Untuk semua teman dan calon teman perjalanan saya

Salah satu tujuan saya jalan-jalan, nge-trip, backpacking atau apapun namanya adalah untuk tambah kenalan, teman bahkan saudara. Kenalan dan teman bisa didapat dari orang yang kita temui di tempat tujuan. Selain itu tentu saja trip buddies.

Saya suka jalan-jalan sendiri. Saya juga senang nge-trip bareng-bareng. Nggak usah diobrolin lagi karena sudah terlalu sering didiskusiin. Tiap orang punya preferensi masing-masing. Kalau saya, tujuan dari trip itu yang akhirnya bikin saya pilih jalan sendiri atau bareng-bareng.

Sewaktu extend business trip ke Pakistan, saya “kabur” sendiri ke Peshawar bahkan “tersesat” hingga ke Kabul, Afghanistan. Sendirian. Seru dan berdebar-debar. Tapi saya menyesal sekali tidak ada teman yang bisa berbagi serunya ditahan di perbatasan atau ngelihat “karpet” orang Pashtun di Peshawar.

Kadang kita nggak menyangka ketika bertemu teman perjalanan. Dalam perjalanan menuju Ende, Nusa Tenggara Timur saya dapat teman jalan, dua orang backpacker Jerman yang baru lulus kuliah. Mereka menyenangkan. Tapi akhirnya saya sedikit menyesal karena kami tidak bikin aturan main yang tegas hingga mereka jadi over-dependant ke saya. Tau gitu kan saya bisa charge biaya pemandu.

Beda lagi sewaktu di Sydney. Di kota itu saya sekamar bareng dengan tujuh backpacker dari seluruh dunia. Awalnya saya malu-malu bahkan takut dengan kelakuan mereka yang “aneh-aneh” selama nginep di Pink House, Kings Cross. Tapi ternyata mereka sungguh menyenangkan kalau sedang jalan. Empat hari di Sydney nggak terasa hingga akhirnya mereka bikin farewell untuk saya di pantai Bondi. Beli makan-minum sendiri-sendiri sih. Tapi tetap aja asyik.

Nggak sedikit teman perjalanan yang jadi teman baik bahkan di luar urusan jalan-jalan. Banyak yang jadi teman ngobrol bahkan beberapa ngebantu urusan pekerjaan. Bahkan beberapa teman yang baru ketemu di milist jalan-jalan pun udah jadi teman ngobrol cukup serius.

Entah kenapa, ada rasa yang beda ketika ketemu dan ngobrol sama pehobi jalan-jalan. Pengalaman, cerita dan pengetahuan mereka yang bikin saya ingin dan ingin lagi bertemu orang lain di tempat lain di luar sana.

Semalam saya kepikiran ingin ngasih sesuatu ke mereka, teman-teman perjalanan dan calon teman perjalanan yang udah bikin perjalanan saya jadi jauh lebih berwarna. Nggak usah muluk-muluk. Pastinya berguna. Kalau bisa bahkan dikerjakan sama-sama.

Kira-kira apa ya?

Jalan Bebas @ Sindang Barang, Mei 2009
1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.