Negeri ini Punya Siapa?

Di Kampung Boti
Thoughts
50

Negeri ini Punya Siapa?
Oleh Endro Catur Nugroho

Banyak yang bilang kalau mau lihat orang Indonesia ngumpul di luar negeri – jalan-jalan – lihat saja di Hong Kong atau Singapura. Tapi, coba cari wisatawan domestik di tempat seperti Pulau Weh, Komodo, Loksado, Alor atau Raja Ampat. Bisa dihitung jari.

Transportasi yang tak murah, perjalanan yang lama dan tidak mudah sering dijadikan alasan traveller lokal enggan pergi jauh apalagi sampai ke tempat-tempat terpencil di Indonesia Timur. Coba saja, betapa sering pernyataan turis bule seperti ini terdengar ketika berkunjung ke tempat-tempat di atas, “I’ve seen very few Indonesian travelling”?

Di Nemberala, Rote, jika tidak bertemu Pace, Lot dan Daniel serta teman-teman nelayan dari Pulau Ndao, saya pasti tidak akan berasa seperti di Indonesia. Selain karena tetangga-tetangga yang berasal dari lima penjuru dunia, saya juga harus berbahasa Inggris setiap saat. Begitu pula ketika berkunjung ke Sanggau, Alor, Komodo, Lembeh, Nabire atau Togean.

Setiap kali pergi ke tempat-tempat seperti di atas, saya usahakan melihat buku tamu. Yang saya cari pasti negara asal para pelancong. Bisa ditebak, Indonesia tidak lebih sering muncul dibandingkan negara lain. Kalau sudah begini, wajar nggak sih kalau saudara-saudara kita di Indonesia Timur itu jadi lebih akrab dengan kulit putih dan Bahasa Inggris ketimbang saudaranya yang berkulit coklat?

Di sebuah resor di Teluk Kungkungan, Bitung, Sulawesi Utara, saya dan dua orang teman yang menyewa angkot dicegat di depan pintu masuk. Pakaian kami yang lusuh nampaknya bikin kami tidak ‘kompatibel’ dengan setting resor yang wah. “Cuma turis bule yang datang ke sini. Makanan di sini mahal. Bayarnya minimal 40 ribu rupiah. Cuma bisa pakai kartu kredit,” dan seterusnya. Bertiga, kami mengeluarkan kartu kredit gold kami dan, walau dengan mulut monyong, akhirnya kami bisa makan di resort yang tertata sangat profesional.

Di sebuah desa tradisional di Sumba Barat Daya, saya ditanya bendera negara asal saya. “Merah putih,” jawab saya dengan terbata-bata, masih bingung kok bisa-bisanya saya ditanya pertanyaan konyol seperti ini.

“Kalau benderanya sama tidak usah isi buku tamu. Itu cuma buat turis asing,” ujar bapak ketua adat dengan ketus. Ia kembali sibuk dengan jaring-nya. Saya ditinggal sendiri. Tidak diusir. Tapi juga tidak dilayani.

Di sebuah resor pulau di Nabire, speed boat yang saya sewa mendarat di pulau yang bangga dengan usaha konservasinya. “Cuma mereka yang reservasi lewat agen di Bali bisa menginap di sini,” jawab direktur pengelola resor itu dengan muka tidak bersahabat. “(Pulau) ini bukan pulau turis, tidak sembarang orang boleh masuk,” lanjutnya sembari minta kami meninggalkan pulau.

Nampaknya, yang paling menyakitkan hati adalah ketika saya ‘nekat’ mencoba surfing di Pantai Nihiwatu, kurang lebih lima ratus meter dari sebuah resor terkenal yang menurut Lonely Planet telah mengklaim Pantai Nihiwatu sebagai pantai pribadi mereka. Malang tak dapat diduga, arah angin tak dapat ditebak. Akhirnya papan surfing membawa saya cukup dekat – kurang lebih dua ratus meter – dari pantai sebelum akhirnya petugas resor itu mengusir bahkan hendak menahan papan surfing saya. “Dilarang surfing di Pantai Nihiwatu kecuali tamu di resor kami,” ujar mereka galak.

