, India. Padahal teman saya, Sangeeta, sudah mengingatkan agar jangan terlalu percaya dengan harga yang ditawarkan pedagang di Mumbai, apalagi kepada saya turis.

“Ada baiknya kamu tanya-tanya dulu ke beberapa orang lokal,” katanya. Saya memang sempat bertanya-tanya ke beberapa pedagang – makanan, minuman dan lain-lain – ketika menemukan kain sari yang saya cari. Tapi mungkin karena wajah saya yang beda dan tampilan saya yang turis banget, orang pun mungkin merasa perlu untuk menaikkan harga.

Saya tak sepenuhnya menyalahkan pedagang di tempat tujuan wisata, terutama di tempat-tempat yang minim kunjungan wisatawan. Hukum ekonomi bilang: biaya produksi yang tinggi, sebisa mungkin ditebus secepatnya. Dan cara tercepat adalah menaikkan harga, walau resikonya pengunjung mungkin kapok datang.
Kalau sudah begini, tawar menawar jadi tak sesederhana kelihatannya bukan?

Saya percaya, sebagai pengunjung, kita bukan ingin mendapat harga terendah, tapi harga terbaik, baik untuk pedagang dan kita sebagai pembeli. Sayangnya, kita lebih sering tidak tahu hingga secara tak sadar, harga terendah adalah harga terbaik.
Tapi bayangkan jika kejadian saya dengan Mama Ita di Sumba atau nenek tua di Pulau Karimun Jawa terjadi pada anda. Bisa jadi penyesalan berbuah rasa bersalah tak berkesudahan.

Satu tips yang bisa saya bagi: cari tahu berapa harga sebuah barang dengan cara mengetahui – kalau perlu lihat dan pelajari sendiri – bagaimana barang itu dibuat dan diproduksi. Jika tak sempat, tanya lah ke orang yang tak mengambil keuntungan dari situasi.

Dan yang paling penting, menawar lah dengan hati, bukan emosi.


Tulisan ini disalin dari tulisan yang sama dengan penulis yang sama dari kolom Responsible Traveler di Majalah Liburan.

Ada satu nasihat dari teman saya dulu,

pedagang itu menjual untuk mencari keuntungan setinggi2nya, pembeli pun berhak menawar serendah2nya.
Pada saat harga sudah sepakat, tidak mungkin pedagang tersebut merugi, karena harga jual tidak mungkin lebih kecil dari harga modal. Semurah2 harga yang di sepakati, pasti masih ada keuntungan yang di peroleh si pedagang.

Bener juga ya. Kira2 pedagang2 kayak mbok2 di pasar yang udah renta itu punya pemikiran yang sama gak ya: mencari untung setinggi2nya? Hmmm….

Kalau di kota, biasanya bisa nawar sadis aja sih, toh mereka mengerti prinsip ini. Tapi kalo udah di desa terpencil, kadang gua suka bingung. Apa iya mereka mikir gini? Apalagi dengan kebutuhan lainnya yang susah didapet dan lebih mahal. Mereka juga sadar ga semua orang beli barang ‘tidak habis pakai’, dan pengunjung juga ga banyak kayak di mall. Diskusi seru nih, dan sangat membantu gua yang suka barang lokal. Ya Tuhan, tolong tahan kebiasaan gua suka belanja kalo jalan-jalan:P

Sementara sih gua mau aja nambah kalo belanja di luar daerah kan sekalian mendistribusi kekayaan ibukota ke pelosok Indonesia (tapi itu pembenaran sifat boros gua aja sih :P). Lebih baik keluarin uang begini dari pada di rampok orang :D.

Nah, makanya, menawar dengan hati, Kalo kata Aa Gym, “dosa itu ketika jauh di dalam hati kita merasa gak enak setelah melakukan satu perbuatan”

Jadi, ukur sendiri 🙂

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.