Pasar tradisional: mengulik secuil kebiasaan lokal

Penjual sayur ber-handphone di Pulau Karimun

Beberapa rekan seperjalanan yang pernah berbagi pagi tahu benar apa yang saya cari kala mata masih sepet: pasar.

Dalam dua-tiga jam di pagi hari, pasar tradisional mendenyutkan kehidupan dan mengungkap wajah asli tempat yang saya kunjungi. Di tempat ini, pembeli dan penjual bertukar kata, senyum, tawar menawar hingga (jika sukses) barang dan uang. Di sini pula berita tersebar, gosip terpoles dan kabar burung berembus; bikin ritual berdagang dan belanja lebih nikmat.

Beberapa pasar yang pernah saya kunjungi punya keunikan barang yang dijual, tempatnya, pembelinya hingga ritual sebelum berjual-beli.

Di Playen, Wonosari, sering dijumpai belalang goreng dan ulat jati sangrai, gurih dan renyah untuk teman sarapan nasi liwet.

Di Pasar Gambier, Kuching, ada mbak-mbak ber-high-heels sembilan senti yang gak risih belanja keluar masuk pasar yang becek (tapi gak pake ojek). Coba ajak ngobrol dijamin dia gak akan berhenti bicara, hihihi…

Di Pasar Gede, Solo, saya sibuk ngublek seisi pasar berburu pecel bumbu wijen yang terkenal itu dan ternyata si mbok-nya malah nongkrong di tepi jalan di luar pasar.

Di Chatuchak, Bangkok, saya sempat kehilangan room mate saya saking gede-nya itu pasar. Dengan niat cuma window shopping, akhirnya kita bagi-bagi area-nya supaya semua terjelajahi.

Di Tomohon, Sulawesi Utara, beberapa hewan yang tak pernah terbayang bisa dilihat di depan mata: kelelawar, anjing, babi hutan, kuda, biawak, tikus hutan bahkan belut segede paha.

Di Anarkali, Lahore, Pakistan pasar malam makanan terbesar di kota Lahore, ada kebiasaan memulai kegiatan dengan minum ramuan terbuat dari buah delima. Slurp…

Di Kings Cross, Sydney, plaza di depan air mancur-nya yang malam sebelumnya tempat dugem backpacker, Minggu paginya berubah jadi pasar loak. Pernah pagi-pagi saya bingung cari room mate di kamar hostel. Ternyata dia lagi menggelar barang dagangannya ’Buat modal jalan ke Cairns’.

Di Pasar Ubud – dan beberapa spot turis di Bali – udah gak kaget kan kalo turis lokal jadi warga kelas dua, jangankan ditawarin, ditanya pun sering dicuekin. Huh…

Terakhir, di Karimun Jawa beberapa pedagangnya asyik melayani pembeli lewat handphone, sampai-sampai ketika pengen beli dengan entengnya dijawab, “Maaf mas, sudah habis (terjual).”

Ada cerita unik seputar pasar tradisional yang pernah dikunjungi? Silakan di-share, siapa tahu bisa jadi tujuan perburuan saya dan teman-teman berhobi sama di trip selanjutnya

kalo saya suka pasar sukawati Bali mas…selain harganya murah banget banget banget..penjualnya juga ramah2 walo kadang agak maksa 😀

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Life
Redefining Heritage, Rethinking Legacy

“What would people think and say about you at your funeral? What would be your legacy?”

Society
Do You – Really – Live Your Life as A Local?

When we embrace this kind of ‘local’, it doesn’t matter what accent people speak, as long as they communicate seamlessly. It doesn’t matter who eats what for lunch, as long as they can share their dining table. It doesn’t matter who enters or leaves, as long as the community maintains, shapes and keeps redefining their locals.

Society
Fishes Know No Politics or Religions

Somehow, I didn’t care about the menu mistakes, the #meh coffee and all the tiring talks about religions and politics in this trip, but that LOL with a stranger perfectly ended my trip to Kei Islands.