[Ambon] Kisah Dua Saudara

Sungguh berat memulai tulisan satu ini. Membuka luka yang belum kunjung sembuh, mengorek kesedihan yang tak juga sirna dan membangunkan trauma yang masih penuh mengisi udara. Kerusuhan 1999 masih terpatri jelas di setiap sendi kehidupan warga Ambon.

Malam pertama di Kota Ambon, saya ngobrol dengan seorang teman baru sembari menyantap nasi kuning di Jalan AM. Sangadji. Pemuda duapuluh dua tahun di depan saya ini nampak resah. Sekali-sekali ia menoleh ke kiri-kanan, bahkan ketika sedang bicara. Tak jarang ia membalikkan badan mencari sumber suara-suara ramai di seberang jalan.

“Ini bukan daerah saya, mas,” begitu jawabnya ketika ditanya. “Sejak kerusuhan (tahun 1999), saya jarang ke tempat ini kecuali terpaksa.”

Walau berat dan tak nyaman, mengalirlah cerita sendu betapa kerusuhan menoreh luka teramat dalam. Ia dan keluarganya terpaksa pindah rumah karena menjadi Kristen di BatuMerah sama dengan menaruh leher di bawah pisau yang siap menebas kapan saja.

Cerita yang tak jauh beda dialami seorang teman yang terpaksa terpisah secara fisik dari ayahnya hanya karena mereka berbeda agama. Padahal, mereka tak pernah punya masalah sebelumnya.

Ya, kini sebagian besar daerah (desa, kelurahan bahkan sepotong jalan) di Kota Ambon punya label tak tertulis: Islam atau Kristen. Walau intensitasnya semakin berkurang, keengganan berada apalagi tinggal di daerah ‘yang bukan semestinya’ masih terasa.

Pengalaman traumatis ini nampaknya tak akan segera sirna. Tak sedikit LSM dan badan-badan dari luar Ambon berusaha mempercepat rekonsiliasi. Salah satunya adalah Ambon Bergerak. Komunitas ini diprakarsai oleh teman baru saya, Ipank.

Perdamaian tidak hanya lewat seremonial dan tugu peringatan. Ipank yakin, anak muda Ambon yang asertif dan terbuka adalah kunci untuk mengobati trauma ini. Dan lewat kegiatan kreatif lah, anak-anak muda ini dapat membuktikan kalau perbedaan (baca: keragaman) jadi modal, bukan penghalang.

Gereja Silo, Ambon
Gereja Silo, Ambon yang harus berubah bentuk karena jadi korban kerusuhan 1999

Hari terakhir saya di Ambon jatuh tepat di hari Jumat Agung. Tak terlihat banyak keramaian di kota ini, hingga Subuh esok harinya, rombongan jemaat berduyun-duyun menuju gereja mereka. Saya jadi terbawa memori setahun sebelumnya, ketika menyaksikan Semana Sancta di Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

Terhanyut suasana, saya mengirimkan twit ke teman saya yang terpisah keluarganya tadi. “Di Larantuka, Paskah dijaga pemuda mesjid. Begitu juga, IdulFitri dijaga pemuda gereja. Kapan ya di Ambon bisa seperti itu?”


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.

Masih lagi nulis ya mas? Dari brp jam lalu saya ikuti perkembangan tulisannya buat saya baca2, hehe.

Hm, jd ingat soal kerusuhan yg dulu deh. Mudah2n Ambon akan brhasil mengobati traumanya suatu saat nanti

Ayo kita bantu dengan promosi berita2 positif aja. Kekayaan alam, budaya sekaligus keramahan orang-orangnya, OK?

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.