Catatan Perjalanan atau Cerita Perjalanan?

Halo Traveler,

Beberapa malam lalu saya dapat email dari seorang pembaca blog. “Saya nggak bakal berhenti baca blog Anda sebelum ada tulisan yang isinya how to get there and how much does the trip cost,” begitu ia menutup emailnya.

“Silakan menunggu. Selagi nunggu, selamat terinspirasi.” Balasan singkat yang malah bikin saya mengorek kembali isi blog ini: apa benar pendapat pembaca tadi?

Hei, ternyata ada kok posting yang dimaksud. Sayang, jumlahnya sedikit dan informasinya jauh dari cukup untuk jadi panduan. Sebaliknya, terlalu banyak cerita yang malah ‘mengaburkan’ informasi yang ada.

Aha. Itulah pembedanya. Beberapa tulisan saya yang mungkin masuk kategori catatan perjalanan ternyata masih membawa roh blog ini: inspirasi dan motivasi. Sayangnya, kedua hal itulah yang seringnya lebih menonjol.

Misalnya, catatan perjalanan menyelam di Komodo yang cita-citanya menjelaskan apa yang bisa dilihat dan didapat, malah jadi cerita berdimensi vertikal. Entahlah, mungkin otak ini sudah terbiasa menggali lebih dalam daripada lebih luas.

Buat saya, catatan perjalanan mengutamakan jumlah, kelengkapan dan akurasi informasi. Cerita perjalanan lebih mengutamakan kedalaman dan kedekatan isi tulisan serta inspirasi yang bisa diambil dari sebuah perjalanan untuk memotivasi pembaca melakukan hal serupa.

Otak saya ini malas. Saya lebih suka mengulik sedikit ‘bawang’ hingga cukup dalam, ketika teman-teman pehobi jalan-jalan asyik mengumpulkan ‘sebanyak mungkin bawang’ untuk melengkapi catatan.

Seorang teman yang melihat foto-foto perjalanan tiga bulan saya ke NTT tahun lalu berkomentar, “Kamu ngapain aja di sana, kok fotonya sedikit sekali?”

Saya tak kaget. Di Kampung Boti, Timor, setelah delapan jam ngobrol dengan Usif Nama Benu menggunakan bahasa isyarat, barulah saya mengeluarkan kamera. Bandingkan dengan teman baru saya, Anna, turis dari Inggris yang dalam dua jam kunjungannya menghabiskan satu giga bita kartu memori untuk foto. Sayangnya, sedikit saja cerita yang ia dapat di balik seluruh foto yang ia rekam.

Walau cerita sudah didapat, tak berarti saya bisa langsung menuliskannya segera setelah perjalanan selesai. Kalaupun ada, itu pasti ‘pesanan’.

Bayangkan, perjalanan ke Australia – hingga akhirnya seluruh fotonya hilang bersama laptop yang digondol maling – belum tertulis satu kata pun. Begitu juga perjalanan ke negara-negara Asia Tenggara dan Pakistan+Afghanistan.

Kadang inspirasi baru datang jauh setelah saya lupa akan detil perjalanan namun tergelitik karena melihat hal serupa. Walau sering lupa detil logistik perjalanan, saya tak pernah kuatir lupa cerita dalam perjalanan. Kalau memang berkesan, pasti akan menempati lapisan paling dalam dari memori saya.

Cerita perjalanan atau catatan perjalanan. Dua-duanya baik dan perlu. Yang pertama bikin orang terinspirasi untuk berperjalanan, yang kedua memberikan informasi bagaimana mencapai ke sana.

Jadi, mohon maaf teman pembaca, Anda mungkin akan dapat sedikiiiit sekali – kalaupun ada – informasi perjalanan di blog ini. Tapi saya janji, tiap tulisan yang terupload di blog ini mudah-mudahan bikin semua yang membaca makin semangat untuk berperjalanan. Jadi, silakan tunggu, mungkin suatu saat saya akan membuat catatan perjalanan juga.

Traveling is a need, not an option.

Mengupas 'bawang' untuk mendapat cerita sesungguhnya
Mengupas 'bawang' untuk mendapat cerita sesungguhnya

Betul. Susah bagi saya untuk mencatat perjalanan… Ceritanya begitu berharga sampai sulit untuk di copy paste ke dalam tulisan.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Life
Redefining Heritage, Rethinking Legacy

“What would people think and say about you at your funeral? What would be your legacy?”

Society
Do You – Really – Live Your Life as A Local?

When we embrace this kind of ‘local’, it doesn’t matter what accent people speak, as long as they communicate seamlessly. It doesn’t matter who eats what for lunch, as long as they can share their dining table. It doesn’t matter who enters or leaves, as long as the community maintains, shapes and keeps redefining their locals.

Society
Fishes Know No Politics or Religions

Somehow, I didn’t care about the menu mistakes, the #meh coffee and all the tiring talks about religions and politics in this trip, but that LOL with a stranger perfectly ended my trip to Kei Islands.