Travelling makes you a better communicator? Negotiator? Or simply a better you?

Seorang teman menanyakan tips agar dapat sambutan yang hangat ketika bertemu, ngobrol dan berinteraksi langsung dengan penduduk. Saya butuh satu hari untuk menjawab. Faktanya, saya tidak punya tips yang ia maksud, apalagi kalau maksudnya sampai bisa menginap di rumah penduduk.

Di hampir tiap tempat yang saya kunjungi selama perjalanan di NTT, saya berusaha mengunjungi kampung tradisional atau desa penenun. Tujuannya tentu saja agar dapat gambaran kehidupan sehari-hari penduduk setempat dengan mata sendiri.

Kadang interaksi seharian dirasa tidak cukup hingga saya harus menghabiskan malam di tempat mereka. Di beberapa tempat, saya sudah mengenal tuan rumah, entah karena pernah bertemu atau dikenalkan oleh orang lain. Di lebih banyak tempat, mereka lah yang menawarkan saya menginap di rumah mereka.

Sebelum melakukan apapun, sebisa mungkin saya berkenalan dengan seluruh penghuni rumah. Untuk memudahkan, saya sering menggunakan kaus bertulis nama saya besar-besar. Cukup efektif. Orang biasanya langsung ingat nama saya. Sayangnya, orang yang saya temui jarang sekali memperkenalkan nama kecuali ditanya. Jadi, jangan sungkan menanyakan nama daripada salah panggil.

Selama menginap, sebisa mungkin saya tidak diam. Karena terbiasa bangun jam 5 pagi, saya biasa pergi ke luar rumah, mencari sunrise. Kadang penghuni rumah belum bangun, jadi kalau masih ngantuk saya tidur lagi, dengan meninggalkan “tanda” kalau saya sudah bangun.

Sepanjang hari, saya berinteraksi dengan sebanyak mungkin anggota rumah. Pergi ke sawah atau kebun dengan para lelaki. Nguplek di dapur dengan ibu-ibu. Nongkrong di pinggir jalan atau di pinggir pantai dengan anak-anak muda. Bahkan sibuk menggulung benang dan ngobrol ngalor ngidul dengan nenek-nenek, sambil ngunyah sirih tentunya.

Seluruh orang-orang di NTT yang saya temui ramah. Mereka senang bertemu dengan teman baru. Kadang, tamu diperlakukan lebih mulia dibanding anggota keluarga lain. Makan didahulukan, kadang sampai potong hewan. Tidur di tempat paling bagus. Makanan kecil dan minuman sore selalu disiapkan. Dan seterusnya.

Sayangnya, tidak semua orang yang saya temui punya kesempatan berinteraksi banyak dengan orang luar. Jangan heran jika umumnya , walau kopi dan sirih pinang sudah terhidang, mereka cenderung diam ketika pertama bertemu. Jangankan bertanya, menjawab pun kadang seperlunya. Bukan karena sombong, tapi lebih karena belum terbiasa. Ini saya rasakan sekali ketika ke kampung tradisional atau desa yang tidak ada di buku panduan perjalanan. Saya harus aktif bertanya dan menggali, mengajak mereka untuk berbicara dan mendekatkan jarak di antara kami.

Satu hal yang saya usahakan adalah agar tidak ber-opini. Walau sering melihat hal yang tidak sesuai prinsip, saya tidak akan menyampaikannya – apalagi sampai ngotot – secara frontal. Bahkan untuk merespon tradisi yang jelas-jelas tidak produktif pun, sebisa mungkin saya tidak bertanya, “Kenapa begitu ya?”

Saya pikir, orang-orang ini sudah hidup dengan kebiasaan mereka ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Saya hanya seorang pengelana; bukan utusan agama atau kepercayaan tertentu dengan misi “meluruskan” orang-orang yang sesat, begitu pikir saya. Lagipula, di beberapa tempat saya mendapati mereka sendiri yang “mengeluh” tentang tradisi yang kurang cocok dengan kehidupan sekarang. Jika mereka menanyakan solusi, saya baru menjawab. Jika tidak, paling saya hanya tersenyum datar.

Satu hal yang juga saya hindari ketika berinteraksi tapi hampir tidak pernah berhasil adalah membandingkan. Apalagi jika saya tidak menemukan respon yang pas. “Oh begitu, kalau di tempat anu namanya ini, dan fungsinya kurang lebih sama dengan itu,” begitu biasanya saya membandingkan. Maksudnya baik, untuk menginformasikan kalau (tradisi) mereka tidak sendirian, ada kelompok masyarakat lain dengan tradisi yang kurang lebih sama. Tapi setelah saya pikir-pikir, jika penyampaiannya kurang tepat, membanding-bandingkan bisa membunuh pembicaraan (conversation killer), apalagi jika teman bicara belum mengenal kita dengan baik.

