[Teluk Cenderawasih, Papua] Sembilan Hal yang Tak Boleh Dilewatkan

Terlalu banyak tempat, orang, budaya, makanan hingga peristiwa yang bisa diceritakan dalam perjalanan ke Papua. Berikut adalah sembilan hal yang paling unik.

  1. Pantai Tanjung Barito, Desa Anggaduber, Biak

    Pantai Tanjung Barito, Biak Tak ada yang mengalahkan putih dan lembutnya pasir Pantai Tanjung Barito. Pantainya pun bersih tanpa batu karang yag mengganggu. Lokasinya tak jauh dari Biak.

  2. Pulau Kumbur, Nabire

    Pulau Kumbur, Nabire Pulau kecil tak berpenduduk ini seolah berdiri sendiri di tengah lautan. Pantainya berpasir putih selembut tepung. Di satu sisi, pantainya menjorok ke tengah laut. Di bagian lain, pulau ini teduh terlindungi rimbun pohon pinus. Airnya jernih, tenang tak berarus.


    Siapkan uang untuk menyewa perahu menuju pulau ini, karena tak ada angkutan umum ke pulau ini. Memang agak mahal, untuk dua hari, kami membayar Rp. 7 juta.

  3. Atol Mansurbabo, Kepulauan Padaido, Biak

    Gua Bawah Laut, Atol Mansurbabo Atol yang menghubungkan tiga pulau di zona inti Kepulauan Padaido ini disangga oleh tebing karang laut yang dalam. Di sekitar tebing inilah banyak dijumpai ikan-ikan berwarna-warni. Tak seperti tempat snorkeling lain, di sini Anda bisa menjumpai kawanan ikan barakuda, ekor kuning, penyu bahkan ikan pari menyusuri tepian atoll. Rasanya seperti berenang dalam akuarium.


    Jika menyelam, Anda bisa merasakan pengalaman berenang dalam kegelapan total, padahal hari masih siang. Koral yang indah bukanlah hal yang dicari penyelam. Tantangan terbeesarnya adalah menaklukkan takut berada dalam gua tak berdasar.

  4. Danau Sarawandori, Yapen

    Danau Sarawandori, Yapen Danau berair tenang, jernih dan berwarna biru, sih sudah biasa. Danau Sarawandori ini sungguh luar biasa, berupa teluk yang terperangkap dan terhubung dengan laut lepas melalui celah yang sangat sempit. Jika sudah cukup puas bermain kayak di danau, lewatilah celahnya dan berkayaklah di teluk yang sebenarnya, menantang laut lepas.

  5. Goa Jepang, Desa Sumberker, Biak

    Gua Jepang, Biak Memasuki mulut goa ini, Anda seakan tersedot ke 60 tahun silam. Saat itu, goa ini digunakan tentara Jepang untuk berlindung dari sekutu. Salah satu buktinya, di dalam goa ini dapat ditemukan tengkorak manusia, senjata, hingga peralatan cukur. Masih di dalam kompleks gua, Museum Gua Jepang menarik untuk ditilik lebih lanjut jika Anda ingin tahu sejrah perseteruan tiga bangsa (Jepang, Belanda dan Amerika) di Pulau Biak.

  6. Teluk Wabudori, Distrik Sabar Miokre, Pulau Supiori

    Teluk Wabudori, Supiori Walau menghadap Samudra Pasifik, teluk ini jauh dari ombak yang besar. Anda bahkan bisa santai mengayuh sampan sambil sesekali menyambangi hutan bakau yang melindungi tepi teluk. Di ujung teluk ini, Sungai Waubudori siap mengantar Anda menyusur hutan tropis khas Supiori.

  7. Air Terjun Wafsarak, Warsa, Biak

    Air Terjun Wafsarak, Biak Tanpa perlu bersusah payah, cukup berjalan kaki lima puluh meter dari jalan raya di Biak Utara. Anda bisa menjumpai aur terjun Wafsarak. Air terjun setinggi sepuluh meter ini berbentuk melebar. Airnya jatuh di kolam berwarna biru toska. Dari seluruh air terjun yang kami kunjungi, kolam ini paling tidak bisa ditolak untuk diceburi. Ganti baju dan terjunlah dari atas air. Fun!

  8. Desa Randawaya, Distrik Teluk Ampimoi, Yapen

    Desa Randawaya, Yapen: Desa di atas laut Rumah di atas air sudah biasa, Tapi desa di atas laut, luar biasa. Entah sudah berapa lama Desa Randawaya berdiri di atas perairarn Teluk Ampimoi. Tak ada jembatan penghubung antar rumah dan bangunan. Untuk berpindah tempat, warganya mengandalkan wamarang. Bagi penyuka fotografi, desa ini dan tiga desa di sekitarnya sangat photogenic.

  9. Pasar Malam Kota Serui, Yapen

    Pasar Malam Kota Serui Berbeda dari pasar pada umumnya, Pasar Kota Serui baru buka ketika matahari mulai tenggelam. Udara siang yang panas akibat dipanggang matahari membuat warga setempat enggan beraktifitas di siang hari. Karena itu malam hari di Kota Serui malah jadi meriah.


    Tak cuma kegiatan berjualan, banyak warganya malah menghabiskan waktu di luar rumah untuk sekedar duduk-duduk atau wisata kuliner di sepanjang jalan di depan pelabuhan. Jualannya masakan para pendatang, seperti nasi kuning Gorontalo dan milu siram. Ada pula seafood bakar yang harganya sangat murah. Satu ekor ikan kakap besar plus nasih dan sambal harganya hanya Rp. 10,000.

Artikel lain tentang program Aku Cinta Indonesia (ACI), oleh Detik.com.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.