Tinggalkan Kamera, Saksikan Pawai Hewan Laut di Batu Bolong, TN Komodo

'Pawai' ikan di Batu Bolong (c) Michael Holland
'Pawai' ikan di Batu Bolong (c) Michael Holland

“I’m a lazy diver,” setengah bercanda saya bilang ke Nadya.

Perempuan tinggi besar itu mengangguk-angguk, lengkap dengan muka komik berbingkai rambut kuning emasnya. Mungkin ia menyesal ketika menanyakan keinginan saya. Tak mau berarus. Emoh menyelam terlalu dalam. Hanya mau boat entry.

“Leave your camera on the boat then,” ujarnya.

Saya cuma manyun. Kamera bobrok yang sudah dua tahun setia menemani menyambangi bawah laut ini yang bikin saya jadi penyelam malas.

“Di Batu Bolong, kamu bakal lihat atraksi yang jauh lebih menyenangkan dibanding ngintip di balik lensa kamera,” katanya setengah berbisik.

Sejujurnya, saya menunggu momen ini. Saat ketika menyelam menjadi kegiatan menyenangkan tanpa harus mengutuk autofokus kamera yang lambatnya mengalahkan gesitnya Nembrotha Kubaryana. Batu Bolong, salah satu spot menyelam di Taman Nasional Komodo konon adalah tempat yang pas untuk mendapat momen ini.

Pukul 9.30 pagi kami tiba di lokasi. Kapal kayu salah satu operator selam terkenal di Labuan Bajo itu berlari cepat di atas laut yang tidak terlalu bergelombang. Walau terlihat tenang, di bawah sana telah menunggu yang banyak diburu para penyelam.

Berulang kali kapten kapal melempar pandang ke laut lepas. Berbincang dengan Nadya dan kru kapal yang lain. Setelah ‘diskusi’, kapal bergerak. Baik pindah lokasi atau hanya sekedar memutar arah haluan.

“Batu Bolong is not for everyone,” kata penyelam Rusia di samping saya. Saya tak menggubris. Tahu benar maksud ucapannya. Sebelum berangkat dia sempat menolak satu kapal dengan saya karena saya cuma bersertifikat Open Water.

Panggilan Nadya seolah menjadi pertanda baik di tengah lengketnya wet suit yang melekat ke tubuh lebih dari setengah jam. Ia memberi aba-aba agar kami segera turun.

“Negative entry,” perempuan Inggris ini berteriak.

Oh, no. Saya paling malas dengan negative entry. Tapi, sudah terlambat untuk kembali. Untunglah tak ada kendala berarti. Beberapa detik kemudian kami sudah berada di dalam air.

Arus deras menabrak. Kami berjuang menyelaraskan tubuh agar tidak menentang arus. Di ujung sana, Nadya memberi isyarat dengan jarinya untuk mengikuti arus.

Ini bukan drift dive pertama saya. Tapi ini drift dive pertama tanpa kamera. Dari sini, saya melihat diver lain berjuang mengurai temali kamera yang melilit tangan. Atau sibuk mengutak-atik setting kamera mereka.

Entah lah. Mungkin saya sedang beruntung. Seminggu sebelumnya konon arus tak sederas hari itu. Ikan pun tak semeriah pagi itu.

“See what you got when you are actually diving?” kelakar Nadya ketika kami naik ke atas kapal.

Ya, pemandangan luar biasa yang selama ini sering saya lupakan. Menyelam di Batu Bolong layaknya berenang di dalam akuarium. Tak usah repot mencari ikan dan hewan besar. Arus yang deras akan membawa kita menyaksikan pawai hewan-hewan besar di bawah laut.

Batu Bolong, TN Komodo (c) John Smaranda
Batu Bolong, TN Komodo (c) John Smaranda
2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.