Ereveld Menteng Pulo: Secuil Eropa di Tengah Jakarta

Barisan nisan di Ereveld Menteng Pulo

Masih dalam semangat JJSB (jalan-jalan sepelemparan batu), hari Sabtu, 20 November 2010 kemarin saya mengunjungi tempat yang nggak pernah terpikirkan. Sekali lagi, saya dipermalukan oleh pengetahuan yang cetek tentang kota sendiri, Jakarta.

Setelah tulisan berjudul sama, Traveling Sepelemparan Batu, dimuat di Majalah Liburan, beberapa email dan twit berdatangan. Hampir seluruhnya bilang tergugah untuk kenal lebih dekat kota/daerah tempat tinggalnya.

Sebuah twit dari seorang teman mengomentari dengan menunjukkan tulisan dan foto-foto tentang kompleks pekuburan peninggalan jaman Belanda. Uniknya, lokasi kompleks kuburan seluas hampir 3 hektar ini benar-benar sepelemparan batu dari kuburan Meteng Pulo di Jalan Dr Satrio, Jakarta Selatan.

“Ada kuburan seperti ini di sana?” tanya saya setengah tidak percaya. Saat akhirnya kaki melewati kuburan Menteng Pulo – yang sudah sering saya lewati sebelumnya – tampaklah menara gereja yang saya lihat di koleksi foto teman saya tadi.

“Ternyata ada,” saya bergumam. “Dan memang cantik.”

Taman Makam Kehormatan atau Oorlogs Graven Stichting (OGS) – sering disingkat Ereveld – Menteng Pulo yang dibangun tahun 1947 ini dikelola oleh Netherlands War Graves Foundation dan didanai oleh pemerintah Belanda. Pekuburan ini menjadi tempat peristirahatan terakhir sekitar 3.000 pejuang KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) dan Tentara Divisi 7 Desember baik yang berkewarganegaraan Belanda maupun Indonesia. Selain tentara, beberapa warga sipil Belanda pun dikubur di sini. Karena bukan pekuburan umum, selain keluarga, pengunjung perlu dapat ijin untuk masuk ke dalamnya.

Tidak semua ‘penghuni’ pekuburan ini ‘penduduk asli’. Atas permintaan keluarga, beberapa jenazah yang sudah dikubur di tempat sejauh Burma (sekarang Myanmar) dipindah agar dekat dengan kuburan anggota keluarga yang lebih dulu dikubur di sini. Lagipula, siapa yang tidak ingin tempat peristirahatan se-rapi, bersih dan terawat seperti Ereveld Menteng Pulo ini? Ketika melongok ke luar pagar, saya terkekeh. “Jauh sekali memang dibandingkan Pemakaman Menteng Pulo yang masih bisa dibuat lebih rapi,” pikir saya.

Di dalam pekuburan, Gereja Simultaan berdiri gagah di antara deretan nisan kayu bercat putih yang berbaris rapi. Di sebelah kanannya, Columbarium menyimpan tabung-tabung berisi abu jenazah tentara KNIL yang tewas dalam tahanan pasukan Jepang. Jumlah tabung abu ini ratusan, disusun alfabetis dari nama belakang pemilik abu. Tersimpan rapi di dinding Columbarium.

Ereveld Menteng Pulo hanya salah satu dari tujuh kompleks pekuburan yang dikelola yayasan yang sama. Kompleks pekuburan lainnya: Pekuburan Jalan Pandu di Bandung, Pekuburan Leuwigajah di Cimahi, Pekuburan Kalibanteng dan Candi di Semarang, Pekuburan Kalikuning di Surabaya dan tentu saja Pekuburan Ancol di Jakarta Utara!

Menurut Bapak Elisa yang mengantar kami berkeliling kompleks pekuburan, peziarah paling banyak datang dari Belanda saat liburan musim panas. Selain berziarah, mereka juga senang menghabiskan waktu di dalam kompleks ini.

Betapa tidak. Ketika berdiam di dalam Columbarium, kedamaian menyelimuti bangunan semi terbuka ini. Kolam berair tenang mensuplai oksigen segar dan mendinginkan panas matahari di atas kepala. Angin sepoi-sepoi menghampiri sembari membawa aroma bunga kamboja.

Buat sebagian orang, wanginya mungkin tidak menentramkan. Buat saya, wangi kamboja di tengah hiruk pikuk Jakarta sekali lagi membuktikan bahwa sebenarnya banyak tempat menarik yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari pintu rumah saya.


Foto-foto lain ada di Flickr.

Bahkan dibandingkan Taman Makam Pahlawan Kalibata juga kan ? Emang beda ya diurus sama negara yang bisa liat hal selain urusan perut 😀

Untuk fotonya makan waktu berapa lama sampai dapat ijin ?

TMP Kalibata itu lebih luas, lebih lengkap, lebih cantik. Tapi mungkin karena terbuka untuk umum jadinya gampang berantakan – kebetulan saya nyekar ke Kalibata pas musim banyak orang, jd biasanya pas berantakan hehehe..

dulu waktu saya sd di muria dan smp dan sma di minangkabaudalam th 69-80, tempat ini terasa angker karena masih sepi, apalagi depannya waktu itu kuburan cina yang gede-gede tetapi sekarang begitu terlihat indah walau aroma seramnya masih ada

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.