Mari Mudik, Mari Traveling

Mudik by Suryo Wibowo (Flickr)Mudik by Suryo Wibowo (Flickr)

Seperti minggu terakhir bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, lima anak ibu saya harus memutuskan siapa yang akan mudik mewakili keluarga. Empat tahun terakhir, saya yang jadi ‘korbannya’ dengan alasan belum berkeluarga, lebih sedikit pengeluarannya. Terlepas alasannya, saya selalu senang mudik, ke Pekalongan – tempat asal almarhum Bapak – dan Gunung Kidul – kampung Ibu saya. Sayangnya, beberapa kali saya menangkap kebingungan hingga suara-suara sumbang ketika saya tiba di tempat tujuan.

Penampilan dan bawaan saya memang beda dengan sepupu-sepupu lain. Mereka menggotong koper, saya memanggul ransel. Mereka memboyong kardus-kardus besar berisi peralatan elektronik paling anyar, saya yang bantu memasangnya. Mereka turun dari mobil mentereng, saya lompat dari ojek. “Kamu mau kemana lagi habis dari Gunung Kidul?” itu pertanyaan yang saya terima tahun lalu.

Di Indonesia, mudik (perjalanan ke kampung halaman) selama hari raya keagamaan adalah saat ketika perpindahan manusia berada pada puncaknya. Di pulau Jawa saja, 30juta jiwa bergerak selama musim mudik Lebaran. Mudik lebih lekat pada tradisi walau kadang masih diperdebatkan untung-ruginya. Tapi, mudik sebagai kesempatan traveling: belum banyak orang yang membicarakannya.

Siapa yang pertama kali menggunakan istilah mudik, walahualam. Pastinya, di tahun 1976 istilah sudah tercatat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta. Dalam kamus lain – Badudu-Zain (1994), dan Abdul Chaer (1976) – mudik diartikan sebagai ‘’pulang ke udik, atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya hari lebaran’’. Patut dicatat, kini orang yang mudik tidak hanya saat lebaran. Dus, tidak hanya yang beragama Islam yang mudik.

Di Jawa, mudik sangat lekat dengan tradisi mangan ora mangan waton kumpul (makan atau tidak makan yang penting bisa kumpul). Tradisi yang bagus sebenarnya, karena mudik jadi memanusiakan pemudiknya. Bahwasanya yang bersilaturahmi adalah orangnya, bukan embel-embel yang menyertai dirinya. Tradisi ini bikin pemudik dan keluarga yang ditinggalkannya bisa menerima dan menghargai satu sama lain, terlepas kondisi mereka. Itu idealnya.

Ide itu gak jauh beda dari traveling sebenernya. Karena toh seluruh elemen traveling ada di dalam mudik (transportasi, akomodasi, dan lain-lain), bagaimana kalau kita mulai juga melihat mudik sebagai sebuah traveling? Teringat teman baik saya, Bapak Richard Demu dari Bajawa, Flores, traveling kan untuk menggetok kepala kita supaya lebih menghargai tempat dan orang yang ditemui selama dan di tempat tujuan perjalanan.

Mudik pun begitu. Mudik ‘memaksa’ pelakunya bertoleransi dengan sesama pemudik. Mengantri membeli tiket, mengantri masuk bus/kereta/pesawat, bertetangga dengan penumpang atau pengendara lain, dan seterusnya. Mudik juga bikin pelakunya lebih dermawan. Kita rela banting tulang selama setahun, untuk mengumpulkan rezeki agar cukup dibagi dengan keluarga di kampung halaman. Tapi, apa mudik bikin kita mengerti dengan kebutuhan sanak saudara kita?

Seingat saya, 10% orang Gunung Kidul adalah perantau, itu tidak termasuk mereka yang sudah jadi warga kota lain tapi masih sering mudik (2008). Uang yang dibawa pulang selama masa mudik sekitar 140 milyar. Sayangnya, masih jarang saya melihat – setidaknya di lingkungan keluarga sendiri – pemudik yang memikirkan efek dari segala macam pemberian itu.

Selain rumah keluarga yang lebih mentereng, perabotan dan kendaraan keluaran terbaru serta perhiasan, pakaian dan makanan serta uang yang kadang bisa bikin kaget jumlahnya, apa yang diciptakan dari semua pemberian para pemudik ini? Ketergantungan dan ketidakberdayaan yang makin akut

Pemudik – seperti saya – bangga menciptakan kesan seolah kota besar adalah jawaban pertama untuk warga desa yang ingin memperbaiki kualitas hidup.

Berapa banyak dari kita yang akhirnya enggan mudik karena merasa belum cukup berhasil (baca: banyak harta) untuk dibagikan atau ditunjukkan ke keluarga?

Berapa banyak dari kita yang akhirnya mengada-adakan (harta) hanya karena sudah dirindukan keluarga dan harus mudik karena tak ingin dianggap durhaka?

Berapa banyak dari kita yang akhirnya berani jujur belum punya cukup harta namun jadinya malah enggan mudik dan akibatnya malah merenggangkan tali silaturahmi?

Mungkin sebaiknya mudik dikembalikan pada esensinya. Bukan cuma perekat tali kekeluargaan, tapi juga sebagai sebuah perjalanan. Dan seperti Bapak Richard Demu bilang, perjalanan adalah kesempatan agar kita bisa lebih menghargai. Menghargai keluarga yang rindu akan anggotanya yang hilang – entah berhasil atau tidak di perantauannya, menghargai jerih payah kerja kita di kota dan tidak menghamburkannya demi penampilan semu, dan yang paling penting adalah berusaha mengerti apa yang dibutuhkan oleh keluarga di kampung halaman: barang konsumtif atau modal untuk memperbaiki hidup?

Jika ada hal yang berbeda dari mudik kita tahun ini, kenapa kita – para pemudik yang adalah musafir, pengelana – mengumpulkan uang yang sedianya akan kita bagikan ke sanak saudara di kampung halaman, kemudian bersama pemudik yang berasal dari tempat yang sama memikirkan pemberian yang lebih produktif dan bikin mereka lebih berdaya dan mandiri bukannya malah lebih tergantung pada kita?

Saya yakin, tidak ada dari kita yang ingin sanak keluarga kita makin tergantung pada kita, bukan? Bukankah awalnya mudik itu untuk mencari penghidupan lebih baik, bukan mencari tempat tinggal selamanya?

Mari kita pikirkan lagi. Selamat hari raya. Selama jadi pemudik (musafir) yang lebih bertanggungjawab.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pertanyaan klasik ya??? Tapi yg lebih seru adalah ketika pertanyaan itu bisa diganti dengan, “Ini yang bisa saya kerjakan dan sumbangkan ke kampung halaman” Someday…

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.