Uniknya, resor ini baru saja dapat penghargaan tertinggi Responsible Tourism Award 2010 dari Responsible Travel, sebuah organisasi penilai institusi pariwisata yang mendukung praktik wisata bertanggungjawab di seluruh dunia. Resor ini berjaya karena program-program pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar melalui yayasan bentukan mereka. Beberapa angka statistik yang menggiurkan terdengar sangat meyakinkan dan rasanya memang cocok untuk mengganjar resor ultra-eksklusif ini dengan penghargaan bergengsi tersebut.

Mereka – pengelola tempat wisata – berperilaku seperti itu pasti bukan tanpa alasan. Bagaimana pun, bisnis adalah bisnis. Dan bisnis ada hitung-hitungannya. Tapi, kadang emosi saya sedemikian membuncah hingga cepat menilai ini praktik yang tidak benar. Ah, saya bosan mengeluh sebenarnya. Apalagi sampai harus teriak-teriak di depan pagar resor-resor itu seperti aktivis kesiangan.

Padahal, kalau dipikir-pikir, jangan-jangan jawabannya bisa jadi sesederhana ‘alah bisa karena biasa’? Witing tresno jalaran soko kulino? Mungkinkah karena kita – traveller domestik – sebegitu jarang pergi ke tempat-tempat tadi hingga saudara-saudara kita disorientasi dan berkesimpulan kalau yang ‘memberi makan’ mereka adalah, ya … turis-turis asing itu.

Tiap masalah pasti ada penyelesaiannya. Buat saya, lebih baik saya sering-sering mengunjungi saudara-saudara sebangsa – terutama di Indonesia Timur – agar mereka perlahan tersadar kalau kita adalah saudara mereka yang sama berhaknya untuk mengunjungi – dan mencintai – tanah air sendiri.

Di beberapa pulau di Karimunjawa juga hampir sama seperti itu mas Endro, beberapa pulau dikooptasi menjadi resort dan tidak semua orang boleh masuk. Bahkan penduduk pribumi yang sebeum ada resort itu selalu berburu di sekitar pulau yang terkenal dengan habitat cumi-cuminya itu.

Timika adalah contoh lain bagaimana sebenarnya kita, sebagai sebuah bangsa, terusir dari tanah sendiri. Sebuah perusahaan tambang raksasa, dengan pongahnya membentengi diri dan dengan gamblang mengeruk hasil bumi kita. Seringkali tanpa permisi.

Maka wajar kemudian warga lokal, yang sungai dan lautnya tercemar tailing, yang satwanya mati dan bermutasi, yang kehilangan tanah ulayat, melakukan resistensi dengan isu besar kemerdekaan Papua.

Sedangkan di Jawa, anak muda lebih suka apatis. Beramai-ramai mengkloning diri menjadi pop, lalu melupakan akar budayanya sebagai orang Indonesia.

Semoga traveling menjawab kegundahan itu. Jika saja saat ini ada gerakan masif untuk mengajak generasi muda untuk bertetirah, saya pikir tidak lama untuk mengembalikan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa.

Salam,
AP

Seratus lima puluh persen setuju. *dua jempol*
Terimakasih atas pencerahannya. Saya sedang memikirkan konsep yang mungkin sama seperti di paragraph terakhir. Mari kita diskusikan?

*ambil backpack, trip ke Indonesia Timur lagi*

Endrocn, bagaimana saya tidak akan setuju dengan anda 100%kalau saya juga mempunyai pengalaman yang sangat serupa dengan anda. Saking marah dan sedih nya karena menjadi turis asing di negeri sendiri, sering jadinya saya malah tidak bisa menikmati liburan saya. Pengalaman anda di Nihiwatu sangat saya pahami ketika anda diusir oleh the resort security guard karena dianggap berada di area property mereka. bulan maret saya akan angkat rangsel bikin trip ke Indonesia Timur, semoga say bisa bertemu anda di tengah jalan dan bisa bertukar hati.

