Kami pun (Tak) Ingin Berubah: Cerita dari Perjalanan Ke Baduy

Pak Sarpin, megnintip dari balik jendela rumahnya
Pak Sarpin, mengintip dari balik jendela rumahnya
Ada kebingungan luar biasa setiap kali mengunjungi desa-desa tradisional. Sebagai turis, saya ingin menyaksikan terjaganya situs budaya lengkap dengan adat dan tradisi yang lekang ratusan bahkan ribuan tahun. Sebagai manusia, saya kerap sedih mendengar langsung saudara-saudara kita di tempat-tempat ini mengeluh bahkan iri dengan ‘orang kota’ yang menurut mereka tak punya kewajiban menjaga tradisi.

“Saudara saya di Baduy Dalam banyak berubah, walaupun tidak mereka sengaja,” ujar Bapak Sarpin ketika ngobrol dengan saya pada sebuah kunjungan ke desa Balingbing, Lebak, Banten.

Di atas kertas, pelanggaran tetap bukan pilihan. Ada sangsi tegas yang siap mengganjar warga Baduy (terutama Baduy Dalam) yang melanggar. Peraturan dan sangsi itu tak pernah (mungkin tak akan pernah) berubah. Tapi, menurut pria warga Baduy Luar ini, persinggungan dengan dunia luar (termasuk wisatawan seperti saya) membuka opsi akan pelanggaran dengan ‘modus’ berbeda.

Sejatinya, orang Baduy sangat independen, tak tergantung dengan dunia luar. Self-sufficient alias bisa memenuhi keperluannya sendiri. Kini, “Tingkat ketergantungan orang Baduy Dalam dengan dunia luar makin tinggi. Lihat saja kerajinan yang mereka buat, sebisa mungkin terjual untuk menambah penghasilan,” ujar Marsad, organizer trip yang bertahun-tahun keluar masuk Baduy.

Saya pun sempat ternganga ketika seorang warga Baduy Dalam yang menemani kunjungan dua hari kami menceritakan kebiasaannya berjalan kali dua hari dua malam ke Jakarta untuk mengantar atau menjual kerajinan mereka ke pembeli yang umumnya pernah mengunjungi Baduy. Secara ekonomi, praktik ini tak masuk akal. Persaudaraan dan kekerabatan yang dinilai sangat tinggi lah satu-satunya alasan yang bikin perjalanan ini bisa dimaklumi.

Ada pula pembelokan-pembelokan ‘kecil’ yang kadang tak kasat mata atau dipandang sebelah mata.

“Sebenarnya tidak boleh menggunakan perhiasan emas dan perak, tapi saya pakai juga karena ini pemberian tamu,” seorang warga Baduy Dalam (tak perlu disebut namanya) saat menunjukkan kalung berliontin sebentuk silet tumpul terbuat dari perak pemberian seorang turis.

Tak ada yang melarang – bahkan mungkin baik – untuk mengunjungi destinasi wisata tradisional. Tapi, jika mau berpikir panjang sedikit, bukankah kunjungan kita juga yang memicu perubahan yang – jujur saja – tidak kita inginkan? Walau mungkin bukan solusi paling efektif, saya akhirnya kembalikan perjalanan ini ke prinsip responsible travel.

Misalnya, saya tidak membabi buta membeli oleh-oleh yang dibuat atau diusahakan oleh warga Baduy. Secukupnya, sekedar untuk menghargai jerih payah mereka atau ‘membayar’ informasi dan pengetahuan yang mereka beri tanpa harus menciptakan demand berlebihan.

Orang Baduy Dalam dan kamera
Orang Baduy Dalam dan teknologi kamera

Contoh lain, sesedikit mungkin mengumbar produk modern agar lagi-lagi tidak menciptakan tekanan pada warga setempat untuk memiliki atau menikmatinya. Untuk yang ini, saya sempat tercenung ketika seorang warga Baduy mengaku memiliki sebuah senter yang diberikan oleh pengunjung tapi terpaksa ia simpan di rumah salah seorang warga Baduy Luar karena tak mungkin ia bawa ke Baduy Dalam.

Orang yang sama juga menceritakan perasaan senangnya ketika mengunjungi salah satu mal mewah di Jakarta atau jalan-jalan ke Dufan. “Dufan masih seru?” dengan bangga ia bertanya di hadapan saudara-saudaranya. Tak jauh beda dengan ucapan orang kota yang ingin terlihat eksis. Bagai buah simalakama, saya bingung bagaimana merespon pertanyaan ini.

Salah seorang warga Baduy Dalam
Salah seorang warga Baduy Dalam. Foto ini sudah dimintakan ijin lho...
Mungkin sebaiknya kita tanya pada budayawan, antropolog atau siapapun yang lebih berilmu, gimana seharusnya interaksi turis dengan komunitas tradisional seperti masyarakat Baduy?

bpk,gimana kesan2 keseluruhannya? seru? saya jg prnah ikut trip yg dirancang pak marsad, tp bkn yg ini, wah kl tau bpk mau ikut sy mau ikut jg deh, hehe, stdknya ada yg kenal wlwpun di blog…

Halo. Tripnya menyenangkan. Sayang emang lagi hujan, jadi kurang banyak explore-nya.

Saya ada rencana trip ke Ambon akhir Januari ini. Mau bareng??

Yaah… lagi sibuk pak akhir Januari ini. Nanti aja pak, kalau bapak ada edisi seperlemparan batu lagi, hehe

Nice article to read

Oya? Maksudnya kalo diambilnya di Baduy Dalam? Foto ini semua diambil di Baduy Luar kok, cuma emang ketemu dgn beberapa orang Baduy Dalam. Eniwei, kalo emang gak boleh, please let me know.

Yang tabu itu mengambil foto di Baduy dalam. Saya juga sempat beberapa kali berfoto dengan mereka di Baduy Luar. Soal polusi dari budaya luar, itu sesuatu yang wajar. Dengan banyaknya orang luar datang berlibur dan membawa barang2 asing. Saya kemarin sempat kaget saat bertemu dengan orang2 Baduy yang menurut saya “matre”

Cerita saya tentang baduy bisa dibaca di http://kotakpermen.wordpress.com/category/catatan-jalan-jalan/page/3/

Hai Mas Endro,

Sekali lagi saya terhibur atas kebingungan Mas Endro, hehehehe… Saya juga suka bingung kalo suatu area terkontaminasi oleh modernitas pengunjungnya. Saya pribadi khawatir dengan Taman Nasional Komodo. Kan terkenal alamiah, tapi kalo di ekspos untuk 7 keajaiban dunia, apa nanti ga banyak hotel, resort, dan banyak polusi… eh kasusnya mirip ga tuh Mas?

Kalau soal Baduy, saya juga seorang naturalis tapi IMHO tidak bisa pungkiri kalo orang-orang traditional berhak atas kemewahan modernitas, seperti kesehatan lebih baik, penambahan pengetahuan untuk menangkal keburukan globalisasi, dll. Dan untuk topik ini pun saya bingung.

Tapi kalo mau cari pendapat antropolog, tanya ke travel blogger ini: http://www.hifatlobrain.net. Pasti sudah kenal yang punya ya? Sama-sama ikut ACI. Dia katanya basicnya antropologi. Kalau udah nanya, posting ya hasilnya 😀 Bantu kebingungan saya juga huhuhuhu…

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.