[Ambon] Ayo Nyemil

Cemilan di Ambon
Ki-ka (searah jarum jam): kasbi tone, porces, bruder sageru

Kriteria kesuksesan traveling saya – setidaknya yang bisa dilihat orang lain – ada dua: kulit menghitam dan perut membuncit. Pulang dari Ambon, dua hal itulah yang saya dapat. Traveling yang sukses? I have to say so.

Bagaimana tidak. Hampir setiap saat – terutama selepas sore saat pekerjaan kelar – saya menyambangi warung kopi. Di Walang Kopi Sibu-Sibu, selain kopi Rarobang yang wangi rempah, berbagai cemilan berdesakan memenuhi piring siap disantap.

Seperti tempat lain di Indonesia Timur, umbi-umbian dan sagu-saguan sejatinya adalah makanan utama di Maluku. Konon, kebijakan jaman Orde Baru yang menjadikan beras dan nasi sebagai standar kesejahteraan manusia Indonesia malah bikin umbi-umbian, jagung-jagungan dan sagu-saguan memudar popularitasnya. Tapi tidak di Ambon. Setidaknya, cemilan khas daerah ini masih banyak menggunakan umbi-umbian dan sagu-saguan ini.

Sebut saja koyabu dan kasbi tone (sejenis getuk, yang pertama bercitarasa manis, yang kedua lebih gurih karena santan). Keduanya langsung jadi favorit saya. Belum lagi bruder sageru yang masih menyisakan wangi sageru (arak lokal). Jangan lupa sukun goreng dan roti goreng dicolek sambal. Atau porces (poffertjes versi ekstra-besar). Sayangnya, yang terakhir ini sering disajikan dalam keadaan sudah dingin.

Itu baru yang di warung kopi. Ngubek-ubek Pasar Mardika, pasti ketemu berbagai macam produk sagu: Sagu Ambon, Sagu Kasbi, Sagu Lempeng, hingga – favorit saya juga – Sagu Tumbuk. Jika yang terakhir bisa dimakan langsung – dengan rasa dan wangi kenari sangat kental – yang lainnya hambar dan biasanya dikonsumsi sembari minum teh atau kopi. Sekarang sudah banyak yang menjual Sagu Ambon dan Sagu Gula diisi kelapa dan gula merah. Lumayan, nambah sedikit rasa.

Pisang (Super) Ambon
Pisang (Super) Ambon. Jangan mikir macem2 🙂
Menyiapkan Putri No'ong
Menyiapkan Putri No’ong

Balik ke umbi-umbian, masih ada kue mirip pisang ijo di Makassar, Namanya Putri No’ong. Bedanya, di Ambon – dan Saparua – warnanya kuning dan pisangnya guedee luar biasa. So far, ini pisang paling besar yang pernah saya lihat. Itu mungkin sebabnya belum pernah saya lihat ada yang makan pisang itu utuh. Nggak ada yang sanggup mungkin 🙂

Roti kenari – roti tawar ditaburi cacahan kenari – jadi favorit ibu saya sebagai oleh-oleh dari Ambon. Harganya lumayan mahal. Tapi menurutnya rasanya nendang. Lagipula, “kenari tidak ada kolesterolnya.” Masa sih?

Di daerah Gallala – dekat pelabuhan ferry – berderet warung cemilan yang sempat bikin mata saya pusing, tangan gatal dan lidah terjulur keluar. Dalam satu lemari kaca, ada setidaknya dua puluh jenis cemilan. Walau kapasitas perut saya sering berlipat ganda ketika traveling, tetap saja perlu satu atau dua kali lagi datang ke tempat ini untuk bisa mencoba semua cemilan yang ada.

Nah, kalau ada yang ngomel karena saya ogah langsung ketemu usai traveling, itu karena saya biasanya perlu waktu minimal seminggu untuk mengembalikan berat badan ke angka semula. Apalagi pulang dari Ambon kali ini.

Harap maklum.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.