Mudah2an Maret nanti gak ngalamin hal yang sama ya. Indonesia untuk orang Indonesian, betul? Sayangnya saya Maret ini di-grounded sama kerjaan jadi bakal di Jakarta aja. April baru ada jadwal trip. Semoga perjalananannya menyenangkan ya…

Endro, please allow me to ask you with this silly question. Do you think with $600 I can survive traveling Indonesia Timur for two weeks in back packer’s way? know that I am coming from Banyuwangi.
What I have on mind is being able to visit at least three main islands, which are Lombok, Sumba and Flores. To be honest , I have no idea where to go, things what to do or even where to find a place to stay when I get there. That is way, before I hit the road, I am hoping that an expert like you would willing to provide me with some thoughts. I will really appreciate apapun advice dari anda. And lastly, know that I love your writing as many do.
Keep up the good work friend ! Kami cinta Indonesia

Wah saya pernah menemukan kondisi yg sama di Krui, Lampung. Kebanyakan cottage2 di sana hanya mau melayani turis asing. Bahkan tmn saya ada yg sempat diusir dr restoran karena ada turis asing yg mau mkn di sana. Sungguh miris, kita diusir di tanah kita sendiri.

Saya rasa hal2 semacam ini harus mulai mendapat perhatian yg serius dr masyarakat maupun pemerintah. Negeri ini punya kita πŸ™‚

Btw, a very inspiring writing mas!

Ayo lah, daripada nunggu pemerintah, kita – para traveller – bergerak duluan.

Bikin apa gitu, supaya masyarakatnya tau walau kita berkontribusi ke perekonomian mereka sedikit saja – dibanding turis2 bule itu, misalnya – tapi kita punya massa, jumlah kita banyak dan kita bisa pergi ke tempat-tempat itu lebih sering. Jadi, kita – traveller lokal – bukan cuma menikmati jalan-jalannya tapi juga siap menjaga tempat wisata-nya dan mempromosikannya dengan baik.

Itulah ide dari konsep responsible travelling, IMHO *tutup contekan*

Mari…

yup, setuju sekali..contohnya di Lombok aja, Gili Trawangan yg terkenal itu udah spt di luar negeri aja. turis Lokal spt saya kok ngerasa spt tersesat di pulau “somewhere out of indonesia” hehe..

Kadang-kadang “tersesat” itu bagian dari adventure lho, IMHO, tapi mungkin kalo maksudnya mbak Wiwi di Gili Trawangan “rasa” Indonesianya semakin berkurang apalagi kita jadi merasa seperti tamu di rumah sendiri, itu yang kurang OK.

Ayo lah, kita sering-sering jalan-jalan ke sana… Makin banyak orang Indonesia ke sana makin besar juga kemungkinan kita jadi tuan rumah di rumah sendiri hehehe

Terimakasih telah menulis dengan sangat indah mas πŸ™‚
Perlu lebih banyak lg traveler yg pergi ke Indonesia Timur & MENULISkannya sepertimu. Bukan hanya how to get there but also d condition.
Di luar mahalnya akomodasi & transportasi & kurangnya promosi di dan dari negri sendiri, kendala masyarakat kita tentunya adlh kemalasan utk membaca & menulis (note to my self too).

Semoga banyak traveler yg mau menulis biar Indonesia makin berjaya di tengah masyarakatnya sendiri πŸ™‚

Trims Ucy.

Ya, note to my self juga, males baca *garuk2 kepala*
Ayo, kita bareng2 bikin bacaan yang mudah dibaca *buat konsumen males kayak gue ini hehehe*

Hehehe itu lah, kadang gak bisa disalahkan juga sih. Waktu di Kungkungan itu, manajernya bilang males terima wisatawan lokal karena hobinya nyampah. Di darat nyampah, di dalem laut juga nyampah. Apalagi banyak yang ngerusak terumbu karang atawa ikan.