Ketika berinteraksi, sebisa mungkin saya ikut mengerjakan apa yang mereka kerjakan, dengan seijin mereka tentunya. Tidak semua hal yang saya temui dan lakukan menarik pada mulanya. Jadi, kadang saya membesarkan hati dan pasrah saja. “Oh, mungkin oseng-oseng labu di sini beda cara buatnya,” atau “Bisa jadi pertemuan desa kali ini ngobrolin hal lebih produktif.”

Seperti halnya makan bersama, jika makanannya kurang menarik, bisa jadi teman makannya atau tempat makannya atau bahkan efek setelah makan yang membuatnya menarik. Pun halnya dengan seluruh kegiatan yang saya lakukan dengan penduduk.

Di Larantuka, saya rajin menyatroni dapur ibu tuan rumah saya. Bukan untuk mencari makan, tapi untuk ngobrol dengannya. Kebetulan saya sering mendengarnya nyanyi sembari masak atau menjemur pakaian. Suaranya bagus. Ia senang sekali ngobrol tentang paduan suara gereja yang ia ikuti di Larantuka. Keesokan paginya, ia menawarkan saya ikut ke pasar dan melihat langsung jagung titi dan pucuk daun labu yang lezat itu..

Di Bajawa, saya asyik diskusi tentang dan mencoba sendiri ATBM (alat tenun bukan mesin) yang baru dikembangkan oleh tuan rumah saya. Akhirnya saya mendapati ada tiga ATBM lain yang masih menganggur. Saya berinisiatif membantu merevisi proposal yang ia ajukan untuk mendapatkan dana dari BPMD (Badan Pemberdayaan Masayarakat Desa) agar lebih terlihat lebih “menggigit”.

Di Riung, sembari menunggu truk yang berangkat dini hari, saya numpang tidur di rumah supir truk yang justru pergi keluar. Ia malah menyilahkan saya ngobrol dengan keluarganya yang lebih tidak saya kenal. Kebetulan keluarga ini berasal dari Sinjai, saya pikir nggak beda-beda jauh dari Makassar dan Bulukumba, dua tempat yang pernah saya kunjungi di Sulawesi Selatan. Akhirnya saya malah nyemplung ke dapur nyonya rumah untuk belajar bumbu ikan bakar dan ngobrol ngalor-ngidul dengan ayah pemilik truk tentang pembuatan pinisi.

Di Sumba Barat, tuan rumah saya yang petani tulen sedang asyik-asyiknya menggarap sawah. Saya yang memang sudah niat “nyemplung” ke sawah, asyik bertanya segala hal, mulai dari harga pupuk sampai mesin traktor yang sudah beberapa bulan teronggok di belakang rumah karena dynamo-nya rusak. Sayang, saya mesti langgar (menyeberang) kali, hingga akhirnya saya putuskan tidak jadi ke sawah.

Di Sumba Timur, tuan rumah saya sedang merintis jadi pengusaha otomotif. Tahu apa saya tentang otomotif. Tapi kok ya saya bisa saja meladeninya membanding-bandingkan ongkos sewa mobil di beberapa tempat hingga akhirnya ia bisa menentukan ongkos sewa untuk calon mobil sewaannya.

Di Rote, tuan rumah saya, penyadap lontar, tadinya menganggap saya tak lebih dari turis yang ingin tahu dan foto-foto. Ia sempat terkejut ketika saya bilang saya ingin juga panjat pohon lontar, mengiris bunganya dan membawanya turun dengan haik. “Nanti jatuh,” begitu katanya. “Makanya, ajarin dong pak!” kata saya. Tak pelak, suami istri ini tersenyum geli melihat saya mencoba naik dan merosot hingga sepuluh kali. Malamnya, ia mengaku senang ada yang mau belajar sadap lontar padahal anak muda di kampungnya saja sudah tidak mau.

Di Belu, tuan rumah saya, bapak Kepala Desa, sempat mengerahkan keluargnya untuk mengambil air mandi saya. Saya sempat bingung, kenapa air cuma untuk saya? Yang lain mandi di mana? Ternyata, warga desa, termasuk bapak Kepala Desa, mandi di mata air dekat sawah. Saya pun minta ikut mandi di sana. Bapak Kepala Desa sempat ragu hingga akhirnya ia terpaksa “mensterilkan” mata air dari penduduk desa yang lain ketika saya mandi. Karena rasanya aneh mandi sendiri, saya teriak dan minta agar yang lain diijinkan mandi bareng. “Tidak apa-apa?” Tanya bapak Kepala Desa ragu. “Saya malah takut mandi sendiri,” jawab saya polos. Justru karena beberapa hari berikutnya saya mandi dengan warga lain, saya bisa kenal mereka. Dan hingga hari ini bapak Kepala Desa masih terheran-heran saya bisa janjian dengan warga di seberang jembatan untuk cuci baju di kali.

