[Teluk Cenderawasih,Papua] Cerita di Balik Ukiran Kayu

Ukiran Biak
Ukiran Biak

Setiap daerah memiliki kerajinan sendiri. Desa di distrik Ambai, Pulau Yapen terkenal karena kerajinan anyaman tikar dan perhiasan berbahan dasar kerang. Orang-orang Pulau Moor di Nabire membuat topi dan tas pandang yang sangat fungsional. Di antara semua suvenir itu, Kampung Padwa di Pulau Biak sangat mengesankan.

Di desa berjarak 35 km dari Kota Biak ini, penduduk masih membuat ukiran kayu. Walau tidak dijadikan mata pencaharian utama, mereka tidak menolak menjual hasil ukiran yang sudah jadi. Justru di situlah letak keunikannya. Ukiran Kampung Padwa tidak untuk produksi massal.

Ada cerita di baik setiap lekuk ukirannya. Ada emosi di balik setiap guratannya. Bisa jadi, yang Anda beli hari ini, tidak akan dibuat lagi di kemudian hari. Anda pasti setuju, benda limited edition jauh lebih berharga dibandingkan produk industri massal. Karena itu, wajarlah jika harganya dipatok lebih mahal. Vas bunga setinggi 40cm misalnya, dijual seharga dua ratus ribu rupiah.

Artikel lain tentang program Aku Cinta Indonesia (ACI), oleh Detik.com.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Thoughts
Traveling the Unknown

Very few – if any – people like to travel without itinerary, in uncertainty.

Journey
Journey to the Lesser Known: The Silk Route #1 – China

Journey to anew is always exciting as much as frightening. But, as you remember the Emperor’s last message to you, “Everyone can wander, but very few travels with a purpose.”