*kontemplasi. menyesali pernah duduk di karang. maap ya*

nggak usah di timur sana ndro, di jakarta pun udah mulai kaya gt, apalagi di hotel2 yang bintangnya 7 (bukan puyer) terasa bgt perlakuannya kalo orang merah putih sama orang yang benderanya lain.
gw pernah liat (bahkan ngerasain) diminta pergi dari suatu meja karena ada bule yang mau duduk di situ…padahal ga ada tanda reservasinya.
apa dollar emang bisa bicara lebih banyak ya???

Hihihi… bener banget tuh. Padahal nilai bayarnya ya sama aja, satu dolar = sembilan rebu kan?

Tapi kalo emang gak salah, mending diomongin aja. Gue juga pernah kok waktu di Bali. Sampe sempet terlontar kalimat, “Kalo bukan karena turis domestik, wisata Bali gak akan survive pas krisis moneter kemarin tau?”

*maap ya Bli*

tulisannya keren mas endro, dan emang nacep ke hati

tapi emang bener mas, lah waktu kemaren kita ke togean aja yang orang lokalnya cuman kita doang plus pegawai2 BM-nya

miris dan sedih lebih tepatnya, ibarat kata punya gudang emas tapi yang ngambil orang lain

tapi jujur setelah balik dari sulawesi tengah kemaren saya dah gak lirik negeri tetangga lagi..mudah2an dengan nabung berkala bisa singgah di indonesia timur lagi.

mulai dari kita dan komunitas kecil dahulu lah, biar sodara kita di timur gak lupa sama sodaranya yang ada di barat..

nice writting mas, izin share yah πŸ™‚

kalau ada seribu orang Indonesia seperti dirimu, brp byk ekonomi lokal yg bergerak karena wisatawan domestik? trims udh menginspirasi ya. let’s spread the virus…

Hmmmm, inilah potret Indonesia Ndro, tapi saya bersyukur kalo lagi traveling sering dikira Orang Jepang jadinya bisa dipermudah masuknya…

Tapi miris juga lihat keadaan seperti ini.

Halo Ndro,
Salam kenal. Saya suka jalan-jalan, namun sejauh ini baru sebatas Asia. Saya suka travelling di Indonesia. Hingga saat ini hanya pulau kalimantan yang belum saya injak. Permasalahannya adalah, dinegri kita sendiri kita sering didiskriminasikan. Perlakuan terhadap turis asing jauh lebih baik dari pada terharap turis domestik.
Jika kita didiskriminasikan oleh bangsa lain, sedihnya bisa langsung sirna. Entah kenapa yang memperlakukan tidak adil adalah saudara sendiri, rasanya sungguh menyakitkan πŸ™‚
Satu lagi, travelling di dalam negri kadang juga jauh lebih mahal. Seperti jika saya harus ke ambon, biayanya lebih mahal dari ke Paris (cek promo air asia saat ini :-)).
Cheers,

Halo, salam kenal juga. Trims udah mampir di blog saya.

Diskriminasi – IMHO – adalah akibat, bukan sebab. Penyebabnya ya bisa jadi krn penyedia wisata lokal menganggap selama ini turis asing lah yang ‘ngasih makan’ mereka – which is sometimes true.

Tapi daripada kita biarin, ayo lah kita ubah… Karena buka org pemerintahan yg bisa ngubah kebijakan atau pengusaha yang bisa bikin usaha yg ramah wisatawan lokal, yang bisa kita lakukan ya kerja keras, nabung yg banyak, sering2 ngunjungin tempat2 tadi. Sayangnya kalo kita ‘sekedar’ jadi penikmat wisata Indonesia, jadinya emang cuma mengeluh aja: mahal, jauh, ribet, dll. Tapi kalo kita bisa komunikasikan ke mereka kalau kita – wisatawan lokal – bukan cuma pengunjung tp bisa jadi promotor wisata, bakal banyak hal berubah…

Seperti yg kita lakukan sekarang kan? Menceritakan cantiknya, ramahnya Indonesia…

yah, ironis emang ya ndro. jangankan jauh2 ke luar jawa, di pulau jawa sendiri gue pernah di-asem-in sama concierge hotel, eh begitu giliran bule di belakang gue dia senyumnya dari kuping ke kuping. pengen njewer si mbak itu rasanya
tapi khusus di bali, gue malah kebalikan elo ndro, supir travel gue malah pernah bilang wisdom (wisatawan domestik) lah yang menyelamatkan bali sejak 2007-2009 karena krismon di negara barat wisman (wisatawan mancanegara) turun drastis.