Untuk seluruh kebaikan yang tulus itu, tuan rumah saya tidak pernah menunjukkan pamrih. “Orang sini (NTT) tidak suka kalau ada teman atau keluarga yang berkunjung malah tinggal di hotel. Makin banyak orang di rumah makin banyak berkat untuk rumah,” kata tuan rumah saya di Larantuka.

Namun begitu, terlepas dari ucapan terimakasih, saya biasa mengusahakan bingkisan untuk tuan rumah. Entah buku dan alat tulis untuk anak-anaknya, sarung dari Jawa untuk ibu atau bapak tuan rumah, makanan kecil untuk seluruh anggota keluarga, hingga – walau saya tidak sarankan – uang secukupnya. Yang terakhir biasanya jika saya sudah bingung hendak memberi bingkisan apa.

***

Setelah mengulang rekaman memori perjalanan saya selama di NTT, akhirnya saya bisa menyimpulkan sebuah jawaban untuk pertanyaan teman baru saya itu.

Senyum. Sapa. Sopan. Mungkin itu jawabannya. Terbukti, selama di NTT, saya lebih kuatir naik kendaraan apa dibandingkan menginap di mana, bermodal tiga kata tadi.

Itulah sebabnya, setiap kali bertemu orang baru, saya percaya, orang ini adalah teman yang bisa jadi menoreh kebaikan dalam lembar perjalanan saya. Dan untuk setiap orang yang baik, senyuman tulus, sapaan hangat dan tingkah laku sopan rasanya tidak pernah terlalu mahal untuk diberikan.

yep, aku percaya krn jd saksi di bbrp tempat khususnya sebagian di sumba barat (wanokaka) n sumba timur (kaliuda), entah dg tampang yg dipolos2kan itu (nyontek opini bapak2 yg di alor: “krn adik gak banyak maunya” jd lumba2 banyak yg nongol…ehemmm :p) atau krn ceriwisnya (pokoke nemuuuu aja kata2 sbg icebreaker kl udah mentog)…jadi deh orang2 NTT yg pada dasarnya bageur (ceu urang sunda mah) pada “meleleh” hatinya utk menyambutnya…:)) 😛

Wow!,
Perjalanan ke NTT anda sangat amat bikin saya iri.
Pernah saya (hanya) 2 hari muter-muter Kupang-Soe-Boti, dan walau hanya sebentar tapi kesannya sangat mendalam terutama keramahan penduduk nya, hal tsb membuat saya ingin kembali ke NTT lagi. Terima kasih ya, postingan anda menginspirasi ^^, saya berharap bisa punya pengalaman seperti perjalanan anda ini.

Salam,

halo. terimakasih buat komplimennya. saya senang bisa menginspirasi. mdh2an kita punya kesempatan untuk eksplor Indonesia lebih jauh ya.

oya, walau tidak berbahasa Indonesia, Usif Nama Benu baik banget ya? Semua org di Boti emang baik. Kangen nginep di sana…

saya juga termasuk dalam barisan orang yang iri..belum pernah ke NTT walaupun sudah termasuk dalam salah satu destinasi yang harus dikunjungi..

senyum.sapa.sopan.. setuju sekali!

salam kenal,
@Oddie__

good ndro….
gw suka tulisan lu, menginspirasikan sekali.
bener banget yg lu bilang, org2 timur itu ramah ramah banget, dan gw dah buktikan ndiri. kita bahkan dilayani lebih dari raja klo kita bisa dapatkan hati mereka.
trus menulis ndro…gw nyusul dibelakang hehehe….

Jaya, trims…
Pasti pengalaman dirimu lebih dahsyat. Di-share atuh…

btw, kalo nyusul bukan di belakang, dari belakang hehehe… gak usah susul2an ah, jalan bareng ajah 🙂

hebat ndro bikin g kangen untuk pulang kampung ..tapi kita( gw ) juga tidak boleh sembarang untuk memastikan untuk pulang ke lewotana jadi bilangnya ..nanti kalo ada rejeki baru kesana…tapi tulisan elo bikin g sedih..karena inget kampung g …walaupun g lahir besar disini…dan g salut sma elo masih mau naik pohon lontar…setengah mati itu naiknya ndro…pengen sekali g bangun daerah g ndro tapi g sendiri binggung mau mulai dari mana..?….elo tau sendiri ndro orang pemerintah di jakarta sama di daerah sama aja….

Wow, keren, saya kagum membaca tulisan Anda. Salam kenal ndro. Terus menulis ya! Saya akan menyempatkan diri untuk mampir di blog ini disaat waktu luang. Best Regards.

14 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.