Klien: Makin Ribet, Makin Besar Kesempatan Belajar

Organization

“Now I finally know what a professional facilitator does.”

Sebagai pelanggan, saya bisa jadi kutukan buat semua penjual (barang atau jasa) paling sabar sekalipun. Minggu kemarin, akhirnya saya rasakan sendiri sulitnya memuaskan pelanggan ‘ribet’.

Resepnya sederhana: jujur pada kemampuan diri, memberi yang terbaik (walau di luar yang diminta) dan berusaha jadi bagian dari solusi. Dengan resep tadi, saya diganjar dengan kalimat di awal tulisan ini.

(c) 2011 Endro Catur
Mind Map Exercise (c) 2011 Endro Catur

Profesi fasilitator sering berada di daerah abu-abu. Setidaknya begitu lah pengalaman saya. Orang sering membandingkan (bahkan menyamakan) dengan trainer, moderator, event organizer bahkan MC. Tak masalah. Saya memang senang bermain di kolam yang sepi pemain. Kesempatan untuk memberikan pengalaman terbaik akan peran dan tanggungjawab seorang fasilitator terbuka lebar.

Termasuk dengan klien satu ini. Sebelumnya ia mengontak saya untuk ‘membantu’ merancang dan memfasilitasi satu seri workshop. Uniknya, sebelum bertemu ia menunjukkan sebuah draft agenda lengkap dengan metode kerja.

Saya tak terburu-buru mengkritik agenda yang lebih mirip training dibanding workshop. Walau tak terlalu setuju, saya ikuti saja kemauannya. Apalagi akan ada tiga workshop dalam seri ini. Kesempatan untuk evaluasi terbuka cukup lebar.

Benar saja. Dari seri pertama, peserta merasa waktu presentasi terlalu mendominasi. Klien ini minta solusi.

“Bukan presentasinya yang kurang menarik. Hanya saja, untuk peserta dengan profil tinggi, mereka lebih suka didengar ketimbang mendengar,” saran saya.

Akhirnya, di workshop kedua dan ketiga, sesi presentasi dikombinasikan dengan berbagi (sharing) menggunakan pendekatan visual dan kinestetik. Peserta lebih banyak berbicara dan ‘mendengar’ dengan mata.

Di workshop terakhir, metode ini mencapai kematangannya. Peserta lebih santai dengan kertas gambar seluas karpet, spidol dan kertas warna-warni dipandu imajinasi mereka.

Ujungnya, tiga buah sketsa mind map menjadi penutup sekaligus output workshop terakhir. Sebegitu lengkap dan detil – persis seperti yang diminta klien saya – hingga ia takjub melihatnya.

“Ini luar biasa. Saya sampai bingung bagaimana melaporkannya,” ujarnya.

Saya sudah siap dengan pertanyaan ini. Solusi yang saya berikan bisa jadi berbuah kalimat di awal tulisan ini, hanya beberapa menit sebelum kami berpisah di bandara. Walau terkesan datar, kalimat pujian ini terdengar merdu karena keluar dari klien super-ribet 🙂

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Society
Not A Charity, But An Opportunity

Opportunity. That is what persons with disabilities wanted. Unfortunately, due to lack of common understanding, they received more symphaty then what they need.

Society
Ulurkan Tanganmu, Bukan (Hanya) Dompetmu

Kesempatan. Itulah yang dituntut oleh teman-teman penyandang disabilitas. Sayangnya, karena kekurangpahaman, rasa kasihan lah yang malah sering menghampiri mereka.

People
The Seven Wonders of Participatory Workshop

Working with lots of type of participants in participatory workshops is almost always enjoyable. Well, if you can control their behavior. Fact is: you can’t.