Wew… good for you (yg di Bali) yang mana emang benar adanya… Buat yg di Jawa itu, stand up and speak up aja … Some people needs to make action, kalo gak perubahan gak akan terjadi IMHO

sedihh ya ndro πŸ™ ….tapi jangan salahkan mereka ndro,,yang di pusat sama sekali tidak memperhatikan mereka,,gak ada yang membantu untuk kemajuan mereka,,,selagi ada investor lua ,,jadinya mereka beranggapan bukan pemerintah yang membuat daerah mereka terkenal diluar,, tapi itu indonesia ndro negara yang kita cintai dan negara yang memiliki keindahan yang sangat berbeda dengan negara lain… thanks ya ndro untuk tulisannya.

tragis ya …
imo, pdhl wisata ke LN nggak lbh murah jg, apalagi yg ikut2n pake tour itu. Sedangkan perjalanan saya ke lombok bulan lalu jg g mahal2 bgt. tapi entah kenapa tetep pd milih ke LN, pdhl INDONESIA jg g kalah keren, apalagi utk urusan wisata bahari.

salam kenal
πŸ˜‰

ke sabang(pulau weh) aja semua… orang sabang masih pada welcome kok πŸ˜€

gratis guide deh kalau saya lagi di sabang πŸ™‚

gimana kalo pocut yuyun nulis tentang wisata di sabang, plus detail transport (cara ke sana, transport lokal, plus harga), akomodasi (yg termurah sampe termahal), jadwal events (pasti ada), lokasi2 yg bagus dan cara ke sananya, dan tips2 lain (cuaca, makanan). Pasti entar banyak yang tertarik ke sabang.

Mas Endro,

Haluuu… saya Murni, baru kesandung dan terjatuh di blog ini setelah di mention ama Myuts twit. Saya suka banget dengan blog yang ini. Kayaknya belum cukup banyak orang yang mengekspose soal ini, mungkin karena kita harus ‘politically correct’ kalo udah ngomongin hal gini.

Apa ya yang menyebabkan kita sendiri ga boleh datang ke tempat-tempat itu? Meskipun saya ga punya pengalaman diusir, tapi saya punya pengalaman di no.2 kan di Togean dan Kupang. Apa ini bener-bener masalah uang? Karena kita ga bisa tipping, terlalu banyak nawar, dan minta lebih dari apa yang diberikan? Atau saya curiga, biasanya yang bisa ke tempat-tempat seperti ini adalah orang yang punya uang… apa biasanya ini orang-orang yang sombong? Apa Mas Endro punya hmm.. asumsi jawaban?

Saya selalu bingung. Saya selalu coba ramah sama semua pengurus area penginapan dan orang lokal biar diterima oleh mereka. Tapi, kalau udah urusan pengelola barat, saya ga ngerti kenapa kita malah di kesampingkan kalo jelas-jelas kadang (:P) kita mampu. I heart this particular blog.

Halo Mbak Murni,

Terimakasih ya udah berkunjung.
Hmm, saya belum sempat merhatiin lebih detil penyebabnya sampai timbul ‘pembedaan’ ini. Pastinya, tiap tempat kondisinya beda. Kalo di Bali, bisa jadi karena ada salah persepsi yang mengakar kuat tentang wisatawan domestik oleh pengelola wisata di sana. Tapi saya lihat, sekarang semakin improved kok. Salah satunya ya karena kontribusi turis domestik emang gak bisa (lagi) dilihat sebelah mata.
Yang menarik justru di daerah-daerah lebih remote (seperti di Togean, kebetulan saya baru dua bulan lalu ke sana). Kalo saya liat, pengelola asing sih gak ‘jahat’ ya, mereka ‘profesional’ alias do as what they say. Nah, peraturannya itu yang kadang nyesek hehehe…
Yang menarik, justru kenapa saudara kita yang kadang membedakan kita – kadang bedanya negatif lagi hehehe. Menarik untuk diketahui lebih lanjut.
Cuma, karena bukan peneliti – dan belum sempet cari sponsor untuk meneliti – jadi ya saya asumsikan aja mereka begitu karena jarang ketemu kita-kita, saudaranya sendiri. Mudah2an asumsi yang aman πŸ™‚

