[Ambon] Pintu Kota Sesungguhnya

Saya sempat tersenyum-senyum ketika teman baru saya, Bung Melvin, menunjukkan bukit karang berongga dengan kaki-kaki tenggelam di dalam air laut. “Selamat datang di Pintu Kota,” serunya.

Pintu Kota, Ambon - Di Atas Air
Pintu Kota, Ambon – Di Atas Air

Menurut pria Ambon ini, lokasi batu karang berbentuk gerbang yang berada di ujung Teluk Ambon ini seolah menyambut semua kapal dan perahu yang masuk ke teluk menuju Kota Ambon.

Bentuknya tak terlalu unik. Seingat saya, ada sebuah pulau karang di pantai timur Bali berukuran jauh lebih besar dan lebih menarik. Sayangnya, tak banyak orang tahu, Pintu Kota yang lebih menarik ada di bawah Pintu Kota yang selama ini dilihat kebanyakan orang.

Siapkan alat selam dan meluncur lah ke bawah air. Di kedalaman duapuluhan meter, di depan mata saya terpampang sebuah gerbang jauh lebih megah dibanding yang ada di atas sana. Uniknya, gerbang ini berlantai miring, dipenuhi terumbu karang. Menyelam di dalamnya, di antara sea fan dan terumbu karang lainnya, menyenangkan!

Pintu Kota, Ambon - Di Bawah Air
Pintu Kota, Ambon – Di Bawah Air. Sayang fotonya tidak sebagus aslinya

Hati-hati. Lokasinya yang berada di ujung tanjung sungguh rawan dengan arus kencang. Dan itulah yang terjadi ketika saya menyelam di sini. Keluar dari ujung gerbang, saya disambut arus cukup kencang yang cukup menyenangkan (baca: menyulitkan).

Membandingkan keduanya, Pintu Kota versi underwater jauh lebih cantik, lebih berwarna sekaligus lebih menantang. Jadi, jangan cuma mengunjungi yang di atas ya.


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.

sekian lama hidup d kota ambon, dan sering mengunjungi pintu kota,,baru tau di bawah nya juga lebih bagus.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.