[Teluk Cenderawasih, Papua] Hanya Keindahan …

Pulau Babi, Nabire
Pulau Babi, Nabire
Kehidupan di Papua betul-betuk mengesankan; lebih indah daripada cerita.

Pertengahan Oktober lalu, Detik.com melalui program Aku Cinta Indonesia (ACI) memberi hadiah berupa kesempatan jalan-jalan ke Teluk Cenderawasih di Papua bagian utara. Alia Mirza Fatmala dan Endro Catur Nugroho menceritakan pengalaman mereka mengeksplorasi tempat tersebut selama dua minggu.

“Bagi kami berdua, kesempatan traveling ke ujung timurIndonesia tidak datang setiap saat. Namun, kami tidak menyangka akan mengunjungi tempat yang masih kalah pamor dibandingkan Lembah Baliem, Suku Asmat, Suku Dani atau Kepulauan Raja Ampat, ‘surga’ baru para penyelam.

Kami ‘ditantang’ untuk menyambangi teluk terluas di Indonesia, Teluk Cenderawasih. Ditemani Kak Boi, putra asli Papua, kami menyusuri sungai, trekking ke hutan, menjelajah pulau, hingga menyelami laut yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.”

  1. Cenderawasih Pamer
  2. Cerita di Balik Ukiran Kayu
  3. Mendayung di Atas Wamarang
  4. Anggrek Kribo
  5. Ini Cara Makan Papeda
  6. Diplomasi Lewat Sirih dan Kopi
  7. Sembilan Hal yang Tak Boleh Terlewatkan

Artikel lain tentang program Aku Cinta Indonesia (ACI), oleh Detik.com.

Catatan: Seluruh tulisan tentang ACI ini disadur dari tulisan yang sama oleh penulis yang sama yang dimuat di Majalah Femina, edisi Desember 2010.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.