Percaya pada Masa Depan

Thoughts

Hari ini genap satu tahun saya tak jadi orang gajian. 31 Maret 2010. Hari terakhir saya bekerja. Sore itu saya melewati pintu kantor dengan perasaan campur aduk. Skenario ‘glorious-farewell’ yang saya impikan sejak tiga tahun tak terlaksana.

Hari itu tak ada air mata. Saya sengaja minta tak ada acara apapun yang intinya perpisahan. Karena, seperti tertulis di email terakhir ke teman-teman kantor, “Saya percaya ini bukan perpisahan. Saya yakin, di suatu titik kita akan bertemu kembali.”

Keyakinan itu terkabulkan. Hari ini, 31 Maret 2011, saya menyerahkan hasil pekerjaan sebagai freelance consultant ke organisasi yang sama. Simpul itu akhirnya terkait kembali. Tepat setahun kemudian.

***

Tiket one-way Jakarta-Kupang-Maumere tertanggal 1 April 2010 sudah di tangan. Tapi otak ini masih terselaputi pertanyaan, “Apa yang akan saya kerjakan sepulang dari NTT nanti?”

Sejujurnya, saya belum siap untuk tidak bekerja. Menjadi pekerja lepas adalah pilihan kesekian. Saya masih ingin menerima gaji di akhir bulan. Saya masih ingin menikmati berbagai fasilitas. Saya masih ingin nyaman terlindung dalam sebuah institusi.

Saya belum siap berlayar sendiri.

***

Selama di NTT, tawaran bekerja berdatangan. Saya sedang larut dalam eforia jalan-jalan hingga sebagian besar saya tolak. Lainnya saya tunda hingga “Bulan Juli, kalau saya sudah balik.”

Panggil saya sombong. Tapi, saya akhirnya percaya. Ya, orang-orang yang saya temui selama perjalanan di NTT mengingatkan kalau rejeki nggak akan lari bagi mereka yang percaya. Berita baiknya, rejeki nggak cuma hadir lewat gaji di akhir bulan.

“Jadi, jangan khawatir,” begitu Pak Blasius, tuan rumah saya di Kampung Denge, Flores bilang. “Itulah sebabnya penambang mencari emas jauh ke dalam tanah. Karena percaya, di situlah rejeki mereka.”

Kalimat Pak Blasius bikin saya akhirnya lupa dengan segala kekhawatiran tentang masa depan. Saya seolah diingatkan, perjalanan saya ke NTT tidak untuk buang-buang uang. Ia pasti akan menghasilkan sesuatu.

***

Hari ini, tepat satu tahun setelahnya, saya berkesempatan memanfaatkan hobi jalan-jalan saya. Bukan untuk membuat tulisan atau menjepret foto, tapi dengan membantu memikirkan bagaimana kegiatan jalan-jalan bisa mengangkat kehidupan banyak manusia.

Uang memang belum di tangan. Tapi, saya lebih menanti kesempatan berikutnya. Saya percaya, rejeki hanyalah bonus bagi yang menggenapi passion. Jangan tanya kenapa, tapi saya percaya, masa depan selalu baik bagi mereka yang percaya. Dan berusaha.

Layar saya belum penuh terkembang. Saya masih juga berjibaku dengan ombak dan kemudi. Tapi, nun jauh di ujung sana, walau samar-samar, saya tahu ke arah mana kapal ini harus berjuang.

Semua dengan bekal percaya. Dan usaha.

“Uang memang belum di tangan. Tapi, saya lebih menanti kesempatan berikutnya. Saya percaya, rejeki hanyalah bonus bagi yang menggenapi passion. Jangan tanya kenapa, tapi saya percaya, masa depan selalu baik bagi mereka yang percaya. Dan berusaha.”

Like it so much

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
Being senseless

Thank you old blind man. You may be less perfect than me, but you have shown me how not attaching to one of your senses are actually possible to continue life.

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Thoughts
Walking, meditate on the move

With all the body senses required, walking is an active, focused and concentrated action. Waking is, to me, meditative.