Belajar Mengelola Destinasi Wisata di Taman Nasional Komodo

Si kadal purba (c) Indonesia.Travel
Si kadal purba (c) Indonesia.Travel
Banyak orang pergi ke Taman Nasional Komodo untuk melihat kadal purba. Sebagian berkesempatan untuk menyelami lautnya yang indah. Saya pun demikian.

Tapi, ada keinginan lain yang yang bikin mata berbinar ketika tiba di Labuan Bajo, pertengahan April 2010 lalu.

Sudah lama saya ingin melihat langsung bagaimana Taman Nasional Komodo dikelola. Dari website-nya, taman nasional ini menggandeng swasta, pemerintah dan masyarakat untuk mengelola taman nasional seluas 1,817 km2 ini. Bahasa keren-nya: public-private partnership.

Sayang memang, saya tiba di hari akhir pekan. Setelah celingukan sana-sini pun, saya masih tak berhasil bertemu dengan pengelola PT PNK (Putri Naga Komodo), perusahaan yang dibentuk ketiga pihak tadi untuk mengelola taman nasional ini.

Nadya, seorang divemaster Inggris yang sudah dua tahun memandu penyelam di TN Komodo, dengan antusias menceritakan pengalaman uniknya tentang taman nasional ini.

Sebut saja mooring buoy. Inisiatif pintar ini efektif mengurangi kerusakan karang dengan cara menjangkar kapal ke sebuah pelampung. Konon, beberapa taman nasional termasuk Taman Nasional Raja Ampat terinspirasi oleh keberhasilan mooring buoy di TN Komodo. Sayang memang, biayanya tidak murah.

Poster TN Komodo (c) Endro Catur
Di poster ini tercantum biaya masuk ke dalam TN
Yang paling terlihat tentunya pengenaan biaya masuk ke dalam taman nasional. Pagi itu saya sempat melihat tarif masuk ke dalam taman nasional sebesar 75.000 ditambah retribusi pemda sebesar 12.000 untuk waktu kunjungan 1-3 hari. Tak mahal, apalagi ketika Nadya meyakinkan kalau uang itu memang jatuh dalam porsi yang tepat untuk konservasi taman nasional.

Walau akhirnya saya melihat langsung sosok perkasa si kadal purba, melihat langsung ‘sibuknya’ pasar ikan di bawah laut TN Komodo dan berbincang dengan penduduk Pulau Komodo, masih ada satu cita-cita jika suatu saat bisa menginjakkan kaki ke taman nasional di ujung barat Flores ini: belajar langsung mengelola destinasi wisata yang lebih bersahabat.

Jadi selain karena alamnya memang keren, saya memilih TN Komodo sebagai tujuh keajaiban alam yang baru juga karena masyarakat sekitar diikutsertakan aktif dalam pengelolaan taman nasional ini.

BTW, pesan sponsor dari kadal-kadal purba ini: sudahkah Anda vote TN Komodo sebagai tujuh keajaiban dunia yang baru? Kalau belu, sok atuh vote di sini.

Menyelam di TN Komodo (c) Indonesia.Travel
Menyelam di TN Komodo (c) Indonesia.Travel

Hehe, pantes udh berapa lama gak ada postingan lg, tnyt lg sibuk jalan2+belajar ke TN Komodo toh… Nice article, tp syg gak ada gambar yaa *kaboorr*

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Life
Redefining Heritage, Rethinking Legacy

“What would people think and say about you at your funeral? What would be your legacy?”

Society
Do You – Really – Live Your Life as A Local?

When we embrace this kind of ‘local’, it doesn’t matter what accent people speak, as long as they communicate seamlessly. It doesn’t matter who eats what for lunch, as long as they can share their dining table. It doesn’t matter who enters or leaves, as long as the community maintains, shapes and keeps redefining their locals.

Society
Fishes Know No Politics or Religions

Somehow, I didn’t care about the menu mistakes, the #meh coffee and all the tiring talks about religions and politics in this trip, but that LOL with a stranger perfectly ended my trip to Kei Islands.