[Teluk Cenderawasih, Papua] Diplomasi Lewat Sirih dan Kopi

Di mana pun di Papua, jangan heran melihat bercak merah di tanah. Itu bukan darah. Itu ludah yang telah berubah warna setelah mengunyah sirih. Sirih pinang dikunyah oleh pria dan wanita, dewasa maupun remaja. Selain untuk kesehatan gigi, sirih pinang menjadi salah satu ‘alat gaul´yang efektif.

Ketika berkunjung ke sebuah desa atau bertamu ke sebuah rumah, jangan ragu untuk mengunyah sirih pinang, jika ditawarkan. Buah sirih mungkin sedikit memabukkan pada awalnya. Selanjutnya, Anda akan membuktikan betapa komunikasi jauh lebih mudah dengan sirih pinang.

Membeli Sirih Pinang di Pasar Malam Kota Serui, Yapen
Membeli Sirih Pinang di Pasar Malam Kota Serui, Yapen
Buah sirih melambangkan pria (karena bentuknya panjang), pinang melambangkan wanita (karena terlindung dalam cangkang keras). Hal ini mengandung filosofi, untuk terjadinya kehidupan, buah sirih dan pinang harus bersatu. Ditambah kapur yang melambangkan sperma, semua dikunyah bareng. Sirih yang dibuang ke tanah, artinya kehidupan itu berasal dari tanah dan kembali ke tanah. Saat tamu bisa menyirih, dianggap sudah mengerti filosofi ini.

Kami berdua mencobanya setiap kali ngobrol dengan penduduk. Terbukti, dari yang awalnya sudah ramah, setelah ikut nyirih, mereka jadi lebih terbuka.

Hal yang sama berlaku untuk kopi. Jika hendak bertamu, tak ada salahnya membawa kopi (plus gula pasir satu kg). Hal ini menunjukkan niat baik Anda, yang selanjutnya akan memengaruhi bagaimana tuan ruma akan memperlakukan Anda.

Dari seluruh kopi yang pernah kami coba, kopi di Pulau Yapen adalah kopi yang paling nikmat. Beberapa merek bergambar alat musik tifa dan burung cenderawasih, paling kami rekomendasikan. Pertama, karena kopi tersebut ditanam dan diolah di Yapen, tepatnya di desa Ambai Diru. Kedua, karena cara menggorengnya yang setengah matang, masih meninggalkan aroma legit seperti rempah. Ketika diseduh, wanginya seperti capucino. Kopi tersebut mudah ditemui di toko serba ada di Kota Serui. Setengah kilogram seharga sepuluh ribu rupiah. Murah, kan?

Saat ngobrol dan duduk-duduk, oleh orang Papua kami juga ditawari bobo, minuman berwarna putih berlakohol rendah, hasil fermentasi dari nira pohon bobo, sejenis pohon palem. Malam hari, menyeruput bobo mampu menghangatkan badan. Alkoholnya membuat pikiran jadi ringan. Acara ngobrol jadi lebih santai. Inilah kenapa bobo disebut minuman persahabatan.

Jangan pula ragu bergabung, jika melihat sekumpulan orang bernyanyi dan menari di halaman rumah dan di tepi jalan. Umumnya, mereka menarikan YosPan (Yosim Pancar). Siapa saja bisa menarikannya.

Tarian ini mengandalkan kelincahan gerak kaki. Gerakannya beragam, mulai dari melingkar hingga lurus. Tak ada gerakan baku. Anda pun bisa bergabung. Selama Anda bisa melangkahkan kaki seirama, Anda sudah jadi bagian dari para penari.

Artikel lain tentang program Aku Cinta Indonesia (ACI), oleh Detik.com.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.