[Ambon] Jangan Bingung di Natsepa

Salah seorang dari puluhan penjual rujak di Pantai Natsepa
Salah seorang dari puluhan penjual rujak di Pantai Natsepa

Orang datang ke Pantai Natsepa untuk melihat pantainya. Buat saya, Pantai Liang – setengah jam perjalanan dari Pantai Natsepa – jauh lebih menarik. Itulah sebabnya, kaki terasa enggan beranjak keluar dari kendaraan ketika melintas pantai ini. Hingga akhirnya seorang teman memesan rujak Natsepa yang terkenal itu.

Turun dari kendaraan, di depan saya puluhan pilihan warung sekilas serupa berjejer rapi. “Di mana rujak yang enak?” tanya saya ke seorang teman.

“Semua enak. Sama saja,” jawabnya.

OK. Jawaban yang tidak membantu sebenarnya. Akhirnya saya menghampiri warung persis di depan saya. Pilihan yang bijaksana, bukan?

Di kesempatan lain, saya kembali ‘harus’ turun di pantai ini. Kali ini saya pergi ke warung paling ujung. Benar saja, rasa rujaknya kembar alias nyaris serupa.

Jadi, apa yang bikin rujak Natsepa sedemikian istimewa hingga penjualnya enggan mengubah resep? Bumbunya. Kacang tanahnya diulek kasar, menciptakan sensasi kriuk-kriuk (hati-hati yang punya gigi berlubang). Gula merah-nya manis legit – bukan manis banget – dan konon diimpor dari Saparua, salah satu penghasil gula aren terbaik di Maluku. Surprisingly, walau sudah bilang ‘paling pedas’ tetap saja bumbu rujak ini terasa manis, setidaknya buat saya. Entahlah, mungkin karena ketika beli harga cabe sedang tinggi-tingginya.

Meracik bumbu Rujak Natsepa
Meracik bumbu Rujak Natsepa

Ajaibnya, dari dua kali mencoba – random lho – bumbu rujaknya hampir serupa. Jadi, mungkin teman saya benar, nggak usah bingung-bingung milih rujak di Pantai Natsepa: semua sama.


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.

agak inget dikit, si ibu itu bernama Juliana apa Margaretha? sepertinya yg pertama….hmmm tetep lupa2 inget 😀

sambelnya itu kental banget jd susah nyoleknya, n emang manis banget…agak nyimpang dikit dg lidah ndesoku yg gemar asin n pedas 🙂

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Thoughts
Traveling the Unknown

Very few – if any – people like to travel without itinerary, in uncertainty.

Journey
Journey to the Lesser Known: The Silk Route #1 – China

Journey to anew is always exciting as much as frightening. But, as you remember the Emperor’s last message to you, “Everyone can wander, but very few travels with a purpose.”