[Maluku] Indonesia dalam Ukuran (Tak Terlalu) Kecil

Sapu Hijau, Pasar Saparua
Sapu Hijau, Pasar Saparua
Ketika diminta juri program Aku Cinta Indonesia (ACI) oleh Detik.com untuk memilih provinsi di Indonesia yang ingin dikunjungi, dengan mantap saya bilang: Maluku.

Ya. Saya selalu terinspirasi dengan kemampuan dan keuletan saudara-saudara kita yang tinggal di pulau-pulau kecil atau terpencil dalam berjuang hidup di tengah kerasnya alam. Maluku, sebagai provinsi dengan 559 pulau – salah satu yang terbanyak di Indonesia – terbukti selalu menarik untuk didatangi.

Dalam waktu tiga bulan – akhir Januari hingga pertengahah April 2011 – saya diberi tiga kali kesempatan untuk mengunjungi Ambon – ibu kota Maluku – dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Tak terlalu banyak yang saya lihat dibandingkan yang ditawarkan provinsi kepulauan ini. Di luar cita-cita saya, ketiga kunjungan super singkat ini lagi-lagi membuka mata: Indonesia itu beragam.

Maluku adalah Indonesia dalam ukuran (tak terlalu) kecil: manusia dan keberagamannya. Jadi, tak seperti berita-berita tak mengenakkan beberapa tahun terakhir, nampaknya kita perlu berita dan cerita yang meneguhkan kembali kalau keberagaman adalah ikon Indonesia sesungguhnya.

Dan keberagaman ini juga yang bikin saya ogah mengucap Amatooo (Selamat Jalan)…


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.
4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.