Traveling di Bulan Puasa: Kenapa Nggak?

Seingat saya, belum pernah kaki ini melangkah ke luar rumah di bulan puasa – dan sedang puasa – untuk traveling. Banyak alasan yang bikin kaki – dan kepala dan hati – enggan melangkah jalan-jalan.

Panas, lemas, cape, takut haus dan lapar, dan lain-lain. Standar lah. Logikanya, semua alasan itu masuk akal. Kalau pakai logika memang.

Minggu lalu, walau tidak terlalu jauh dari Jakarta, saya dan teman baik saya, Mba Dewi, menyengaja pergi ke pulau Tidung. Kami berdua sama-sama puasa. Kami berdua sama-sama kuatir batal.

Nyatanya, dua setengah jam di kapal Bisma dari Muara Angke – di tengah-tengah pengunjung yang sedang asyik mengunyah kripik kentang dan menyeruput soft drink – kami survive aja tuh. Memang sih, sempat sebal juga.

“Ini orang-orang apa gak ngerti ya kalau kita lagi puasa?” tanya saya sembari berbisik ke Mba Dewi.

“Ya, mana mereka tahu kalau nggak dikasih tahu,” jawabnya santai.

Jawaban yang cerdas – dan masuk akal – pikir saya. Toh, alih-alih menghayati bunyi merdu bungkus makanan dibuka, suara kriuk-kriuk kripik dan wangi MSG-nya yang menyeruak ke seluruh kapal dan segudang godaan lain, kami survive dan tiba di Pulau Tidung dengan “selamat”.

Ajaibnya, kami masih saja sempat berkeliling setengah pulau dengan JALAN KAKI. Nekat? Iya. Cape? Banget. Di taman depan kecamatan, kami sempat ngorok bersama buruh bangunan yang juga istirahat. Ketika bangun, abang-abang itu permisi “Saya mau makan dulu, mas.” Huaaa…

Setelah itu, kelapa muda, wangi ikan bakar dan botol-botol minuman yang seliweran sana-sini makin bikin goyah iman. Dan yang paling sulit ditolak: air laut berwarna biru jernih yang melambai-lambai memanggil.

“Maaf, Tuhan. Yang satu ini, nggak mungkin saya tolak,” saya membatin.

Dan, hey, lagi-lagi saya baik-baik aja tuh. Malah lebih segar setelah main air. Pastinya, nggak ada air masuk mulut. Kalaupun ada, saya nggak menikmati kok.

Ketika akhirnya berbuka puasa, kami sempatkan ngobrol dengan Ibu Aishah, tuan rumah kami yang sempat ragu saya baik-baik saja setelah seharian berpanas-panas selagi puasa. Ah, ternyata ngobrol dengan ibu ini jadi menu tambahan makanan berbuka kami.

Ibu yang tak pernah kehabisan cerita ini bersyukur karena makin banyak wisatawan datang sehingga – seperti kebanyakan penduduk lain – ia pun mengubah tanah di samping rumahnya jadi sebuah penginapan, selain warung suvenir yang sudah lama nongkrong di depan rumahnya.

“Alhamdulillah, bulan puasa ada aja yang beli,” ujarnya. “Saya mah gak apa-apa sama turis yang nggak puasa. Malah kalau nggak ada mereka, orang pulau nggak dapet duit.”

Saya memanggil ulang ingatan sehari itu. Sebegitu berubah pulau ini, kini penginapan, jasa wisata dan toko suvenir sudah tersebar rata di seluruh pulau. Lalu, apa kabarnya dengan tempat lain yang sudah lebih dulu jadi tempat wisata?

Untunglah, saya dan Mba Dewi berani menantang diri untuk mengalahkan godaan puasa. Buka sok kuat, apalagi jadi pahlawan, tapi tanpa sadar – walau sangat sedikit – pehobi jalan-jalan seperti kami – dan Anda – lah yang menghidupi ibu Aishah dan penduduk pulau Tidung – dan tempat wisata lain – dengan kontribusi kita.

Ah, ternyata rasa lapar dan haus karena berpuasa itu tak ada apa-apanya dibanding penantian dan pengharapan mereka yang menggantungkan hidup mereka pada traveler – seperti kita. Jadi, tidak ada alasan puasa bikin kita nggak traveling. Selain biasanya tidak terlalu ramai, ada bonusnya lagi.

Tahu dong bonusnya apa?

kok ceritanya mirip ya? saya baru kemarin ke pulau tidung. tapi saya jalan ke sana dengan teman2 saya yang memang tidak puasa. benar2 cobaan iman. hahahaha… tapi syukurnya ga sampe batal sih.. tapi memang berat jalan2 di bulan puasa. ditambah lagi dengan orang2 yang tidak puasa 😀 😀

Nah kan, emang godaannya banyak. Logikanya kan emang gak masuk. Tapi tiap traveler punya alasan sendiri sampe mesti berjuang ngelawan godaan. Percaya deh, hasilnya dobel2: puasa jalan, traveling dapet. Iya kan?

Lagian, yang juga penting, kita jadi kontribusi sama penduduk pulau yang kita kunjungin. Uang yang kita bayar buat ongkos kapal, akomodasi, makan, dll lumayan kan buat mereka. Daripada dihabisin di mall ajah hehehe.

Thanks comment-nya.

Jalan-jalan dadakan. Kayaknya makin ke sini makin ngedadak deh kalo jalan2, abis kl direncanain seringnya gak jadi. But next time gue post renc jalan2 ya, kali aja ada yg minat ikut hehehe

serasa puasa senin kemis waktu itu :)… walo aslinya gak ada batesan orang puasa musti diem aja gak kemana2 tapi traveling di bulan puasa akan serasa beda n pasti pbh bermakna (yg berusaha melupakan dehidrasi sesudahnya)

betul sekali, biaya2 yg dikeluarkan akan bermanfaat bagi penduduk lokal, apalagi menjelang lebaran mereka akan jauh lbh membutuhkan biaya hidup lebih…makasih udah mau berbagi bertraveling ke sana ^^

Terima kasih ceritanya, sangat memberi inspirasi.
Di bulan Ramadhan sebelum lebaran, tarif Kereta/Pesawat ke daerah tujuan tertentu biasanya turun ke tarif termurah sehingga lebih menggoda untuk traveling.

Terimakasih. Nah, saatnya jalan2 deh. Tapi traveling pas lebaran di tempat orang banyak berlebaran bukannya rame ya? Kecuali kalau emang mencari keramean itu ya 🙂

11 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.