[Ambon] (Calon) Metropolis dari Timur

Di sore terakhir saya di Ambon, jalan-jalan di sekitar penginapan saya dilanda kemacetan total. Segala macam jenis kendaraan mengisi tiap jengkal aspal jalan: mobil, truk, oto (angkutan umum), motor hingga becak. Di sebuah persimpangan bahkan tercipta posisi kunci. Tak tertarik dengan pemandangan ini, saya mempercepat langkah menuju kamar berpendingin udara.

Kota Ambon
Kota Ambon

Ambon makin macet. Begitu yang sering saya dengar dari teman-teman baik penduduk asli maupun pendatang yang lama tinggal di kota ini. Posisi kota yang terjepit laut dan bukit curam sayangnya tak menandakan masa depan yang lebih baik.

Bahkan, berita buruknya: tanpa solusi yang baik, kesemrawutan Ambon akan segera menyusul Jakarta dengan kecepatan jauh lebih tinggi.

Halong, Ambon
Jalan curam di Halong, Ambon

Memang, bukit-bukit menjulang yang memeluk kota telah diberdayakan sebagai lokasi pembangunan dan pemukiman. Daerah-daerah seperti Halong atau Kudamati bahkan menawarkan pemandangan cantik dengan rumah-rumah menghiasi punggung bukit. Tapi cobalah berkendara di jalan-jalan curam di kedua daerah ini dan rasakan sensasi menginjak rem tanpa henti, melawan gravitasi terlalu tinggi.

Di sisi lain Teluk Ambon, pemandangan terlihat berbeda. Passo, daerah padat lalu lintas, terkenal akan kemacetan akibat bertemunya kendaraan dari penjuru pulau Ambon. Daerah di ‘leher’ sempit pulau Ambon ini memang sangat strategis. Sebegitu strategis hingga seorang developer yang saya temui dalam penerbangan menuju Jakarta bergurau, “Sayangnya, orang Ambon nggak ngelihat ini. Jadi, kenapa nggak saya yang bangun?” Ngomong-ngomong, pengusaha Jakarta ini adalah pemilik mal di Passo yang akan dibuka Agustus ini dan konon bakal jadi yang paling besar di seluruh Maluku.

Ah, lagi-lagi saya harus bertemu dengan kapitalis dari Ibu Kota yang pintar melihat peluang. “Orang Ambon itu hobi belanja. Jadi, saya bangun tempat supaya mereka bisa puas belanja,” ujar pengusahanya sembari terkekeh.

Saya ikut tertawa walau trenyuh mendengarnya. Seperti ini kah sebuah metropolis dibangun?


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.