[Ambon] Kaos Singlet dan Celana Selutut

Kaos dan Celana Selutut
Kaos dan Celana Selutut
Teman saya di Jakarta – keturunan Ambon – sering berbagi cerita tentang mudahnya membedakan orang Ambon dari pakaiannya. “Kaos singlet, celana selutut dan bisanya kalung rantai berbandul salib ukuran besar,” ujarnya sembari terkekeh.

Dan itu pula lah yang saya temui ketika sore itu, 26 Januari 2011, masuk ke kota Ambon. Udara yang panas dan gerah sering jadi alasan. Buat saya, suasana penuh keakraban dan easy-going nya orang Ambon nampaknya lebih menggambarkan ‘seragam’ laki-laki Ambon itu.

Walau didapuk sebagai kota terbesar kedua di kawasan Indonesia Timur, Ambon tak setergesa-gesa seperti Makassar apalagi Jakarta. Terlepas dari kendaraan yang sering mandek di jalan-jalan sempit berkontur dan satu arah, kota ini tetap menawarkan detak kehidupan yang lebih santai.

Island living. Hammock. Ukulele. Sibu-sibu (sepoi-sepoi) Apalagi yang lebih cocok dikenakan selain kaos singlet dan celana santai selutut?


Lihat cerita lain dari perjalanan ke Maluku.
2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Thoughts
Traveling the Unknown

Very few – if any – people like to travel without itinerary, in uncertainty.

Journey
Journey to the Lesser Known: The Silk Route #1 – China

Journey to anew is always exciting as much as frightening. But, as you remember the Emperor’s last message to you, “Everyone can wander, but very few travels with a purpose.”