[Ambon] Suka-Suka

Tari Katreji
Tari Katreji

Kalau boleh subyektif, saya lebih nyaman traveling ke Indonesia Timur. Walau di beberapa tempat orang-orangnya sering dikonotasikan dengan ‘kasar’ atau ‘keras’ (untunglah saya belum pernah bertemu dengan yang kasar), selalu ada alasan untuk bersenang-senang.

Di Kota Ambon, beberapa orang nampak begitu serius untuk bersenang-senang. “We have a serious concept of having fun” begitu kira-kira. Sebegitu serius, hingga persiapan Katreji sempat bikin teman-teman saya meledak emosinya. Katreji adalah tarian suka ria muda-mudi Maluku (Ambon). Walau terlihat sederhana, ada aturan jika ingin menggelarnya.

Salah satunya luas tempat. “Aslinya, penari Katreji akan lari-lari dan lompat-lompat dalam jumlah banyak. Jadi, tidak bisa kalau tempatnya sesempit ini,” komentar teman saya.

Personally, saya menunggu untuk dapat menyaksikan tarian ini membuka kegiatan seminar yang saya moderatori. Akhirnya, semua harus kompromi. Saya sempat kasihan melihat beberapa siswa tegang menunggu siapa yang akan di-eliminasi dan tak bisa tampil di depan Bapak Gubernur.

Esok harinya, Katreji dibawakan oleh enambelas dari rencana duapuluh siswa. Pakaian khas Maluku berwarna merah cerah dikenakan penari seolah menyemangati peserta seminar yang lesu diguyur hujan di pagi hari.

Saat musik dimulai, keenambelas penari berbaris rapi masuk ke dalam ruangan. Beberapa kali berputar ruangan, terasa ada energi yang dibatasi. Seperti burung yang terbang dalam sangkar, kepak sayap mereka tidak maksimal.

Padahal, formasi Katreji terkenal akan kerapiannya, mirip tarian militer. Apalagi saat para penari melakukan gerakan yang ditandai dengan penari perempuan melangkah cepat dibawah palang yang dibuat penari laki-laki. Semua dilakukan dengan formasi berputar mengitari satu titik. Salah langkah atau lambat sedkit, bakal kacau tarian ini.

Lompatan-lompatan enerjik yang saya nantikan pun ternyata tak hadir. Terlihat wajah-wajah tidak puas di antara penari apalagi pelatih tari yang juga guru sebuah SMA di Kota Ambon.

Berita sedihnya, seperti informasi dari sang pelatih, Katreji kini harus ‘ditanggap’ untuk ditarikan lengkap dengan alat musik dan busana tradisional. Jadi, kalau berkunjung ke Ambon cari acara kawinan atau cukup lah ngiler dengar cerita tentang tarian suka-suka ini.


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.