saya temukan nama EndroCatur di buku tamu Tirosa homestay, Nemberala, satu dari tiga traveller domestik. selain itu, beratus-ratus nama bule tertulis rapi seakan tidak ada habis-habisnya datang dan mengagumi Nemberala.
sepertinya kita harus mulai merubah mindset kita, bahwa travelling yang keren itu tidak melulu harus ke luar negeri dan mengunjungi tempat2 yg sudah dikunjungi berjuta orang. hei, lihat negeri kita. negeri ini bahkan lebih dari cukup untuk memuaskan keinginan travelling kita.
semoga traveller domestik yg semakin menjamur belakangan ini semakin sering mengunjungi saudara-saudaranya di semua penjuru negeri ini.

untuk Indonesia yg lebih baik..

Wah wah nyampe juga ke Nemberala ya… Salah satu tempat plg berkesan selama the great trip ke NTT: ultah paling humble dan tiada duanya, bertemu org2 luar biasa sederhana dan menginspirasi, dan bertemu Mama Martina pemilik Tirosa Homestay. Apa kabar beliau?

Mama Martina tampak sehat mas. cuma memang waktu saya yang sedikit, habis buat mutar-mutar Rote yang mengagumkan. jadi gak banyak ngobrol juga Mama Martina. tapi dari pengurus penginapan yg lain (anak2, cucu, dan tetangganya) saya dapat pelajaran ttg cara memilih kain tenun ikat yang bagus. soalnya yg saya beli di Timor, kebanyakan yg kualitas kurang bagus kata mereka. hehe..

Gak papa. Rote emang keren kan? Hari ini saya ketemu seorang teman dari Rote, ingat-ingat pengalaman pergi ke pulau-pulau kecil: Manuk, Landu, Doo, Nuse, Ndao, … wah kangen beratt

@Hermono:
I cant say yes or no, it depends really on your trip: length, plan and style. Planning: ask around, especially for accommodation and transport (schedule might not be as good and frequent as in Java). Style: try to live like the locals, eat where the locals do, etc. Go where other tourists dont (touristic places tend to get commercialized and expensive). Id be happy to share some experiences on those three islands. PV me ya. Yes, we love Indonesia.

ps: when it comes to traveling, we’re all newbies πŸ™‚ that’s what I tried: always learn.

“Semoga traveling menjawab kegundahan itu. Jika saja saat ini ada gerakan masif untuk mengajak generasi muda untuk bertetirah, saya pikir tidak lama untuk mengembalikan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa.”

paragraf ini membuat saya segera menelepon travel, membatalkan tiket ke sby buat maen2 ke mal dan blanja serta pesan tempat buat ke togean akhir bulan ini. Apalagi kalo bukan liat festival togean.

terima kasih buat mas endro catur dan kawan2 lainnya buat ‘wake up call ini’

Wake up call? Wew, nice to hear this.

Siap-siap obat sakit puyeng, lihat underwater Togean bener2 bikin pusing, segala warna ada di sana dgn background biru menyala dan air sebening kaca.

Salam buat pengelola Pondok Lestari, mudah2an semakin baik pengelolaannya, biar gak kalah sama tetangga2nya.

Ayo tetirah bangsa…. πŸ™‚

50 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
Being senseless

Thank you old blind man. You may be less perfect than me, but you have shown me how not attaching to one of your senses are actually possible to continue life.

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth.Β Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Thoughts
Walking, meditate on the move

With all the body senses required, walking is an active, focused and concentrated action. Waking is, to me, meditative.