[Maluku] Besi yang Tak Akan Berkarat

“Besi Maluku tidak mungkin karat,” ujar Ibu Atty, pemilik toko kerajinan besi putih di salah satu sudut perempatan Trikora, Kota Ambon.

‘Besi Putih’. Tulisan besar-besar di papan nama itu menyihir saya untuk menyambangi toko mungil ini. Produk favoritnya – seperti di toko-toko serupa – apalagi kalau bukan gelang dan kalung lengkap dengan bandul salib berbagai ukuran.

Liontin Lumba-Lumba dari Besi Putih Maluku
Liontin Lumba-Lumba dari Besi Putih Maluku

Tertarik dengan asal-usulnya, Ibu Atty menjelaskan seluruh produknya dibawa dari Morotai, Maluku Utara. “Ini dibuat dari bangkai kapal perang, Mas. Ini bukan besi biasa. Besi putih dari Maluku tidak mungkin karat” katanya.

Eh, masa sih? Sayangnya ia tidak tahu banyak. Dari perburuan saya hingga ke Petak 10 dan Pasar Mardika, semua pedagang besi putih mengamini hal yang sama.

Pikir-pikir, jika benar, alangkah sedihnya membayangkan suatu saat saksi-saksi sejarah ini akan lenyap. Apalagi bangkai kendaraan perang di dasar laut lengkap dengan terumbu karang yang cantik lenyap.

Ketika saya sampaikan kekhawatiran ini dan keengganan saya membeli, pedagang keturunan Arab ini membisikkan sesuatu, “Sekarang sudah banyak yang dicampur dengan besi dari pemulung kok, Mas.”

Masih ragu, saya beli beberapa buah bandul berbentuk lumba-lumba kegemaran teman saya. Saat menyerahkan uang kembalian, Ibu Atty berpesan “Nanti kalau ke Morotai, jangan lupa beli yang banyak ya, ya.”

Morotai memang jadi salah satu tujuan impian saya. Tapi mempreteli bangkai kapal – dan merusak rumah ikan-ikan makan malam saya – nggak janji ya, Bu.


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.